Angin lembut menerpa kerudung Alea, seakan menyambut kedatangan gadis itu di tempat yang telah lama ia tinggalkan.
Tatapannya kembali tertuju pada bangunan masjid di hadapannya.
Setelah keluar dari mobil, Masjid Agung Sunda Kelapa terlihat semakin jelas. Bangunannya tampak berbeda dari kebanyakan masjid yang pernah Alea lihat. Tidak ada kubah yang menjulang. Atapnya justru memiliki bentuk menyerupai perahu, dengan desain minimalis dan modern yang berpadu dengan pepohonan di sekitarnya.
Suasana di kawasan masjid itu terasa teduh dan nyaman.
Alea memejamkan mata sejenak. Untuk beberapa saat, ia hanya menikmati hembusan angin yang menyentuh wajahnya. Ada ketenangan yang perlahan hadir ketika ia berdiri di tempat itu.
“Al, ayo... kita makan dulu.”
Panggilan Humaira membuyarkan lamunan Alea.
Alea menatapnya dan tersenyum, lalu segera menghampirinya.
Mereka berjalan menuju Cafe Agreya Coffee. Namun, langkah Alea melambat. Matanya menyusuri kawasan masjid yang cukup ramai. Beberapa pedagang kaki lima terlihat menjajakan dagangan di sekitar area tersebut, sementara pepohonan rindang menaungi sebagian halaman.
“Ternyata ada tempat yang keren kayak gini, ya, Humaira.”
“Tentu saja, Al...” Humaira tertawa kecil. “Kalau suntuk, bosan, atau lagi pengen mendinginkan pikiran, aku sama Kakak selalu ke sini.”
“Gue... belum pernah ke sini.”
“Kenapa?”
Alea menghentikan langkahnya. Ia menunduk, menatap kosong ke arah lantai yang terbuat dari paving block.
“Karena gue sebenarnya bukan dari Jakarta. Gue asli Jogja.”
Humaira sedikit terkejut mendengar pengakuan Alea.
“Aku kira kamu asli sini. Logatmu enggak kayak orang Jogja.”
“Bunda orang Jakarta, tapi Ayah orang Jogja. Gue lahir di Jogja.”
“Owwh...” Humaira mengangguk-angguk. “Tadi di mobil, kamu juga sempat bilang terakhir ke masjid dua tahun yang lalu. Kenapa begitu, Al?”
Alea terdiam sejenak. Jemarinya saling bertaut, sementara keraguan untuk mengungkapkan kisah tentang kedua orang tuanya kembali muncul.
Humaira memperhatikan Alea yang tampak bimbang.
“Tidak usah dipaksakan untuk bercerita kalau kamu belum siap, Al...”
Alea tertegun.
“Yuk, kita lanjut jalan.”
Humaira berbalik dan hendak melanjutkan langkah. Namun, suara Alea membuatnya berhenti.
“Karena... Ayah dan Bunda telah tiada,” ucap Alea tercekat.
Humaira kembali menatapnya. Tatapannya seketika berubah, menyiratkan rasa duka yang mendalam.
“Ma... maafkan aku, Alea. Aku enggak tahu kalau...”
“Enggak apa-apa, Humaira. Gue juga yang enggak pernah cerita ke siapa pun, bahkan ke sahabat-sahabat gue di kampus.”
Alea tersenyum. Ada sedikit rasa lega setelah akhirnya ia mengakui kebenaran tentang kedua orang tuanya kepada Humaira.
Mereka pun kembali melanjutkan langkah menuju kafe.
Sekali lagi, Alea dibuat kagum dengan suasana di kawasan Masjid Agung Sunda Kelapa. Ia baru menyadari bahwa di salah satu sudut kawasan tersebut terdapat sebuah kafe dengan bangunan yang sederhana dan nyaman.
Mata Alea menyusuri bagian luar kafe itu.
Bangunannya bergaya modern dengan garis-garis sederhana dan dinding kaca yang membuat bagian dalamnya terlihat jelas dari luar. Sentuhan warna kayu pada interiornya memberikan kesan hangat di tengah suasana kawasan masjid yang teduh.
“Yuk, masuk, Al...”
Alea mengangguk.