Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #22

Tergetarnya Hati dan Kejujuran

“Alhamdulillah, sudah kenyang.” Humaira memegang perutnya.

Alea hanya melirik sekilas. Rasa malu masih tersisa di wajahnya setelah Humaira memergokinya mencuri pandang ke arah Hamzah.

“Kita jalan ke masjid, yuk, Alea...”

Alea mengangguk.

Mereka pun bangkit dari kursi. Masing-masing menyelempangkan tas di pundak.

Humaira melangkah lebih dahulu, sementara Alea mengikutinya.

“Ayo, Al... udah enggak usah salah tingkah begitu.” Humaira tersenyum jahil.

“Humaira, iiih...”

Humaira tertawa melihat tingkah Alea. Wajah gadis itu semakin merona. Ia benar-benar dibuat malu oleh sahabatnya sendiri.

“Humaira, enggak bayar dulu?” tanya Alea polos.

“Udah dibayar Kakak. Tenang saja.”

Alea mengangguk-angguk.

Begitu keluar dari kafe, Alea dan Humaira kembali disambut sinar matahari yang cerah. Mereka kemudian berjalan menuju masjid.

Mereka hanya perlu berjalan sebentar melewati halaman yang teduh sebelum bangunan Masjid Agung Sunda Kelapa kembali tampak di hadapan mereka.

Masjid dengan atap menyerupai perahu itu berdiri tenang di tengah kawasan yang rindang.

“Yuk, masuk, Al.”

Alea membisu. Dadanya terasa sesak oleh gejolak yang sulit ia pahami. Ia tak sanggup melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam masjid itu.

“Gue, merasa...”

Belum selesai Alea berkata, Humaira menghampirinya, lalu menggenggam tangan Alea dengan lembut.

“Bismillahirrahmanirrahim, Allahummaftah lii abwaaba rahmatik,” ucap Humaira sembari menuntun Alea agar tidak ragu melangkah masuk.

Alea menggerakkan kakinya perlahan.

Langkahnya terasa berat. Matanya mulai berkaca-kaca, berusaha menahan air mata yang sejak tadi memenuhi pelupuknya.

Namun, di tengah kegelisahan yang memenuhi dirinya, ada sesuatu yang perlahan ia rasakan.

Ketenangan.

Sesuatu yang selama ini begitu ia rindukan, tetapi tak pernah lagi ia temukan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alea merasa seolah-olah masjid itu sedang memberikan pelukan hangat kepadanya.

“Alea, kalau mau menangis, menangis saja.” Humaira menyentuh pundak Alea. “Kita duduk di sudut sini saja, agar kamu lebih leluasa meluapkan perasaanmu.”

Alea pun menangis.

Semua beban yang selama ini ia pendam, luka yang ia simpan bertahun-tahun, tumpah bersama air mata. Seolah-olah untuk pertama kalinya ia memiliki tempat untuk mengadu kepada Tuhan atas segala hal yang menimpa dirinya.

Sementara itu, Humaira hanya duduk diam di sampingnya. Ia menggenggam erat tangan Alea dan menepuk punggungnya perlahan.

“Maafkan gue, Humaira... harus seperti ini.”

“Enggak apa-apa, Alea.”

Humaira mengambil tisu dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Alea.

“Gue merasa enggak pantas masuk ke dalam sini. Gue... perempuan kotor.”

Humaira menghela napas. Tatapannya tetap lembut kepada Alea.

“Semua yang kotor bisa disucikan kembali, Alea.”

Sekali lagi, Alea tertegun mendengar kalimat yang keluar dari bibir Humaira.

“Allah tidak pernah menilai hamba-hamba-Nya itu kotor. Sebesar apa pun dosa yang dilakukan hamba-Nya, Allah selalu membukakan pintu maaf.”

Air mata Alea kembali berderai. Tangisnya pecah menjadi isak yang semakin dalam.

Humaira kembali menepuk punggung gadis itu perlahan.

“Menangislah, Alea...”

Humaira kembali memberikan waktu kepada Alea untuk menenangkan dirinya.

Sesekali ia melirik jam tangan. Waktu menunjukkan pukul 11.05, tak lama lagi memasuki waktu Zuhur.

Alea mulai mengatur napasnya. Ia meminum air putih, kemudian menghapus sisa air mata di pipinya. Setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding.

“Alhamdulillah, sudah sedikit tenang, ya, Alea.”

“Selama ini... gue enggak pernah merasakan ketenangan, Humaira.” Alea mengusap hidungnya. “Tapi sekarang, gue merasakan sesuatu yang berbeda. Walaupun belum sepenuhnya.”

“Boleh tahu kenapa begitu?”

Alea menghela napas. Pandangannya terangkat ke langit biru yang cerah, seolah memberikan sedikit semangat kepadanya.

“Gue selalu menghabiskan waktu di klub, mabuk, dan...” Alea tercekat.

Lihat selengkapnya