Suara takbir mengawali salat.
Seluruh tubuh Alea terasa terguncang. Rasa sesak di dadanya kembali hadir, bukan karena ia menahan luka atau kecewa, tetapi karena ada perasaan yang sulit ia gambarkan.
Surah Al-Fatihah dari imam terdengar merdu dan syahdu.
Air mata Alea kembali menetes.
Iman itu perlahan kembali hadir dalam dirinya. Cahaya itu menyeruak di setiap sudut hatinya. Ia kembali mengingat nama Sang Maha Penyayang.
Hati Alea berdesir hebat, hingga air matanya jatuh dalam sujud dan doanya.
Beberapa menit kemudian, salat telah usai.
Namun, Alea masih tenggelam dalam sujud terakhirnya. Bahunya bergetar pelan, sementara air mata terus mengalir membasahi mukenanya.
Melihat keadaan Alea, Humaira memeluk sahabat yang baru dikenalnya itu dengan lembut. Ia membantu Alea bangkit dari sujud, lalu membimbingnya menyelesaikan tahiyat akhir.
Setelah itu, Humaira mengajak Alea duduk di salah satu sudut masjid yang tenang. Mereka masih mengenakan mukena milik masjid.
“Alea, minumlah dulu...” ujar Humaira sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Dengan tangan yang masih bergetar, Alea mengambil botol itu.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, Alea memandang langit-langit Masjid Agung Sunda Kelapa. Angannya kembali pada wajah kedua orang tuanya.
“Gue benci sama diri gue dan hidup gue, Humaira...” ucapnya lirih.
Humaira menyandarkan tubuhnya pada dinding masjid. Ia tidak langsung menjawab.
Ia membiarkan Alea memiliki waktu untuk mengungkapkan apa yang selama ini tersimpan di dalam hatinya.
“Mengapa Alea membenci diri sendiri dan hidup?”
Alea terdiam sesaat. Ia menghapus air matanya dengan tisu.
“Karena ayah dan bunda pergi untuk selama-lamanya di saat gue masih butuh mereka.”
Napas Alea terasa berat. Dadanya kembali sesak ketika mengingat kedua orang tuanya.
“Dan... itu semua karena gue.”
Humaira melirik ke arah Alea yang bersandar di dinding masjid, dan pandangannya masih tertuju pada langit-langit masjid.
“Kenapa Alea merasa kematian orang tuamu itu kesalahanmu?”
Alea kembali membisu. Ia menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka kembali luka yang selama ini ia pendam.
Dengan suara bergetar, Alea mulai menceritakan kejadian yang menimpa kedua orang tuanya.
Ingatannya kembali pada kejadian dua tahun yang lalu, saat ia selesai menjalani peloncoan mahasiswa baru.
Sore itu, Alea menelepon kedua orang tuanya.
“Bunda, jadi ke Jakarta malam ini, kan? Alea udah kangen looh...”
“Sabar, sayang... Insya Allah jadi. Tunggu pekerjaan ayahmu di Jogja selesai.”
“Okeey, pokoknya malam ini harus ke Jakarta,” gerutu Alea.
“Anak Bunda manja sekali yaa... Udah jadi mahasiswi, loh. Kok masih manja?”
“Biarin. Pokoknya Alea akan menunggu Bunda sama Ayah sampai. Alea enggak akan tidur.”
“Tapi kalau Ayahmu capek, besok atau lusa ya kita ke Jakarta.”
“Enggak mau. Alea enggak mau lama-lama sendirian di rumah ini.”
“Kan ada Bik Minah, sayang...”
“Enggak. Alea akan tunggu malam ini. Bunda dan Ayah pulang ke Jakarta.”
Terdengar helaan napas panjang dari Bu Maryam di balik telepon.
“Ayah dan Bunda akan berangkat malam ini, Al...” Tiba-tiba suara Pak Rahmat terdengar.
“Demi anak Ayah, kita akan pulang malam ini. Tunggu ya...”
“Siaaap, Ayah... Alea akan tunggu.”