Waktu menunjukkan pukul 00.10 tengah malam.
Alea dan Bik Minah akhirnya tiba di RS HAMORI, Subang. Begitu mobil berhenti, Alea segera turun dan bergegas menuju lobi rumah sakit. Bik Minah menyusul di belakangnya.
Dengan wajah cemas, Alea segera menghampiri petugas yang berjaga untuk menanyakan keberadaan kedua orang tuanya.
“Maaf, Pak... pasien atas nama Pak Rahmat dan Bu Maryam pasien kecelakaan ada di mana?”
Petugas itu menunjukkan arah menuju UGD.
Tanpa membuang waktu, Alea segera berlari ke sana. Langkahnya semakin cepat, sementara Bik Minah berusaha menyusul di belakangnya.
Sesampainya di UGD, Alea mendapati pemandangan yang tak pernah ingin ia lihat.
“Pasien ini harus segera dibawa ke ruang operasi. Cepat, lakukan!” perintah salah satu dokter jaga.
Alea menghentikan langkahnya.
Di atas brankar, seorang laki-laki terbaring tak berdaya. Tubuhnya dipenuhi luka, sementara darah terlihat mengalir di beberapa bagian tubuhnya.
Alea mengenali wajah itu.
“Ayah...”
Suara lirih itu nyaris tak terdengar.
Pak Rahmat, ayah yang selalu menyambutnya dengan senyuman, kini terbaring tak berdaya di hadapannya.
Alea berdiri mematung. Matanya tak mampu berpaling dari tubuh ayahnya. Ia ingin menghampiri, ingin memanggilnya sekali lagi, tetapi tubuhnya seolah kehilangan tenaga.
“Ayah...” bisiknya dengan suara bergetar.
Ia menatap nanar tubuh ayahnya yang dibawa menuju ruang operasi. Alea masih terpaku, seolah belum mampu menerima apa yang baru saja dilihatnya.
Belum juga rasa syok itu mereda, suara dokter kembali mengagetkannya.
“Dokter, cepat!” teriak salah satu perawat. “Pasien satunya kehilangan kesadaran. Tanda-tanda vitalnya terus menurun!”
“Segera lakukan RJP!”
Alea menoleh ke arah pasien yang sedang ditangani.
Di atas brankar, seorang wanita paruh baya terbaring tak berdaya. Darah segar mengalir dari luka di kepalanya.
Alea pun mengenali wajah wanita itu.
“Bunda...” bisiknya lirih.
Jantung Alea berdegup kencang. Kedua kakinya terasa lemas hingga ia terduduk di lantai rumah sakit. Tubuhnya membeku, seolah tak lagi mampu digerakkan. Ia hanya bisa mematung, menatap Bundanya yang sedang berjuang di hadapan para tenaga medis.
Beberapa saat kemudian, salah satu dokter menghampiri Alea.
“Apakah kamu keluarga pasien?”
Alea mengangguk lemah.
“Saya anaknya...”
“Untuk saat ini, kondisi ibu kamu masih kritis. Kami sedang berusaha menstabilkan kondisinya. Tolong tetap tenang dan tunggu di luar.”
Air mata Alea berderai, bibirnya bergetar, tetapi tak ada sepatah kata pun yang mampu keluar.
Sementara itu, Bik Minah menghampiri Alea yang masih terpaku. Dengan lembut, ia membimbing gadis itu menuju kursi tunggu.
“Semua... semua karena Alea, Bik...” ucap Alea dengan suara bergetar.
“Non...” Bik Minah mengusap punggungnya, berusaha menenangkan.
“Kalau sampai terjadi sesuatu sama Ayah dan Bunda, Alea enggak akan pernah bisa memaafkan diri Alea sendiri,” lirihnya.
Tak lama kemudian, seorang dokter UGD menghampiri Alea.
Melihat dokter itu datang, Alea segera berdiri. Meski seluruh tubuhnya terasa lemas dan gemetaran, ia berusaha tetap tegak.
“Apakah Anda putri dari Pak Rahmat?”
“Betul, Dokter... bagaimana kondisi Ayah saya?”
Dokter itu terdiam sejenak, lalu menarik napas sebelum menyampaikan kabar yang begitu berat.
“Maafkan kami. Ayah Anda telah meninggal dunia pada pukul 00.23. Di dalam kami belum sempat melakukan tindakan operasi karena kondisi beliau tiba-tiba memburuk.”
Bagai petir yang menyambar, berita kematian Pak Rahmat membuat dunia Alea seolah berhenti sesaat.
“A... apa?”
“Kami sudah semaksimal mungkin menolong Ayah Anda. Namun, luka dalam dan luka di tubuhnya begitu parah. Beliau tidak mampu bertahan.”
“Ti... tidak. Itu tidak mungkin.” Alea menutup kedua telinganya. Tatapannya kosong, seolah menolak mendengar kenyataan yang baru saja disampaikan kepadanya.
“Maafkan kami...” ucap dokter itu sekali lagi sebelum meninggalkan Alea yang masih terpaku.
Alea berjalan sempoyongan menghampiri tubuh Pak Rahmat yang baru saja keluar dari ruang operasi, dan hendak di bawa ke ruang jenazah.
Alea menatap tubuh ayahnya yang telah terbujur kaku dan tertutup kain putih.
Dengan tangan gemetar, perlahan Alea membuka kain putih itu.
Ia menatap wajah Ayahnya yang pucat, dengan luka yang masih terlihat di beberapa bagian wajahnya.
“Ayah...”
“Tidak... Ayah, ini Alea.” Suara Alea terdengar lirih dan bergetar. “Ayah, tolong bangun...”
Tangannya perlahan menyentuh pipi Pak Rahmat yang terasa dingin.
“Ayah... Alea datang. Alea di sini, Ayah.”
Tak ada jawaban.
Alea menggeleng berkali-kali. Air matanya kembali mengalir, membasahi kedua pipinya.
“Ayah, jangan tinggalin Alea...”
Bik Minah yang sedari tadi menangis segera menggenggam lengan Alea. Ia berusaha menopang tubuh gadis itu yang mulai kehilangan keseimbangan.
“Non... yang sabar, Non.” ucap Bik Minah dengan suara bergetar.