Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #25

Menerima dan Melepaskan

“Al, aku enggak akan meminta kamu untuk melepaskan semuanya saat ini juga. Pelan-pelan saja ... aku bantu.”

Alea menatap Humaira dalam-dalam. Ada rasa hangat yang perlahan tumbuh di hatinya, meski luka yang selama ini ia pendam belum sepenuhnya mereda.

“Terima kasih, Humaira ... elo baik sama gue.”

Humaira tersenyum lembut. “Sama-sama, Al. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai sesama muslim.”

Alea menghela napas panjang. Dadanya masih terasa berat ketika mengingat kedua orang tuanya. Namun, untuk sesaat, ia tak lagi merasa harus menanggung semuanya sendirian.

Kini napasnya terasa sedikit lebih lega. Rasa lelah yang sejak tadi membebani dirinya perlahan mereda, meski belum sepenuhnya hilang.

“Gue pengen berwudhu lagi, Humaira.”

“Okeey ... aku temani.”

Alea dan Humaira melepas mukena, lalu melipatnya dengan rapi.

Mereka kembali ke ruang wudhu.

Aliran air menyentuh bagian-bagian tubuh Alea. Dingin air itu seolah membawa pergi sedikit demi sedikit beban dan kekecewaan yang selama ini melekat dalam dirinya.

Ayah ... Bunda, Alea akan mencoba bahagia. Alea juga akan mencoba menjadi lebih baik.

Gumam Alea dalam hati.

Saat air wudhu menyentuh kakinya untuk terakhir kali, Alea terdiam sejenak.

Mungkin, semua yang telah terjadi tidak akan bisa ia lupakan begitu saja. Namun, kali ini ia ingin mencoba melangkah. Perlahan, meski ia sendiri belum tahu seberapa kuat dirinya untuk menjalani semuanya.

Setelah berwudhu, kedua gadis itu berjalan keluar.

Langit biru kembali menyapa mereka. Pandangan Alea tertuju pada gumpalan awan yang berjajar di atas sana. Entah mengapa, pemandangan itu membuat hatinya terasa sedikit lebih tenang.

“Ayah ... Bunda, maafkan Alea.”

Alea menghela napas panjang. Matanya kembali berkaca-kaca.

“Alea akan berusaha mengikhlaskan kalian pergi ...” ucapnya lirih.

Air mata perlahan jatuh di pipinya. Bukan karena luka itu telah hilang, melainkan karena setelah sekian lama, Alea berani mengatakan bahwa ia ingin belajar menerima kepergian kedua orang tuanya.

Humaira menggenggam tangan Alea, memberikan senyuman hangat untuknya.

“Sekarang mau pulang, Al?”

Alea mengangguk cepat. “Gue pengen memeluk Bik Minah. Dia selalu memberikan kasih sayangnya ke gue ...”

“Itulah salah satu bentuk cinta Allah kepadamu, Al.”

Alea menatap Humaira lekat. Ucapan itu kembali mengusik hatinya. Selama ini, ia terlalu sibuk menyalahkan dirinya sendiri sampai lupa bahwa masih ada orang-orang yang menyayanginya.

“Teman-teman kampus kamu yang selalu berada di sampingmu pun merupakan salah satu bentuk cinta Allah kepadamu.”

Alea mengangguk pelan. Matanya kembali berkaca-kaca. Ia belum sepenuhnya memahami semua yang dikatakan Humaira, tetapi sedikit demi sedikit, hatinya mulai terbuka untuk mempercayainya.

“Udah, Al ... jangan menangis lagi. Tersenyumlah. Bahagialah, okeey ...”

Alea segera mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Namun, bukannya menjauh, ia justru melangkah mendekat dan memeluk Humaira erat.

“Elo juga, Humaira ... salah satu bentuk cinta Allah kepada gue, kan? Karena elo hadir di hidup gue saat gue sedang berada di titik terendah.”

“Termasuk Kak Hamzah, ya ...”

Mendengar ucapan Humaira, Alea langsung melepaskan pelukannya.

Wajahnya seketika merona.

“Humaira ... mulai jahil lagi, deh!” protes Alea kesal.

Humaira hanya terkekeh melihat wajah Alea.

“Maaf ... maaf. Yuk, pulang. Aku chat Kak Hamzah dulu, ya.”

Alea mengangguk.

Matanya tertuju pada pedagang kaki lima yang berjajar menunggu pembeli.

“Yuk, Al. Kita disuruh tunggu di mobil sebentar.”

“Okeey ...”

Mereka pun berjalan kembali menuju mobil.

Terik matahari cukup menyengat siang itu. Jam di ponsel Alea menunjukkan pukul 13.30.

Meskipun begitu, area masjid tetap ramai oleh pengunjung dan penjual keliling.

“Al ... maaf kalau aku lancang.”

“Kenapa, Humaira?”

Lihat selengkapnya