Waktu tak terasa berjalan begitu cepat. Humaira dan Alea terus berbagi cerita dan pengalaman hidup mereka.
Alea kagum melihat kecantikan Humaira saat melepas kerudungnya.
Begitu pula Humaira yang melihat perubahan Alea saat mulai belajar bagaimana mengenakan jilbab dengan baik.
Selama dua tahun, rumah itu terasa begitu redup. Kini, kehadiran Humaira sebagai teman pertama yang menginap di rumah tersebut seolah membawa sedikit cahaya di dalamnya.
“Bagaimana perasaanmu, Alea... setelah melakukan salat Maghrib?”
“Jauh lebih baik, Humaira.”
“Alhamdulillah...”
“Oh, ya...” Alea segera keluar dari kamarnya.
Humaira yang menatap heran segera menyusul Alea.
Alea pergi menemui Bik Minah yang baru saja selesai menunaikan salat Maghrib di kamarnya.
“Bik Minah, foto Alea bersama Ayah dan Bunda yuk kita pasang lagi di depan.”
Mata Bik Minah terlihat berbinar. Ia sama sekali tidak menyangka gadis yang ia asuh sejak kecil itu meminta agar foto keluarga mereka dipasang kembali.
Bik Minah tersenyum bahagia.
“Baik, Non Alea...”
“Tunggu yaa, Alea lepas mukena dulu.”
Alea bergegas kembali ke kamar.
Sementara itu, Humaira berdiri mematung melihat tingkah Alea yang berbeda dari sebelumnya. Ada keceriaan dan semangat yang mulai kembali terlihat dalam diri Alea.
“Non Humaira, jangan terkejut melihat tingkah Non Alea...”
Ucapan Bik Minah membuat Humaira tersentak. Ia menoleh ke arah wanita yang kini sudah berdiri di sampingnya.
“Itu sifat asli Non Alea, sebelum kejadian naas menimpa kedua orang tuanya.”
Air mata Bik Minah mulai menetes.
“Bibik sangat berterima kasih kepada Non Humaira. Entah apa yang sudah Non lakukan kepada Non Alea, sampai akhirnya Non Alea bisa kembali menjadi dirinya sendiri.”
Humaira menatap Bik Minah dalam-dalam.
“Humaira tidak melakukan apa-apa, Bik...” ucapnya. “Humaira hanya memberikan jalan. Tapi yang menentukan tetap Alea sendiri. Apakah jalan yang Humaira berikan akan ia terima atau justru ia tolak.”
Bik Minah menghapus air matanya, lalu tersenyum.
“Bibik akan tetap mengucapkan terima kasih padamu, Non...”
“Sama-sama, Bik...”
“Hayooo... kalian lagi ngapain?” tanya Alea tiba-tiba. Ia sudah berdiri di antara mereka.
Bik Minah dan Humaira tampak kaget dan sedikit kikuk.
“Ayo, Non Alea... kita pasang fotonya.”
“Okeey, yuk...”
“Humaira bantu, yaa...”
“Non Alea dan Non Humaira naik ke sofa, ya. Bibik lihat dari sini, posisinya sudah pas atau belum.”
“Okeey, let’s go!” teriak Alea bersemangat.
Humaira terkekeh melihat tingkah Alea yang benar-benar jauh berbeda dari Alea yang selama ini ia kenal.
Beberapa menit kemudian, foto Alea di antara kedua orang tuanya kembali terpasang.
Alea menatap foto itu dalam-dalam. Tangannya terangkat, menyentuh kaca bingkai foto itu, tepat di wajah Bunda dan Ayahnya.