“Siapa perempuan udik ini?” tanya Reno tajam. “Elo enggak usah ikut campur urusan gue sama Alea.”
“Humaira, kembalilah ke kamar...” pinta Alea.
“Aku enggak akan kembali, Al... sebelum laki-laki itu pergi menjauh dari kamu.”
Reno tertawa terbahak-bahak. “Elo berteman sama perempuan enggak jelas kayak gitu, Al?”
“Elo yang enggak jelas! Elo yang udik!” Suara Alea semakin meninggi.
“Apa gara-gara perempuan itu elo berubah?” Reno menunjuk ke arah Humaira.
Alea menyeringai. “Walaupun enggak ada Humaira, gue tetap akan berubah, Reno. Gue enggak akan kembali sama elo.”
Alea kembali melontarkan tatapan tajam ke arah Reno.
“Elo emang enggak sadar diri, ya... siapa yang mau sama cowok macam elo? Yang suka ngerendahin cewek, mukul, dan picik.”
Mendengar ucapan Alea, wajah Reno seketika menegang. Amarahnya memuncak. Tanpa berpikir panjang, tangannya melayang keras ke pipi Alea.
Plak!
Tubuh Alea terhuyung hingga akhirnya terjatuh.
“Al!”
Humaira segera menghampiri Alea.
Begitu pula dengan Bik Minah yang berlari dari ruang tengah menuju teras rumah.
“Non Alea...” teriak Bik Minah panik. Ia segera berjongkok di samping Alea dan memegangi pipinya. “Den, tolong pergi dari sini! Jangan ganggu Non Alea.”
Alea bangkit dengan bantuan Humaira dan Bik Minah.
“Elo memang beraninya sama perempuan...” Suara Alea bergetar.
Reno kembali menyeringai. “Gue bisa menghancurkan siapa saja yang bikin gue kesal. Baik itu elo, bahkan sahabat gue sendiri, Saka...”
Alea mengernyit. Ia menatap Reno dengan tatapan penuh heran.
“Saka... maksud elo, Saka?”
“Ya...” Reno terkekeh. “Gue yang bikin Saka kecelakaan. Gue bikin rem mobilnya enggak berfungsi. Ternyata dia enggak mampus.”
Mata Alea membelalak. Napasnya memburu. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“RENOOO! Keterlaluan ya, elo!” teriak Alea, “Elo memang brengsek!”
Reno melangkah mendekati Alea. Namun, Humaira dan Bik Minah segera menarik Alea menjauh darinya.
“Dia yang brengsek, Al... Dia mau mengadukan masalah penyebaran foto elo ke Rektor dan polisi.” Tatapan Reno semakin tajam.
Alea menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan amarah yang memenuhi dadanya.
“Elo yang brengsek, Reno.”
Mata Alea mulai berkaca-kaca. Namun, ia segera menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Reno.
“Jika gue mau, gue pun akan melakukan hal yang sama seperti Saka, gue hanya males aja berurusan dengan orang arogan kayak elo.”
Nafas Alea semakin berat.
“Pergi dari sini, Reno. Gue udah enggak ada urusan lagi sama elo. Gue mau istirahat. Jangan pernah menginjakkan kaki elo di rumah gue lagi...”
“Sebaiknya Anda pergi dari sini. Alea ingin istirahat,” kata Humaira tegas.
“Berani elo ikut campur, perempuan udik!”
Tangan Reno terangkat, hendak melayangkan tamparan ke wajah Humaira. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh Humaira, sebuah tangan lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya.
“Kak Hamzah...”
Mata Humaira dan Alea berbinar. Keduanya tampak lega melihat Hamzah datang tepat waktu.
“Kamu laki-laki, tapi berani menyakiti perempuan...” ucap Hamzah tenang.
“Siapa lagi ini!” Reno menyentak tangannya agar terlepas dari cengkeraman Hamzah. “Gue enggak ada urusan sama elo!”
“Tapi elo ada urusan dengan gue, karena elo berani nyakitin perempuan-perempuan ini.”
Alea terkejut mendengar Hamzah berbicara menggunakan bahasa gaul. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki yang selama ini dikenalnya tenang dan santun itu mampu berbicara seperti itu.
Sementara Humaira hanya menyeringai puas, ia sering melihat sisi lain dari kakaknya itu.
“Oh...” Reno menyeringai. “Sekarang gue tahu. Ini pacar baru elo, Al? Udah tidur berapa kali elo sama dia?”
Tamparan keras dari Alea kembali mendarat di wajah Reno.
“Pergi dari sini... sekarang juga, atau gue akan telepon polisi!”