Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #28

Jalanku Tanpa Bayanganku

Seminggu telah berlalu. Alea dapat bernapas dengan lega. Tak ada lagi gangguan dari Reno. Bahkan, Alea telah memblokir nomor dan semua media sosial yang berhubungan dengan Reno.

Pelan-pelan, Alea mulai melangkah di jalan yang menuju tujuan hidupnya yang lebih baik.

Bayangan-bayangan kelam tentang dirinya sedikit demi sedikit mulai terhapus. Meskipun belum sepenuhnya hilang, Alea tidak lagi ingin terus hidup di dalam bayang-bayang masa lalu.

Sudah seminggu ini ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Humaira. Entah sekadar duduk di taman tempat mereka bertemu, berjalan-jalan, atau hanya berbincang kecil di rumah Alea.

Bagi Alea, hal-hal sederhana itu terasa begitu berarti. Ia mulai mengenal kehidupan yang selama ini mungkin tidak pernah ia sadari. Kehidupan yang jauh dari gemerlap klub malam, minuman keras, dan orang-orang yang hanya datang ketika ia sedang bersenang-senang.

Namun, bagi Alea, hal-hal sederhana itu terasa cukup untuk membuat dirinya memiliki kehidupan yang baru.

Hingga pada akhirnya, Siska memberi tahu Alea bahwa Saka akan berhenti kuliah. Saka akan pergi ke Singapura, meninggalkan Jakarta, meninggalkan mereka semua.

Mendengar kabar itu, Alea terdiam. Ia tidak menyangka Saka akan pergi sejauh itu. Bagaimanapun, Saka adalah salah satu orang yang selama ini selalu ada untuknya.

Alea pun mengusulkan untuk datang ke rumah Saka dan memberikan salam perpisahan untuknya.

“Tar malam gue jemput, ya, Al...” ucap Siska melalui telepon.

“Okeey, Siska...”

Sambungan telepon itu pun berakhir.

Alea menatap layar handphonenya. Ada keinginan untuk menghubungi Saka, tetapi ia tidak sanggup. Rasa bersalah kembali muncul di dalam hatinya. Ia merasa Saka mengalami kecelakaan gara-gara dirinya.

Jari Alea sempat bergerak di atas layar ponsel, hendak mencari nama Saka. Namun, ia mengurungkan niatnya.

Alea menghela napas. Ucapan Humaira kembali terngiang di kepalanya.

“Jangan selalu menyalahkan dirimu, Al...”

Ucapan itu kembali memberanikan dirinya untuk menghubungi Saka.

Jarinya menekan nama Saka di layar handphone. Beberapa detik kemudian, sambungan telepon pun terhubung.

“Saka... gue diberi tahu Siska kalau elo bakalan ke Singapura.”

“Iya, Alea... Gue harus ke Singapura untuk penyembuhan kaki gue. Sekalian, gue akan lanjut kuliah di sana.”

Alea terdiam. Helaan napasnya terdengar oleh Saka dari seberang telepon.

“Hallo, Al...”

“Tar malam kita main ke rumah elo, ya, Saka... Udah lama juga gue enggak ketemu elo.”

“Okey, Al... Gue tunggu.”

Sambungan telepon itu pun terputus.

Alea menaruh handphonenya di atas tempat tidur. Angannya berkelana, mengingat semua kebaikan Saka kepadanya.

Setiap kali Reno berbuat kasar kepadanya, Saka selalu ada untuk menemani. Setiap kali ia membutuhkan sesuatu, Saka pun siap membantunya. Bahkan ketika ia mabuk, Saka-lah yang menjaga dan mengantarkan dirinya pulang.

Begitu banyak kebaikan Saka yang selama ini mungkin dianggap biasa oleh Alea. Namun, sekarang ketika Saka akan pergi, ia baru menyadari betapa besar arti sahabat itu dalam hidupnya.

Tapi kali ini, sosok Saka akan benar-benar meninggalkan Jakarta.

Tak terasa air mata Alea menetes. Ia harus kehilangan salah satu sahabat terbaiknya.

***

Malam pun telah tiba. Siska, Arta, dan Tasya telah tiba di rumah Alea.

Mereka pun bergegas menuju rumah Saka.

Siska melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

“Akhir-akhir ini elo berubah, ya, Al...” ucap Tasya. “Elo sekarang udah enggak mau diajak ke klub, enggak minum, pakaian yang elo kenakan pun lebih tertutup.”

Alea tersenyum. “Gue ingin orang tua gue bahagia di sana,” jawab Alea singkat.

Mereka pun terdiam. Tak ada yang berani melanjutkan pembicaraan. Mereka semua sudah mengetahui kisah kedua orang tua Alea dari bibir Alea sendiri.

Bagi Alea, perubahan itu bukan hanya tentang meninggalkan klub malam atau berhenti minum. Ia juga mulai belajar membuka diri kepada orang-orang yang selama ini ada di sekitarnya.

Bahkan sekarang, Alea telah mengizinkan sahabat-sahabatnya masuk ke dalam rumahnya. Sesuatu yang sebelumnya jarang ia lakukan.

Lihat selengkapnya