Siang yang terik di hari minggu kota Jakarta, sorang gadis berambut sebahu mengendap-endap memasuki sebuah gang. Gang kumuh yang berisi rumah rumah kecil dengan jarak saling berhimpitan. Udara terasa lembab, sinar matahari seolah tak mampu menembus tembok-tembok rapuh yang saling berjajar membentuk lingkungan. Sesekali suara tetiakan anak kecil terdengar memenuhi telinga disepanjang lorong. Mereka tak jarang asyik berlarian bebas diatas jalan berpaving yang basah, menganggap lorong sempit itu adalah tempat bermain yang menyenangkan yang mereka punya.
"Ups!"
Hampir saja celana hitam miliknya terkena cipratan dari sandal jepit mereka, kalau saja Irish tak segera menyelamatkan diri dari kawanan anak kecil gang Pahlawan ini.
Ini adalah minggu keduanya beradaptasi dengan lingkungan seperti ini sejak kejadian itu. Kejadian yang tak sengaja yang cukup menggoncang naluri Irish siang malam. Untuk pertama kalinya Irish secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang. Seorang gadis yang sudah lama ia impikan untuk bertemu. Gadis itu bukan gadis biasa menurut Irish.
Pertemuan tak sengaja itu terjadi di sebuah toko buku. Sederhana memang, tapi memberi efek yang luar biasa pada psikologis Irish. Sejak saat itu Irish tak pernah melewatkan seharipun tanpa menguntit kemana perginya gadis yang berwajah sangat mirip dengannya itu.
Jantung Irish berdegup kencang kala gadis yang ia intai tiba-tiba saja berpaling. Dengan sigap Irish bersembunyi dibalik sebuah gerobak es, sembari memeluk lututnya sendiri. Menahan deru napas yang kian memburu tatkala suara sepatu sneakers kian mendekat ke arahnya. Irish mengatupkan bibirnya erat-erat. Membayangkan segala kemungkinan apabila penyelidikan ini harus berakhir disini.
Sementara pemilik suara sepatu itu perlahan kian menjauh, meninggalkan Irish di tempat persembunyiannya.
Setelah beberapa saat Irish akhirnya bernapas lega, "hampir saja!" Seraya mengelus dada dan bertekad melanjutkan langkah. Namun gadis itu tiba-tiba menghilang dari pandang. Tentu Irish kehilangan jejak. Ia berusaha mempercepat langkah kaki, menyisir ke segala tempat yang bisa memberi petunjuk kalau gadis yang ia targetkan berada disana.
"Damn!" pekiknya. "Kenapa selalu menghilang di spot yang sama." Irish mengedar pandang. Selalu saja gadis itu lenyap ketika memasuki lorong kecil di dekat sebuah tiang listrik.
Di depan Irish ada perempatan yang memungkinkan jika salah satu arah adalah jalan menuju rumah gadis itu. Tapi bisa saja ia tidak tinggal sejauh itu. Atau mungkin, gadis itu sengaja menjebak Irish untuk mengikutinya, lalu menghilang dengan misterius. "Pokoknya harus ketemu." batinnya.
"Lagi nyari rumah siapa, neng?" Seorang lansia berdaster rayon menyapa. Menatap Irish seolah anak ini tengah tersesat.
Irish lumayan gugup. "Enggak, buk. Kayaknya saya salah arah." Sambil tersenyum canggung ia balik badan, memunggungi wanita itu berpura-pura mengingat sebuah alamat, tapi sebetulnya ada hal lain yang sangat ingin ia tanyakan.
Tapi lansia itu sepertinya tidak tertarik dengan urusan Irish, ia lantas pergi entah ke rumah sebelah mana saat Irish menoleh ke belakang. "Yang pasti, semua orang pasti menghilang di titik perempatan ini. Huft!"
"Cari siapa?"
Irish tersentak. Tubuhnya seolah membeku menatap sosok yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Dari mana ia berasal?
"Gue tanya, cari siapa disini!?" Yang bertanya menatap Irish tak kalah tajam.
"Em, aku ..." Lidah Irish mendadak kelu, seperti ada sesuatu yang menyangkut dan sulit untuk dilepaskan.
"Gue penasaran sama lu. Dari kemaren kerjaannya cuman ngikutin orang. Siapa sih lu?"
Irish menatap gadis itu lekat lekat. Oh, apa dia tidak sadar kalau wajah kita sangat mirip?
"Kamu pasti Poppy, kan? Ini aku Irish." ucap Irish antusias. Ingin sekali segera merengkuh tubuh itu namun harus ia tahan.
Poppy berkacak pinggang. Menatap Irish dengan sinis, "dari mana lu tau nama gue!?"
Irish segera mengulurkan tangan, "aku Irish. Kita saudara kembar ... aku udah lama pengen cari kamu, Poppy."
"Irish? Irish siapa? Gue nggak ada temen yang namanya kaya gitu."
Irish mencoba meyakinkan Poppy dengan anggukan kecil yang ia lakukan. Tapi Poppy tetap skeptis tanpa mau meyambut uluran tangan Irish. "Iya, kita saudara ... saudara kembar!"
Poppy menatap Irish dari ujung ubun-ubun sampai ke sepatu secara cermat. "Enggak ah, kita nggak mirip!"
"Poppy ... aku bisa buktiin ke kamu kalau kamu nggak percaya. Aku udah lama banget nyari kamu." jawab Irish bersungguh-sungguh.
"Gue nggak punya saudara cewek. Lagipula kita nggak ada urusan, kenapa nyari gue?" Poppy mendecih.