Be-tween

sk_26
Chapter #3

Jangan insecure

"Gimana, udah dapet pinjamannya?" Broto menghampiri putrinya yang duduk melamun di dekat jendela ruang tamu menatap rembulan.

Poppy memang selalu seperti itu kalau sudah malam. Duduk memeluk lutut sembari menatap langit dengan mata silu. Setiap Poppy punya masalah, hanya malam dan keheninganlah yang menjadi teman. Mereka tak memiliki telinga, tapi bagi Poppy mereka cukup setia tanpa pernah mencela.

"Belum, ayah ..." ucapnya, "Poppy bingung mau ke siapa lagi? Utang kita udah banyak ke sana sini."

"Kamu coba hubungi si Dewa ... siapa tahu dia mau bantu kita."

Poppy menggeleng, "nggak ayah. Poppy malu ... utang yang sebelumnya aja belum bisa bayar."

Broto tidak akan menghampiri putrinya jika tidak menyangkut uang. Sebagai seorang laki-laki yang bergelar ayah, Broto pantas disebut ayah yang gagal. Di usia Poppy yang baru enam bulan, Broto memisahkannya dari Lani-ibunya. Dengan percaya diri membawa bocah kecil itu ke sebuah tempat kumuh bersama wanita selingkuhannya untuk tinggal. Broto tega merampas hak Poppy untuk disayang dan dilindungi sebagai seorang anak.

Donna, perempuan yang ia banggakan rupanya tak sehebat Lani. Donna berasal dari kalangan bawah serta materialistik. Ia bahkan tak mengurus Poppy sebagaimana seorang ibu sambung. Ia menjadikan putri suaminya itu sebagai alat pencari uang sekaligus pembantu di rumah. Beruntung kejadian itu tak berlangsung lama karena tiga tahun menjadi ibu tiri, Donna sudah dibawa kabur oleh pria lain yang lebih mapan, meninggalkan Broto, Poppy serta Pandu.

"Terus, gimana dong kalo kita beneran diusir dari tempat ini? Mau tinggal dimana lagi, Poppy?"

Poppy membuang napas kasar. Kalimat itu, Poppy sungguh muak. Andai saja ayahnya mau mengerti sedikit saja.

Broto melanjutkan, "kamu kan tau sendiri ayah ini udah tua, kondisinya juga udah kaga Vit ... ngojek juga sepi. Lu tau sendiri kan?"

"Iya ayah ... Poppy akan coba cari cara lagi. Poppy keluar dulu sebentar!"

Broto tersenyum lega. "jangan pulang malem malem, lu. Nanti adek lu kalo pulang siapa yang masakin!?"

Poppy melangkah keluar, menutup pintu tanpa menguncinya. Sudah berapa rumah yang ia kunjungi belakangan, semuanya menolak dengan alasan yang sama. Poppy tak tahu harus pergi kemana selain pergi ke jembatan kecil di dekat rel kereta.

"Poppy!"

Poppy berpaling ke sumber suara. Seorang berkemeja kotak kotak berlari ke arahnya dengan senyum hangat khasnya. "Tumben pulang jam segini?"

"Gue punya kabar bagus buat lu," ucapnya dengan nafas terengah-engah.

"Gue nggak mood dengerin curhatan lu, Dew ...."

"Bukan, bukan. Ada hal lain lagi." Laki-laki bernama Dewa itu mengeluarkan ponselnya, "ada info lowongan kerja bagus buat lu. Gua udah ngobrol sama ownernya sendiri. Lu kayaknya cocok kerja disitu."

"Dimana emang?"

"Di toko kue ... gajinya nggak terlalu gede sih. Tapi cocok buat nambahin penghasilan lu, Pop. Ketimbang lu jadi tukang anter jemput anak ke sekolah? Kalo motornya lecet lu kena semprot, kan?"

Poppy mengangguk, "tapi cuman itu aja yang ada buat gue. Lu tau sendiri kan Dew, gue nggak sekolah kaya lu ... gue cuman tamatan sekolah dasar. Jaman kaya gini, mana ada lowongan yang mau merekrut karyawan tamatan SD kaya gue?"

Dewa mengacak rambut Poppy, "jangan insecure dong! Banyak kok orang-orang besar yang enggak sekolah tinggi ... mereka bisa jadi orang sukses bukan karena ijazah, tapi karena mereka punya value."

Lihat selengkapnya