Di sebuah hunian besar yang terletak di perumahan elit, sebuah keluarga harmonis tengah asyik menikmati makan malam. Keluarga yang terdiri dari kepala keluarga, nyonya besar, serta putri tunggal itu terlihat begitu khidmat dengan kudapan mewah mereka. Percakapan ringan disertai gelak tawa memenuhi ruangan yang dihiasi banyak foto keluarga terbingkai. Sesekali sang Ratu rumah menatap lembut ke wajah suami serta putrinya yang cantik di sela percakapan. Mereka tidak membicarakan tentang masalah, penderitaan, serta cara untuk bertahan hidup. Mereka saling membanggakan satu sama lain. Memuji cita rasa masakan, juga membicarakan tempat tempat luar biasa yang belum mereka kunjungi dengan pesawat terbang.
"Irish kayaknya nggak ikut deh, ma. Soalnya Irish masih banyak kerjaan."
Lani melirik ke wajah suaminya, lalu menatap Irish. "Yakin kamu nggak mau ikut? Nggak nyesel?"
Martin menimpali, "nanti kamu nyesel loh Irish ... kamu akan melewatkan kesempatan ketemu sama calon suami kamu."
"Duh, papa sembarangan ih kalau bicara. Irish nggak mau menikah dulu ... apalagi bahas calon calon kaya gitu." Irish menautkan kedua alisnya. "Irish mau fokus ke karir aja. Lagipula siapa itu, Keanu? Irish nggak tertarik sama dia."
"Masa sih?" Martin tersenyum simpul. "Papa yakin, setelah bertemu dengan Keanu, kamu pasti langsung suka. Iya kan, ma?"
Lani mengangguk, "mama setuju. Keanu pria yang tampan. Mapan, berpendidikan tinggi, background keluarganya juga bukan kaleng kaleng loh sayang."
"Iya, tapi Irish belum ada minat kesana," bantah Irish. "Papa sama mama kaya orang jaman dulu aja jodoh-jodohin anak. Sama Keanu pula? Keanu kan temen masa kecil Irish, Ma."
"Ya terus, kenapa? Bukankah lebih bagus kalau kamu sudah mengenalnya sejak lama. Iya kan, pa?"
"Betul," kata Martin. "Papa sangat setuju kalau kamu sama Keanu. Ketimbang kamu cari sendiri, takutnya kamu tidak mengenal baik siapa laki-laki itu dan juga seperti apa keluarganya. Nanti kalau sudah berumah tangga kamu baru mengerti."
Lani mendehem. Perkataan Martin bagaikan anak panah yang menembus kulit Lani. Martin sadar istrinya tersinggung. Ia segera mengatupkan bibir tanpa berani menatap wajah Lani lagi. Luka lama yang harusnya telah terkubur rapat, tiba-tiba menganga karena satu percikan yang tidak sengaja. "Sudah ya, mama tidak ingin berdebat. Tapi ada baiknya kamu melakukan pendekatan dulu ke Keanu."
Irish tak menjawab. Ia tahu mamanya berkata demikian bukan karena pembicaraan tentang Keanu harus selesai. Tapi Irish tahu jika ayah tirinya baru saja menyinggung masa lalu mamanya.
Suasana makan malam yang semula hangat dan ceria dengan cepat berubah menjadi kecanggungan. Martin memutuskan untuk menyelesaikan makan malam lebih awal, sementara Lani masih bertahan ditemani Irish.
"Ma, kalau selesai makan ... Irish pengen ngobrol sama mama."
"Ngobrol apa? keliatannya penting banget ... apa nggak bisa di obrolin di meja makan?"
"Takut papa denger ... nanti mama ke kamar Irish, ya ma."
"Soal apa sih, Irish?"
"Nanti Irish jelasin. Mama ke kamar Irish, nanti kita ngobrol di balkon."