Pagi Poppy terusik oleh suara keras yang dihasilkan oleh tangan bu Wijaya-pemilik kontrakan yang menggedor keras pintu rumahnya. "Sudah siang, buruan keluar ... ingat utang kamu, Broto, Poppy!"
"Astaga, buk ... masih pagi loh, ayah saya juga sedang sakit." keluh Poppy membuka pintu.
Wijaya memasang muka sinis, menggerakkan bibirnya ke bawah. "Halah, alesan aja kamu. Kemarin nggak ada uang, sekarang sakit. Besok apa lagi? Saya nggak mau denger alesan kamu terus, saya mau nagih uang kontrakan! Poppy, saya sudah cukup baik ke bapak kamu selama ini ... sekarang, saya minta kesadaran kamu buat bayar. Kalau enggak-"
"Iya, buk. Saya tau. Tapi ibuk kasih saya waktu sebentar deh ... saya juga baru mau berangkat kerja. Saya janji akan bayar sore nanti pulang dari kerja. Mohon pengertiannya buk." Wajah Poppy memelas.
Wijaya memalis wajah. Tapi sungguh berapa kalipun keluarga Broto sering mengecewakan, Wijaya tetap tidak tega untuk membiarkan Poppy dan keluarganya terusir. "Ya sudah, kamu saya kasih waktu sampai nanti sore. Tapi hanya kali ini aja, Poppy ... kalau kamu sampai bohong lagi, besok pagi kalian harus tinggalkan tempat ini. Masih banyak yang mau ngontrak disini!"
"Iya buk, saya janji. Makasih bu Wijaya."
Wijaya pergi dengan wajah kesalnya, meninggalkan Poppy yang masih mematung di ambang pintu.
"Kak, ayah pengen dibikinin teh ... kakak punya teh, nggak?" Pandu muncul dari dapur, masih dengan wajah kusut khas orang bangun tidur.
"Ada, kamu cari di toples rak."
"Oke." Pandu menatap kakak perempuannya yang berpakaian rapi dengan tas menggantung di bahu, "kakak, mau kemana? Rapi bener."
"Kakak mau ngelamar kerja. Do'ain ketrima, ya."
Pandu mengangkat jempolnya, "pasti ... tapi kerja apaan, kak?"
"Di toko kue. Moga aja masih ada lowongan buat kakak yang tamatan SD ini." Poppy tersenyum kecil, "Ndu, kakak berangkat dulu ... kamu jagain ayah!"
"Oke, bos!" Pandu melambaikan tangan. Senyum simpul terukir di wajahnya memandangi sang kakak yang bagi buta sudah mengadu nasib. Pandu tidak diberi tahu oleh kakaknya kalau pemilik kontrakan baru saja mengultimatum mereka. Kalau Pandu tahu, ia pasti akan melakukan hal yang sama seperti waktu itu. Pergi dengan motor butut ayahnya tanpa penjelasan. Lalu, pulangnya babak belur karena berkelahi dengan teman seprofesi Broto.
Waktu itu Pandu pernah menggantikan ayahnya mengojek karena Broto sedang tidak enak badan. Pandu menurut, namun itu awal mula cekcok yang sampai sekarang tidak pernah terselesaikan. Kata Pandu, di pangkalan ojek ayahnya, ada satu orang yang paling berbahaya. Dari luar dia terlihat baik, sangat ramah bahkan. Itulah yang membuat Pandu dengan mudah meletakkan kepercayaan pada orang itu. Saat Pandu sedang menghitung hasil keringatnya, orang itu mendekati Pandu dan mulai bernarasi seperti orang yang paling menderita di bumi Jakarta. Pandu berhasil dikelabui, handphone dan hasil ojek dua hari dengan suka rela ia pinjamkan. Tapi setelah Pandu mengasihani, orang itu justru menipunya. Saat bu Wijaya menagih uang kontrakan, Pandu segera menggeber motor ayahnya ke rumah orang tersebut, tapi ia menyangkal. Mereka berkelahi. Pandu bahkan mendapat bogem mentah dari orang-orang yang menganggap Pandu hanyalah bocah tidak waras tak punya akhlak.
Sejak saat itu, Pandu tak pernah lagi mau menggantikan Broto mengojek. Pandu lebih suka ikut temannya mengamen. Atau, kalau pasar sedang ramai, Pandu bisa mengumpulkan lumayan banyak uang puluhan dari hasil menjadi tukang parkir. Semua pekerjaan itu tidak pandu lakukan secara terpaksa karena ia sadar, ia adalah anak laki-laki yang terlahir dari keluarga tak berada, yang haus kasih sayang seorang ibu.
"Sudah menunggu lama?" tanya Owner kala menyadari ada seseorang yang menunggu di ruangannya.
"Lumayan, bu." jawab Poppy yang tergesa berdiri.
"Kamu, yang di rekomendasikan sama teman kamu kemarin? Siapa nama kamu?"
"Saya Poppy, buk."