Sepulang dari kuliah, Irish memutuskan untuk ke kafe ketimbang langsung pulang ke rumah. Alasannya satu, karena dirumah Irish selalu kesepian dan hanya mengobrol dengan bi Sari. Itu adalah alasan konsisten yang sudah Irish terapkan lama. Keseharian seperti itu Irish jalani sejak duduk di bangku SMA. Orang menyebutnya keluyuran, tapi bagi Irish itu adalah sebuah pengalihan karena Papa dan mamanya adalah orang sibuk. Untuk mendengarkan keluh kesah dirinya sepulang sekolah, ia kira mamanya tak akan ada waktu. Dan itu Irish sangat mengerti.
"Kalau aku jadi kamu, ya mendingan kuliah ke Amrik. Dari pada kuliah di Indo tapi sama aja kaya tinggal di asrama ... jarang ketemu bokap nyokap." cibir Chery-sohib setianya sejak di semester satu.
"Beda lah, enak aja main sama-samain sama asrama ..." Irish menggerakkan ujung sedotannya, "lagian nggak masalah dong kuliah di negara sendiri. Kan masih ada s2, s3 dan seterusnya, Chery ... kampus kita juga kampus terbaik, kok."
"Irish ... Irish, kamu emang aneh orangnya. Kadang, ada yang dikasih serba kekurangan malah belaga sok kaya, ya kan? Ada yang beneran kaya, malah kaya kamu!" Chery nyengir.
"Sok kekurangan, maksudnya?" Irish dan Chery terkekeh.
"Eh, btw ... gimana, kamu udah ketemu belum sama kembaran kamu? akhir akhir ini kok kamu mulai jarang ngomongin kembaran kamu." Chery menggeser gelas Americano dari hadapannya, kedua lengannya terlipat rapi di atas meja. Siap mendengarkan cerita paling seru dari gadis berompi cokelat itu.
"Iya, aku belum cerita sama kamu kayaknya ... aku kemarin berhasil ketemu sama dia." Irish tersenyum, "kami bahkan makan bareng."
"Keren dong! Trus?" Bola mata Chery membulat sempurna. Diantara sekian banyak teman Irish, Chery adalah temannya yang paling loyal. Chery memang bukan berasal dari keluarga kaya raya seperti Irish. Dia lahir dari keluarga sederhana. Tapi kepribadian Chery yang ceria serta hangat, membuat Irish nyaman. Jika Irish dapat masuk ke semua universitas terbaik yang ia mau dengan uang, maka Chery menggunakan akal yang cerdas untuk menggapinya. Chery adalah mahasiswi jalur beasiswa.
"Ya, aku jelasin panjang lebar kalau kita ini kembaran. Aku juga cerita soal foto itu, tapi dianya kaya nggak percaya gitu. Aku bahkan sempet ngasih kartu nama aku ke dia."
Chery masih menatap Irish serius.
Irish melanjutkan, "tapi dianya kayak ketus gitu."
"Ketus gimana? Mungkin karena dia belum kenal kali sama kamu ...."
"Maybe. Dari pertama ketemu ... dia udah skeptis gitu ke aku."
Chery mengelus pundak Irish dengan lembut, "jangan sedih ... kamu ajakin ketemuan lagi pasti udah agak jinak."
"Dia nolak buat ketemu sama aku lagi, Chery." ucap Irish dengan sendu.
"Tapi seenggaknya kamu udah ketemu dan ngobrol kan sama dia? Coba deh kamu main ke rumahnya ... kamu pasti udah tau dong tempat tinggalnya? Secara, kamu kan sering nguntit dia."
Irish menggeleng, "aku nggak tau dimana dia tinggal ... kita ketemunya di depan rumah orang. Tapi aku yakin kalau dia tinggalnya disekitaran situ!" Irish menurunkan pundaknya, "yang bikin aku sedih tuh keadaan Poppy yang keliatan kusut, acak adul gitu."