Saat Dewa mampir ke toko kue, Poppy sedang mencuci kain pel di belakang. Kawannya Poppy memberi tahu kalau ada seorang tamu yang sedang mencarinya. Poppy tahu itu pasti Dewa. Ia terus melanjutkan pekerjaannya sampai benar-benar selesai. Di ruang pemanggang, Mega dan Putut mengawasinya sambil bersih-bersih. Poppy harus meminta izin dulu ke mereka sebelum keluar. Tapi sebelum Poppy mengungkapkan, Mega sudah mengetahui terlebih dulu. "Nggak papa ... toh, udah rampung semua juga. Kamu boleh temui tamu atau keluarga, asal pekerjaannya selesai." Mega membantu Poppy melepas celemek.
Dewa sedang menunggu di teras sembari mengamati keadaan sekitar. Begitu Poppy keluar, ia langsung ingin menyambutnya. Tapi Poppy terlebih dulu menyapa, "gue kan udah bilang kalau gue akan kabarin ... main kesini aja."
"Nggak boleh?" Wajah Dewa masam.
Poppy menarik kursinya lalu duduk sambil menggerakkan lehernya yang terasa kaku. "Tumben jam segini udah pulang."
"Ho,o. Lu habis bersih-bersih?" Dewa menatap pelipis Poppy yang lumayan basah.
"Habis nyuci kain pel tadi." Ia mendengus menyandarkan tubuhnya ke kursi. Peluh dan rasa lelah memohonnya untuk beristirahat.
"Gue bingung, kata ibunya kemarin ada lowongan buat kasir. Tapi kenapa lu jadi office girl? Nggak habis pikir gue."
Poppy mengangkat pundak, tatapannya jatuh ke bawah. "Mana orangnya nyebelin lagi, Dew."
"Nyebelin gimana? Lu kena bully?" Dewa menatap Poppy serius.
Poppy menggeleng, "dah, pokoknya nyebelin ... kalau nggak karena bu Wijaya, gue pasti udah cabut sejak pagi dari tempat ini."
"Gue merasa bersalah nge-rekomendasiin lu kesini, Pop." Suara Dewa memelan. "Kita nyari ke tempat lain lagi gimana? Gue bantu."
"Gue udah terlanjur kas bon!"
Manik Dewa membesar, kedua alisnya bertaut. "Serius?"
Poppy manggut, "karena itu gue di maki sama Ownernya. Sedih banget nasib gue!" Poppy menjatuhkan kepalanya ke atas lengan yang terlipat di atas meja. Dengan suara bergetar ia menceritakan bagaimana ia mempertaruhkan harga dirinya demi sebuah pinjaman.
"Trus duitnya lu balikin atau gimana?"
Poppy mengangkat wajahnya yang bersemu, "ada di saku gue. Gue nggak perduli ... mau dicaci, mau dikata-katain, gue nggak perduli Dew, asalkan bokap sama adek gue nggak di usir jadi gembel."
"Siniin duitnya!"
"Mau ngapain?" Poppy melotot.
"Pokoknya sini ... nanti gue ganti." Dewa mengulurkan tangannya, langsung ditepis oleh Poppy.
"Apa apaan sih lu ... Ogah! Enak aja. Mau nyari kemana lagi gue?"
"Iya gue tau. Tapi bukan berarti lu terima gitu aja dong diri lu digituin, Poppy." Dewa kembali duduk setelah gagal membujuk sahabatnya. "Lu terima aja duitnya di lempar-lempar ke muka lu ... kalau gue digituin, udah gue ludahin tuh orang ... main injek harga diri orang lain seenaknya." Kilatan amarah terlihat kuat di mata Dewa.
"Sshh, Dewa!" Popoy mendelik. "Mendingan lu pulang gih ... gue nggak mau bikin keributan lagi. Please ... ya?"