Be-tween

sk_26
Chapter #8

Dewi Fortuna berpihak

Sungguh, Irish ingin hari ini terjadi seperti hari kemarin. Gadis berkulit langsat itu berniat pergi lagi ke kafe seperti hari kemarin agar bertemu dengan mas berwajah manis itu di jam yang sama lagi. Tapi Irish ragu, terlalu berlebihan menurutnya. Jadi, ia terpaksa menepikan mobilnya sebelum benar-benar mengambil keputusan putar balik.

"Bentar, kok tiba-tiba aku jadi pengen ketemu sama Poppy juga. Tapi, apa dia mau nggak ya ketemu sama aku lagi?" Ia bermonolog. Menimbang sejenak sampai akhirnya ia melajukan mobilnya menuju arah gang Pahlawan itu lagi, walau taruhannya ia harus menghadapi wajah ketus Poppy. Tapi tak apa, Irish sangat siap. Karena menurutnya, ini adalah insting seorang saudara satu rahim yang menuntut untuk bertemu.

Setelah mobil membelah jalan, Irish baru sadar jika Poppy tidak pernah menjelaskan dimana ia tinggal. Keraguan lagi-lagi mengacaukan. Tak ada pilihan lain selain menepi lagi. Jika ia terus memaksakan mengendara sambil memikirkan sesuatu, yang ada Irish akan membahayakan dirinya sendiri. Karena ia melaju bukan dengan fokus melainkan dikendalikan oleh kebimbangan.

Kebetulan di sisi kanan jalan terdapat sebuah toko kue yang cukup besar. Irish memutuskan untuk turun, lalu melangkah masuk ke dalam setelah menekan key remote. Begitu masuk, Irish disambut oleh alunan musik lembut nan menenangkan. Ruangan sejuk serta bersih membuat Irish bertanya tanya, seperti apa pemilik toko kue ini? Pegawainya pasti orang-orang hebat semua. Lantainya berkilau, setiap etalase memantulkan bayangan bening seolah tidak ada pembatas. Irish jadi membayangkan suatu saat akan memiliki tempat usaha serupa, tetapi bergerak dibidang fashion.

"Silahkan kak, mau kue yang mana?" sapa pegawai dengan senyum manis yang ramah.

Irish segera mengacungkan telunjuknya pada permukaan kaca etalase, " Red velved, Lemon drizle sama Mousse tuxedo. Disini jual minuman juga nggak mbak?"

"Ada kak, minuman soft drink di sebelah sana." Pegawai mengantar Irish menuju showcase berukuran besar.

"Makasih ya, mbak." Irish mengabsen satu persatu minuman yang aman untuk dahaga serta lambungnya. "Kok, nggak ada ya yang ... " fokus Irish teralihkan tatkala seorang karyawan toko melintas di depannya. Kedua netranya menyipit, tangannya secara reflek menutup pintu lemari minuman tanpa melihatnya. "Poppy?" gumamnya lirih. Ya, toko kue yang Irish kunjungi adalah tempat kerja Poppy.

Mungkin Poppy tak menyadari jika Irish sedang mengawasinya dari dalam toko. Tapi yang lebih membuat Irish tercengang adalah, Poppy sedang bersama laki-laki yang menabraknya kemarin. "Wait, what?" Irish segera menyambar kresek berisikan box di meja kasir setelah membayar tagihannya. Ia tak boleh kehilangan sedetikpun momen langka ini.

Sementara itu Poppy dan Dewa sedang beradu argumen diluar. Sepertinya jam kerja Poppy sudahh selesai, Irish semakin penasaran dan akan mengawasi apa yang sedang terjadi.

"Poppy dengerin gue ... yang lu denger semalem itu salah faham."

"Salah faham gimana?" Poppy berkacak pinggang, "nggak ada yang salah. Semuanya clear, terang di telinga gue, Dewa ... nyokap lu bener, emang nggak sepantesnya lu deket-deket ama gue. Nanti lu ketularan melarat kaya keluarga gue!"

Irish terus memantau dengan jurus sembunyinya. Takut sekali jika mereka adalah sepasang kekasih.

"Poppy please, biarin gue jelasin." Dewa berusaha meraih pergelangan Poppy, tapi tak pernah berhasil.

"Oh, jadi cowok itu namanya Dewa?" Irish mengendap-endap dibalik sebuah pot besar. Irish selalu jago jika menyangkut perihal bersembunyi.

"Nggak ada yang perlu dijelasin. Lu nggak usah ngerasa bersalah ... gue cuman jadi beban buat lu." Poppy berusaha menguatkan dirinya. Lantas pergi dari hadapan Dewa sembari terburu-buru.

Lihat selengkapnya