"Makasih, ya. Lo udah nraktik gue makan ... ngajak shopping. Sekali lagi makasih Irish." Untuk pertama kalinya Poppy berkata lembut pada Irish sambil tersenyum manis.
"Sama-sama ... aku juga berterima kasih ke kamu, Poppy. Karena kamu udah bersedia buat nemenin aku makan, pergi nge-mall. Pokoknya hari ini seru banget menurut aku. " Irish mengusap punggung tangan Poppy dengan lembut. "Yang aku lakuin adalah hal yang memang seharusnya aku lakuin buat saudara aku."
"Yaudah gue masuk dulu, ya." Poppy beranjak turun sembari menenteng dua paperbag. Satu berisi setelan miliknya dan yang lain berisi oleh-oleh makanan untuk keluarga yang menunggu di dalam.
"Jangan lupa, besok pagi jam sepuluh!" ucap Irish sesaat sebelum memundurkan ban mobilnya, lalu melesat keluar pekarangan.
Perasaan Poppy jauh lebih baik dari saat ia keluar dari tempat kerjanya. Ia kemudian masuk ke dalam rumah dengan langkah yang lebih ringan.
"Ayah, ayah ngapain disitu?" Poppy menatap Broto yang berdiri seperti sedang merapikan hordeng jendela.
"Eh Poppy, yang tadi sama kamu siapa?"
"Temen aku," Tidak mungkin kan Poppy mengatakan kalau yang baru saja ada di halaman rumah mereka adalah Irish. Ayahnya pasti mengenal siapa itu Irish, jika apa yang selama ini diceritakan itu benar. Tapi entah mengapa Poppy terkadang masih sulit untuk percaya.
"Seumur-umur baru kali ini gue liat lu pulang dianterin mobil? Mobil bos lu?"
"Udah dibilangin temen masih nanya aja, ayah. Nih ... buat ayah!" Poppy menyodorkan box martabak kesukaan ayahnya.
"Apaan ini?"
"Kesukaan ayah." Ucap Poppy singkat, ia kemudian melangkah ke kamarnya.
Sementara Broto memeriksa isi kotak kardus itu. Isinya sesuai yang dikatakan putrinya. Seketika wajah Broto tampak berseri. Hal sederhana, memang selalu membawa kebahagiaan bagi mereka yang setiap hari merasakan kekurangan. "Baik bener temen elu, Pop. Siapa namanya? Anak kelurahan mana?"
Poppy membuka pintu kamarnya, "rumahnya jauh, ayah. Dia anak orang kaya ... lagian, kalau Poppy kasih tau namanya, emang ayah kenal?"
"Ya juga sih," Broto asyik mengunyah jajanan yang terbuat dari telur dan bawang bombai itu dengan lahap.
"Mendingan ayah makan tuh martabak biar kenyang! Jangan lupa sisain buat Pandu."
"Udah pasti itu, Pop."
Poppy tersenyum lega. Melihat ayahnya makan dengan lahap, timbul perasaan ingin membahagiakan orang yang telah merawatnya itu lebih banyak lagi. Tapi apa mau dikata, hutang ke pemilik toko tempatnya bekerja saja masih belum bisa ia bayar. Padahal sejujurnya Poppy sangat ingin resign dari tempat itu.
"Oh ya, Pop ... tadi ada ibu-ibu nyariin kamu, yang biasa anaknya lu anter jemput."