Pukul setengah sepuluh pagi, Poppy telah bersiap dengan busana yang kemarin sore dibelikan Irish untuknya. Celana jeans biru yang dipadukan dengan kaos rajut berwarna anggur, sangat serasi di tubuhnya yang terbilang proporsional. Poppy tidak menggerai rambutnya, sebaliknya ia mencepol tinggi dengan poni yang biarkan sedikit berantakan, untuk menambah kesan natural. Sejujurnya Poppy sangat ingin Irish membelikan sepasang sepatu yang bagus sebagai hadiah-jika memang mereka benar-benar saudar kembar. Sepatu yang ia kenakan saat ini adalah sepatu satu-satunya yang ia punya. Kondisinya pun sangat usang, tua dan talinya nyaris putus. Tidak ada salahnya bukan meminta kepada kembarannya sendiri. Tapi Poppy cukup besyukur bisa mengenakan pakaian dengan merk mahal. Biasanya ia hanya mengenakan baju dari pasar loak dengan harga paling terjangkau.
Poppy tidak meminta Irish untuk menjemputnya di depan rumah karena takut ayahnya akan mengenali. Poppy sudah menentukan spot yang akan menjadi titik pertemuan mereka. Karena idenya itu, Poppy terpaksa harus berjalan cukup jauh. Menyeberangi rel kereta dekat rumahnya, keluar gang, terakhir menunggu mobil merah Irish datang di dekat sebuah ruko. Dan itu semua berlangsung sekitar dua puluh menit.
[Gue udah di lokasi]
Chat pertama yang ia kirim ke whatsapp Irish. Segera ia mendapat balasan.
[Sip, bentar lagi nyampe!] tak ketinggalan emot tersenyum terkirim setelahnya.
Menit berikutnya yang bersangkutan tiba. Poppy segera menghampiri mobil Irish sebelum pemiliknya turun. "Sorry, pasti kamu nunggu lama." Irish tersenyum ke arah Poppy yang terlihat lebih segar dari hari biasanya.
"Nggak kok. Cuma bentar, terus langsung chat lu tadi." kata Poppy santai. Diam-diam ia mengamati penampilan Irish yang terlihat seperti seorang wanita karir yang matang. Jas sebagus itu pasti harganya mahal, batinnya.
"Gimana, langsung ke rumah aku atau kita ke tujuan kita yang kemarin?" tanya Irish yang mulai menggerakkan kemudi. Mobil perlahan melaju membelah jalan.
"Terserah lu aja ... gue ini kan tamu, lu tuan rumah."
Irish menarik sudut bibirnya, "iya deh iya ... kita langsung ke toko kue aja. Supaya masalahnya cepet clear."
Poppy mengangguk pelan. Kemarin, mereka berdua sepakat untuk saling membantu masalah satu sama lain. Poppy rasa, Irish adalah satu-satunya orang yang ia kenal yang bisa membantunya saat ini. Tentu saja soal financial, tapi ini tidak gratis. Irish bersedia membayar semua hutang Poppy, sementara Poppy harus membantu Irish berganti peran saat Keanu pulang ke Indonesia nanti.
"Poppy, gue boleh nanya kamu sesuatu nggak?" tanya Irish sedikit ragu, tapi Irish perlu ta agar tidurnya bisa nyenyak.
"Tanya apa?"
"Um, kemarin aku liat kamu lagi ngobrol sama cowok ... kalau boleh tau, itu ... pacar kamu?" Irish menggigit bibir bawahnya, khawatir Poppy akan marah.
"Siapa, si Dewa?"
Irish mengangkat bahunya, berpura-pura tidak mengetahui nama itu.
"Dewa temen gue. Temen dari kecil ...."
Irish manggut-manggut seolah paham, tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat girang karena Dewa ternyata bukan pacar Poppy. Apa jadinya jika sepasang saudara kembar memperebutkan satu orang yang sama. "Oh gitu?"
"Kenapa, lu mau sama Dewa?" tanya Poppy dengan enteng, tapi jelas itu membuat Irish lumayan tersentak. Hampir saja ia menginjak rem mendadak.
"What?" Reflek Irish.