"Bentar, bentar ... HP gue getar, kaya ada yang nelfon nih." Poppy yang sedang asyik memasak bersama Irish segera mengeluarkan benda pipih itu dari saku jeansnya dengan panik. "Tuh kan apa, ayah pasti nyariin gue."
[Pop, lu dimana kok nggak pulang pulang sampai sore, nak?]
Suara Broto menggema di seberang.
[Iya ayah ... Poppy lagi makan di rumah temen Poppy. Ayah tunggu ya, Poppy bakalan langsung pulang habis makan.]
[Lu jangan lama lama di rumah orang, ayah udah pesen kan sama elu tadi malem?]
[Iya ayah.]
[Ya udah, lu janji kudu pulang cepet! Jangan malem ya?]
[Iya ayah, ayah jangan khawatir ... udah dulu ya, ayah. Nggak enak sama temen Poppy nih.]
Panggilan terputus, Poppy meletakkan kembali ponselnya ke saku celana.
"Disuruh pulang, ya?"
"Iya, ayah emang gitu ... selalu khawatir kalau gue main ke rumah orang kaya." Tangan Poppy kembali memotong sayuran yang semula ia hentikan karena panggilan dari Broto.
"Bagus dong ... ayah masih perhatian sama kamu. Jadi pengen di perhatiin juga kaya gitu ..." Irish tersnyum pilu, "setidaknya masih ada yang perduli kalau kamu belum pulang."
Poppy menatap Irish sepintas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak pernah menyangka jika orang sehangat dan sebaik ini rupanya adalah orang yang paling kesepian di istananya sendiri. "Kita semua sedang berjuang di jalan masing-masing, Irish. Lu diurus sama nyokap ... punya rumah bagus, mobil, duit banyak. Lu butuh apa-apa udah ada yang ngurusin, nggak kaya gue yang mesti bersusah payah dulu buat dapetin sesuatu yang gue mau ... yang mungkin bagi lu itu bukan apa-apa, ya kan? Dan semua itu adalah do'a gue yang sering gue mohonkan ke tuhan asal lu tau."
Irish hanya terdiam meresapi setiap perkataan Poppy yang begitu pahit tentang kenyataan hidup yang baginya teramat mudah ini.
Poppy melanjutkan, "ya mungkin bagi lu perhatian ayah ke gue itu begitu berarti ... tapi percaya deh, sebelum elu kenal gue yang sekarang ... hidup gue jauh lebih menyedihkan dari apa yang lu pikirkan. Ayah dulu nggak sebaik ini ke gue." Poppy tersenyum getir. Andai Irish tau bagaimana sifat ayahnya ketika dirinya masih sangat kecil.
"Masa sih?"
Poppy mengangguk, setelah memotong kubis dan timun, ia melanjutkannya dengan alpukat dan selada. Sementara Irish hanya terpaku menanti penjelasan lebih dari bibir Poppy yang enggan menceritakan tentang bagaimana ia dibentuk hingga menjadi pribadi yang dingin seperti ini. Saat Poppy hendak menuangkan olive oil, ia menyadari kalau gadis berkaos zebra ini sedang memperhatikannya. "Ada yang salah?" tatapnya.
"No, but ... aku jadi kepikiran buat telfon ayah."
Poppy menautkan kedua alisnya. Irish pasti sedang merencanakan hal gila lainnya lagi, batinnya.
"Cuman buat ngetes aja, apa ayah menyadari suara kamu berubah atau enggak .... "
"Kamu yang ngomong, gitu?"
Irish mengangguk pelan, "yes!"
"O, ke ... ide yang bagus, kenapa enggak!?" jawab Poppy yang kemudian direspon gembira oleh kembarannya itu. Wajah Irish seketika berubah menjadi ceria. Ini adalah kali pertama pemikiran mereka satu frekuensi. "Tapi mau ngomong apa ke ayah?"
"Um, aku bilang aja kalau pulangnya masih agak lama lagi ... cuman pengen denger responnya aja sih waktu ngobrol sama orang yang beliau kira kamu. Gimana?"
"Terserah lu deh!" jawab Poppy datar. Disodorkannya HP beserta nomor telepon yang siap untuk Irish hubungi.
"Wait, aku musti belajar logat kamu, bukan?" Irish terkekeh. "Lu, gue, lu, gue ..." Sembari memeragakan bagaimana Poppy menggunakan aksen dan pemilihan diksi disetiap perkataannya. Sementara yang sedang di impersonate, hanya menatapnya pasrah sambil membayangkan jika dirinya juga akan melakukan hal yang sama.
"Gue kira, lebih sulit jadi elu ketimbang jadi gue."