Di depan sebuah rumah kontrakan kecil, seorang gadis berambut pendek berdiri mematung menatap bangunan itu dengan tatapan nanar. Dalam benak bertanya ; sungguh, aku akan tinggal di tempat seperti ini? Langkahnya ragu, namun tetap ia paksa.
Namun belum sempat kaki itu berjalan maju, seseorang tiba-tiba datang dari belakang sembari merapatkan jemari ke kedua netranya. Pandangan Irish tertutup sempurna, gelap total. "Siapa ini!?" teriaknya panik. Sementara sang pelaku tak mau mengatakan apapun dan hanya terdengar suara tawa kecil yang nyaring ditelinga. "Hey, jangan main-main ya sama aku ... atau aku akan lapor ke polisi!"
BAM!
Tangan itu benar-benar terlepas dari wajah Irish. Kelopaknya perlahan terbuka. Menampilkan pemandangan yang samar, tapi terdengar suara yang begitu jelas.
"Sombong amat mau lapor polisi!?" Laki-laki itu berkacak pinggang, menatap Irish dengan tatapan sinis tapi sedetik kemudian ia tersenyum yang membuat penglihatan Irish perlahan kembali.
"K- kamu?" Irish menutup kedua bibirnya sambil terperanjat.
"Segitunya natap gue. Kaya habis ketemu sama Goblin aja, lu!" Pria berjaket parka coklat itu mengacak rambut Irish dengan tangan kanannya.
Irish segera membelakangi pria itu begitu menyadari siapa yang berhadapan dengannya. Ya tuhan, ini Mas Dewa!
"Pop, gue kesini mau baikan sama lu ... kangen gue nggak ngusilin elu!" ucapnya berterus-terang. Sementara Irish masih enggan menampakkan wajahnya yang bersembunyi dari balik tirai keterkejutan. "Poppy!" Dewa menarik pundak Irish dari belakang. Dua pasang mata saling bertatapan, menciptakan sensasi yang tak biasa di kalbu Irish. Tidak, Poppy dan Dewa hanyalah sepasang sahabat. Irish harus memainkan peran ini tanpa cacat bukan?
"I-iya. Nggak papa, kok."
"Lu kenapa? Habis kena rukyah?" Dewa menatap lekat ke manik Irish tanpa perasaan curiga sedikitpun. "Lu denger gue kan tadi?" Dewa meraih jemari Irish, "gue minta maaf ya atas ucapan nyokap gue yang nggak sengaja lu denger waktu itu. Gue bener-bener merasa bersalah banget ke elu, Pop. Maafin ya?"
"Iya, aku udah maafin kok. Ups, gue maafin." ucap Irish dengan senyum canggung. Segera melepas tangan Dewa dengan wajah menunduk. "Yaudah gue masuk dulu, ya."
"Eits, tunggu dulu! Gue belum selesai ngomong sama lu. Main nyelonong aja ... besok lu kerja nggak?"
"Gu-gue udah resign dari tempat itu."
"What? Seriusan lu? Sejak kapan?" tatap Dewa dengan alis berkerut.
"Dua hari yang lalu."
"Kenapa? Lu dimarahin lagi ya sama bos lu?"