Be-tween

sk_26
Chapter #15

Hanya kebetulan

Dihunian lain, Poppy yang gugup akhirnya tak bisa menghindari juga kedatangan rombongan yang menunggangi mobil mewah seri s-class yang sorot lampunya lebih terang dari masa remaja Poppy sendiri. Perasaan Poppy campur aduk tak menentu. Takut, gugup serta salah tingkah. Perasaan yang baru pertama kali menyiksanya.

Dengan tarikan nafas yang panjang, Poppy berusaha untuk tenang. "Oke, gue harus hadepin mereka!" kemamnya sambil membuka tuas pintu.

"Cucu Oma!" teriak seseorang wanita tua yang berdiri dengan bantuan tongkatnya. Kedua tangannya terbentang menyambut tubuh Poppy yang ia sangka Irish. Poppy pun jatuh ke dalam pelukan seorang nenek yang telah lama merindukan cucu kesayangannya.

"Oma apa kabar!" balas Poppy dengan wajah manis dibuat-buat.

"Oma rindu sekali sama cucu Oma. Oma sampai jatuh sakit mikirin cucu Oma." ucapnya dengan nada manja.

Sementara itu sepasang suami istri yang berdiri di belakang wanita tua itu turut tersenyum lembut menyaksikan ramah tamah yang terjadi antara nenek dan cucu. Perhatian Poppy masih terfokus pada satu orang saat ini, belum ke mereka.

"Sekarang, Oma udah ketemu sama Irish ... Oma pasti langsung sembuh." Poppy mengedar pandang ke semua orang, termasuk seorang laki-laki berpostur tinggi dengan pakaian seragam yang menenteng koper di tangan. Dia pasti supir di rumah ini.

"Papa, mama, gimana perjalanannya?" tanya Poppy sambil menerka-nerka, semoga dua manusia rupawan ini benar-benar kedua orang tua Irish.

"Very good sayang ... kamu sendiri apa kabar?" Tubuh Poppy lagi lagi mendapat pelukan. "Mama really misses you so much, Irish." jawab perempuan berjas kuning itu sembari mencium pipi kanan dan kiri Poppy. Aroma parfumnya tertinggal di wajah Poppy. Harum semerbak hingga menembus tulang pipi.

"Kabar Irish baik, ma."

"Hi Irish, how are you?" tanya laki-laki yang Poppy yakini adalah suami mama Irish. Ia memeluk tubuh Poppy sekilas.

Poppy menjawab sama seperti yang ia katakan pada mama Lani.

"Yuk, masuk ke dalem!" ajak Lani. "Irish, dampingi Oma, ya?" pinta Lani.

Poppy manggut, "siap ma." Ia lantas merangkul wanita tua yang bersanggul itu dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Dalam benaknya, Poppy bertanya-tanya apakah dirinya benar-benar memiliki kemiripan fisik yang begitu besar hingga tak seorangpun curiga jika dia bukanlah Irish. Tapi apapun itu, Poppy cukup merasa bahagia karena baru kali ini ia merasakan kehangatan seorang keluarga. Terlebih ungkapan rindu seorang ibu yang begitu tulus.

"Mama, kita makan malam dulu, ya." Lani mengajak wanita bernama Ratna itu menuju ke ruang makan. Ratna hanya menurut sembari tersenyum.

Disana, Bi Sari sudah menunggu dengan berbagai hidangan lezat yang memenuhi meja. "Selamat datang bu Ratna, tuan Martin, bu Lani!" sapanya dengan ramah nan santun. Tak lupa Sari juga menunjukkan gigi gerahamnya yang tersusun rapi.

Semua orang menatapnya dengan senyuman hangat. Bisa Poppy lihat jika hubungan antara asisten rumah tangga dan majikannya telah terjalin harmonis sejak lama.

"Sari, kamu masih betah saja disini." seloroh Ratna.

Sari tersipu, "iya bu Ratna. Saya sudah cocok sama rumah ini dan penghuninya ... nggak mau ke rumah yang lain."

Poppy terkekeh. Dalam bayangannya, pembantu hanya bersikap formal dan takut pada majikankannya seperti yang ia saksikan di sinetron TV. Semua orang sangat baik dan hangat. Lantas, mengapa Irish masih mengeluhkan hidupnya.

"Bisa saja kamu, Sari." jawab Ratna. "Hari ini kamu masakin apa buat saya?"

"Sop buntut kesukaan bu Ratna sama wedang ronde."

"Memangnya kamu bisa bikin wedang ronde? Atau, kamu beli di luar."

Lihat selengkapnya