"Napa, suka?"
Irish cuma tersenyum simpul sebagai jawaban ketika laki-laki berambut ikal itu menatapnya di depan sebuah karya seni dua dimensi. Akhirnya Irish menerima ajakan Dewa pergi ke pameran hari ini juga. Sebenarnya Dewa tidak sedang menepati janjinya untuk Poppy karena orang yang bersamanya saat ini jelas bukan Poppy, melainkan saudari kembarnya yang diam-diam menaruh rada suka terhadapnya.
"Baru kali ini gue liat lu sebegitu terkesimanya sama lukisan!"
"Lukisannya bagus," jawab Irish singkat.
Dewa menyilangkan tangan di depan dada, turut mengamati gambar yang dilukis dengan cat minyak tersebut. "Lu suka genre romantis?"
Irish mengedikkan bahu, "nggak juga. Tergantung emosi sih ... pernah seketika tertarik dengan sebuah lukisan realisme bergambar rumah. Entah itu karena jiwa gue yang kesepian atau emang karya itu bagus. Tapi, emang karya-karya Leonid Afremov gue suka semua. Lovers Alley Adalah favorit gue."
Dewa menatap Irish dengan mata heran, "hah? Nggak salah denger gue?"
Ups, Irish menggigit bibir bawahnya sembari menutup mata erat-erat. Gawat! Dia melakukan kesalahan kecil."Eh, gue terlalu berlebihan ya?"
"Bentar, bentar." cegat Dewa dengan senyum yang tersungging, "sejak kapan lu tau tentang dunia lukisan dan tertarik dengan lukisan!?"
"Enak aja, gue juga pernah sekolah kali ... kalau sekedar pengetahuan kecil tentang karya seni juga gue rasa udah diajarin di sekolah dasar!"
"Iya juga. Tapi masalahnya lu pernah bilang waktu itu kalau lu nggak tertarik sama apapun yang berbau seni. Inget, lu kan pernah nolak lukisan gue waktu itu."
Benar kata Poppy, Dewa ini orangnya detail dan punya ingatan yang kuat. Tapi entah mengapa Irish juga tak sanggup menolak desakan untuk berterus terang akan detail kecil tentang dirinya yang Dewa harus ketahui juga. Tapi belum saatnya. "Waktu itu ... tapi sekarang gue udah mulai open minded. Gue upgrade minat dan bakat gue!"
"Oh ya?" cibir Dewa sambil beranjak pergi menuju ke lukisan lainnya.
Dewa bilang dia pernah melukis untuk Poppy dan ditolak. Jika Irish ada diposisi itu, pasti akan bersedia dengan suka hati. Tiba-tiba saja terbesit sebuah ide. "Dew, gimana kalau lu ngelukis lagi buat gue?"
"Sekarang?"
"Ya enggak lah, masa sekarang? Lu bisa kan ngelukis lagi buat gue?" tatap Irish dengan binar serius.
Dewa justru terkekeh sambil menepuk pundak Irish, "lu kocak banget tau nggak! Poppy, Poppy."
Irish menatapnya nanar, "why?"
"Why? Lu kenapa tiba-tiba aneh minta gue ngelukis buat lu ... hah? Curiga gue."
Curiga? Benar. Sangat mencurigakan jika tiba-tiba Poppy memintanya melakukan sesuatu. Seingat Dewa, sahabatnya ini adalah orang yang paling anti dan gengsi untuk bergantung dengan orang lain. Apalagi memintanya untuk melukisnya. Itu sama saja dengan menjilat ludahnya sendiri.
"Ya udah sih kalo lu nggak mau. Gue juga nggak butuh-butuh amat!" jawab Irish setelah cukup lama terdiam.
"Kalo gue senggang, ya? Tiba-tiba banget."
"Ha?"
"Kagak, udah mulai panas nih!" Kepalanya mendongak ke atas. Terik mentari mulai menyengat membuat Dewa menarik-narik kain kemejanya.
"Kita cari minum dulu, gimana?" Irish menawarkan. Dewa mengangguk cepat.
"Disana kayaknya ada kedai es kopi enak, lu mau nggak?"