Be-tween

sk_26
Chapter #19

Good morning!

Poppy bangun dengan tubuh yang berat. Seluruh otot-ototnya terasa remuk redam seperti baru saja dikeroyok masa. Bagaimana tidak, ia yang belum pernah dan tidak terbiasa berolahraga tiba-tiba saja disuruh pilates sampai lima jam. Itupun jika ia tidak merengek, Lani dan Ratna akan menambah durasinya dua jam lagi. Tidak heran mengapa Irish selalu mengatakan tidak suka dan selalu mencari alasan.

Pagi ini, kantuk masih melanda. Pukul delapan lewat tiga puluh menit, Sari datang dengan teriakan yang sama sejak pagi pertama. Namun kali ini teriakan itu begitu mendesak, yang membuat Poppy berulang kali menutup telinga dengan bantal.

"Non, non Irish disuruh segera keluar kamar, non! Ibu Ratna dan nyonya Lani dari tadi nanyain non Irish terus!"

Masa bodoh! Pekik Poppy. Mereka selalu seperti itu. Dan jika Poppy tidak segera membuka pintu, pasti ketukan itu beralih ke tangan Oma. Poppy muak sekali. Lagipula, tubuhnya terasa begitu sakit dan perlu tidur cukup lama. Tak perduli nanti malam adalah pesta ulang tahunnya, yang ia mau sekarang hanya berbaring malas-malasan di kamar seharian.

"Bi Sari bilang ya, kalau Irish lagi pegel pegel habis yoga kemarin!" teriaknya dari dalam kamar.

"Baik, non. Nanti akan saya sampaikan." Sari lantas menuruni anak tangga menuju ke lantai dua.

Sementara Poppy kembali merangkak ke kasurnya yang tak ingin ia tinggalkan. Tapi menit berikutnya, pintu kembali diketuk. Ya tuhan, sungguh mereka sangat menguji kesabaran. "Gue janji, besok pagi gue pasti udah bangun di kontrakan gue sendiri!" Sedikit tersungut ia menuju ke pintu untuk menghadapi siapa yang sengaja membuatnya kesal.

Tapi, "hi, good morning!" sapa seseorang yang berdiri di depan pintu. Menatap Poppy dengan senyum terpancar. Bukan mama, bukan Oma, juga bukan papa.

"K-kamu?" ucap Poppy terbata. Laki-laki itu mengamati dari ujung kaki hingga puncak kepala. Poppy baru sadar jika ia masih berseragam piyama satin serta rambut yang awut-awutan. Sementara netranya menatap nanar ke wajah yang tampak sangat asing di hari yang masih pagi. Sekali lagi laki-laki itu tersenyum bagaikan sorot mentari yang menembus bumi.

Belum sepenuhnya mengerti siapa yang ada di hadapannya, suara derap kaki kemudian terdengar nyaris bersamaan. Menampakkan Lani dan Ratna yang datang sembari menyatakan, "sudah dari tadi Keanu nungguin kamu di bawah. Kamu kenapa lama sekali sih?" protes Ratna.

"Iya, astaga ... putri mama masih berantakan seperti itu. Maafin ya, nak Keanu."

Keanu? Dia Keanu yang diceritakan Irish? Tapi, bagaimana bisa dia datang dengan cara seperti ini. "Ma, badan Irish sakit semua karena pilates kemarin." gerutunya memegangi pinggang yang sakit.

Lani tersenyum kecil, sementara Oma mengirim kode agar Poppy segera membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian. Poppy segera balik badan lalu melakukan apa yang Oma instruksikan walau sedikit tertatih. "Keanu, kita ngobrol di ruang tamu sambil menunggu Irish, bagaimana?" tawar Ratna.

Keanu setuju dan mengangguk. Mereka meninggalkan kamar Poppy dan bergerak menuju ke lantai satu. Tempat dimana Martin sejak tadi menikmati seduhan kopi pahit ditemani selembar surat kabar.

Sementara Poppy yang masih berkutat di kamar mandi, hampir tak melakukan apa-apa selain berbicara dengan cermin. Dia sangat gugup dan tak tahu apa penyebabnya. Laki-laki bernama Keanu itu tidak seperti yang Poppy bayangkan. Dalam benak Poppy Keanu adalah makhluk berkacamata tebal, kepala plontos, serta perut yang sedikit membuncit. Irish tidak pernah menjelaskan secara spesifik tentang visual laki-laki itu. Dan hari ini, ia dapati perwujudan itu bertolak 360° dengan apa yang ia gadang selama ini. Benar-benar definisi good looking yang sesungguhnya.

"Entah kenapa, gue selalu gugup saat menyambut orang-orang baru di rumah ini." ia bermonolog ketika selesai membasuh seluruh tubuhnya. Kali ini ia juga terlihat lebih mahir dalam mengatur rambutnya. Tidak seburuk waktu itu. Di deretan lemari pakaian, dua dress floral dengan dua warna berbeda menjadi pilihannya. Dengan asal meletakkan kedua gaun itu di atas ranjang. Tapi mengapa ia memilihnya? Benarkah Poppy ingin terlihat feminim didepan Keanu? Orang yang bahkan ia tidak pahami. Orang yang tidak Irish harapkan sekaligus tujuan mengapa dirinya ada di depan cermin besar di kamar ini. Entahlah.

Pilihan telah diputuskan meski awalnya ragu. Meninggalkan dress jingga, Poppy justru memingit gaun floral biru muda dengan aksen bunga Aster yang mendominasi. Poppy tidak tahu apakah Irish pernah mengenakan gaun ini. Poppy hanya suka dengan material kain yang ringan serta halus itu dan ia ingin mengenakannya sekarang.

Seperti biasa, lipstik warna persik adalah andalannya. Ia menyapu dengan lembut penuh perhitungan, namun tetap memberikan hasil yang natural nan segar. 'Oke, Poppy siap menghadapi siapapun dibawah', kemamnya.

"Aduh, yang nggak bisa tidur semalam ... tiba-tiba sudah cantik aja!" celetuk Martin begitu Poppy masuk ruangan. Seluruh mata kini terpusat pada satu objek yang sama.

Lihat selengkapnya