Lantai marmer putih di kediaman Pramudya selalu terasa dingin, bahkan di puncak kemarau sekalipun. Bagi Shevana, dingin itu telah meresap hingga ke tulang-tulangnya selama dua tahun terakhir. Sejak ibunya, Sintia, meninggal dunia, Shevana memilih menyerahkan kebebasannya demi sebuah harapan semu: diakui oleh darah dagingnya sendiri.
Pagi itu, jam dinding baru menunjukkan pukul lima. Suasana rumah masih sepi, namun Shevana sudah berlutut di lantai ruang tengah, memeras kain pel ke dalam ember plastik. Tangannya yang polos tanpa perhiasan tampak kontras dengan kemewahan sofa beludru impor yang sedang ia bersihkan dari debu.
"Shevana!"
Suara lengkingan itu memecah keheningan pagi. Tanpa perlu menoleh, Shevana tahu siapa yang datang. Lista, istri sah papanya, berdiri di undakan tangga terbawah dengan piyama sutra berwarna marun. Wajah wanita paruh baya itu tampak tegang, matanya langsung tertuju pada ember pel di dekat kaki Shevana.
"Berapa kali saya bilang, kalau mengepel itu searah jarum jam! Kamu sengaja ya, mau bikin lantai ini baret-baret?" bentak Lista, suaranya sarat akan kebencian yang mendalam. Bagi Lista, setiap senti tubuh Shevana adalah pengingat hidup akan pengkhianatan Pramudya di masa lalu.
Shevana tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala, membiarkan rambut panjangnya menutupi ekspresi wajahnya. "Maaf, Tante. Saya bersihkan ulang," jawabnya lirih, nadanya datar tanpa emosi. Ketenangan Shevana justru sering kali membuat Lista semakin meradang.
"Anak haram dipelihara, ya begini. Enggak punya tata krama," cibir Lista sambil melangkah menuju dapur, sengaja menginjak bagian lantai yang baru saja selesai dipel Shevana dengan sandal rumahnya yang kotor.
Tidak lama kemudian, Sherena turun dengan langkah tergesa-gesa. Kakak tiri Shevana yang berusia 25 tahun itu sudah rapi dengan pakaian formalnya. Sebagai lulusan kedokteran yang cerdas dan berprestasi, Sherena adalah kebanggaan rumah ini. Namun pagi ini, wajah cantiknya ditekuk asam.
Sherena melempar tas kerja mahalnya ke atas meja makan dengan dentuman keras. "Ma! Papa mana? Sherena enggak mau ya, kalau proyek klinik baru itu diserahkan ke sepupu dari jalur AD Corps! Papa harusnya adil!" seru Sherena penuh pemberontakan. Sifatnya yang keras dan ambisius selalu membuatnya berani menentang keputusan sang papa jika tidak sesuai dengan keinginannya.
Lista yang sedang menuang teh hangat langsung menenangkan putrinya. "Tenang, Sher. Papa kamu pasti dengerin kamu. Kamu itu dokter, masa depan keluarga ini. Bukan kayak ... yang itu." Mata Lista melirik sinis ke arah Shevana yang kini sedang mengelap kaca jendela besar menghadap taman.
Sherena ikut menatap Shevana dengan pandangan merendahkan. Umur mereka hanya terpaut lima tahun, namun jurang pemisah di antara mereka begitu dalam. Sherena dengan gelar dokternya, dan Shevana yang hanya lulusan SMA, tidak kuliah, dan kini bekerja sebagai office girl.
"Heh, Shevana," panggil Sherena kasar. "Sepatu boots kulitku yang di rak depan belum kamu semprot cairan pelindung, kan? Cepat kerjakan. Jangan lelet, aku ada janji di rumah sakit jam tujuh."
"Iya, Kak. Sebentar lagi selesai," jawab Shevana tanpa menoleh.
Ketenangan Shevana adalah perisai terbaiknya. Di rumah ini, dia dianggap tidak ada jika tidak sedang dibutuhkan untuk pekerjaan rumah tangga. Tugas-tugas domestik sengaja dilimpahkan padanya oleh Lista dan Sherena, seolah-olah asisten rumah tangga yang digaji mahal di rumah itu dilarang menyentuh pekerjaan yang bisa dibebankan pada Shevana. Mereka kompak ingin membuat Shevana tidak betah dan pergi dengan sendirinya.
Tepat pukul enam pagi, Pramudya turun ke ruang makan. Pria paruh baya pemilik AD Corps—perusahaan raksasa di bidang industri makanan—itu tampil gagah dengan setelan jas hitamnya. Begitu Pramudya duduk, atmosfer ruangan langsung berubah formal.
Shevana menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia berdiri di sudut ruangan, memandang punggung papanya dengan tatapan rindu yang tertahan. Ia sengaja bertahan di rumah ini, menahan segala olokan dan perlakuan kasar Lista, hanya demi bisa melihat papanya setiap hari. Sesuatu yang tidak pernah bisa ia dapatkan saat ibunya masih hidup.
Namun, Pramudya bahkan tidak melirik ke arah sudut tempat Shevana berdiri. Bagi Pramudya, keberadaan Shevana di rumah ini hanyalah bentuk tanggung jawab minimal agar ia tidak dicap sebagai ayah yang menelantarkan anak, meski ia sendiri enggan mengakui Shevana di depan publik.
"Pram, anak harammu ini kapan mau kamu daftarkan kursus atau apa kek? Malu-maluin kalau ada kolega AD Corps yang tahu dia cuma luntang-lantung jadi pelayan," ujar Lista ketus di sela-sela sarapan mereka.
Pramudya menghentikan suapannya sejenak, melirik Shevana dingin. "Dia sudah bekerja di tempat pamannya. Itu sudah cukup untuk menghidupi dirinya sendiri. Jangan bahas hal yang tidak penting di meja makan."