Langkah kaki dengan tumit tinggi berdesis tajam di atas lantai marmer kelabu gedung menara tambang milik pamannya Shevana. Bagi Sherena, ini adalah kali kedua ia menapakkan kaki di tempat yang selalu membuatnya tidak nyaman. Setiap sudut bangunan ini seolah mengingatkannya pada eksistensi sang ibu dari si anak pungut—Sintia, wanita yang telah merebut sebagian perhatian papanya di masa lalu.
Sepanjang koridor dari arah lobi hingga menuju area lift eksekutif, bibir berlipstik merah merona milik gadis berusia dua puluh lima tahun itu tidak berhenti mengerucut. Ia menggerutu pelan, menatap jengkel pada map kulit tebal berwarna cokelat tua yang mendekam di dalam dekapannya.
"Papa ini apa-apaan, sih? Masa dokter muda kayak gue disuruh-suruh jadi kurir dadakan cuma buat nganterin berkas kepabeanan yang gue sendiri nggak tahu apa isinya? Mana harus diantar langsung ke Pak Baskoro lagi. Kenapa nggak disuruh ke sekretarisnya aja dari tadi?" omel Sherena dengan volume suara tertahan. Napasnya berembus kasar, menghempaskan poni rambutnya yang tertata rapi.
Kekesalannya semakin membubung tinggi karena jadwal istirahatnya yang berharga dari rumah sakit harus tersita untuk urusan korporasi AD Corps yang sama sekali bukan bidang keahliannya. Sifatnya yang keras dan pemberontak membuatnya merasa direndahkan jika harus melakukan pekerjaan domestik atau tugas kasar seperti ini, persis seperti rasa enggan yang selalu ia tumpahkan saat melimpahkan tugas rumah tangga kepada Shevana di rumah mereka.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai teratas. Sherena melangkah keluar dengan dagu terangkat tinggi, berusaha mempertahankan keangkuhan dan wibawa sebagai putri sulung keluarga Pramudya yang berpendidikan tinggi. Ia berjalan lurus menuju meja resepsionis dan meja sekretaris utama yang berada tepat di depan pintu ruang kerja Baskoro.
Di sana, ia langsung berhadapan dengan wanita berpenampilan rapi yang mengenakan papan nama bertuliskan 'Tamara'.
Tamara yang baru saja selesai merapikan beberapa dokumen di atas mejanya mendongak, sedikit terkejut melihat kedatangan putri dari pemilik AD Corps untuk kedua kalinya dalam bulan ini. Dengan profesionalisme yang terjaga, Tamara langsung berdiri dan menyunggingkan senyum ramah.
"Maaf, Mbak Sherena. Ada perlu apa yang bisa saya bantu?" tanya Tamara dengan nada suara yang sangat sopan.
Sherena menghela napas panjang, lalu dengan gerakan kasar sedikit menghempaskan map kulit cokelat itu ke atas meja kayu di hadapan Tamara. "Nih, gue mau nganterin ini berkas. Suruhan langsung dari Papa buat Pak Baskoro," ketusnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan tidak sabar. "Orangnya di dalem kan? Nggak lagi ke luar kota atau rapat di tempat lain, kan?"
Tamara melirik map tersebut sebelum kembali menatap Sherena dengan senyuman canggung. "Ah, iya, Pak Baskoro ada di dalam ruangan, Mbak. Kebetulan beliau sedang menerima tamu penting sejak tiga puluh menit yang lalu untuk membahas proyek ekspor-impor kuartal kedua. Tapi kalau drafnya memang harus diserahkan sekarang, Mbak Sherena bisa langsung masuk untuk memberikan secara singkat."