Langkah kaki dengan ketukan yang mantap namun penuh kehati-hatian terdengar menggema di sepanjang koridor area belakang gedung menara tambang. Berbeda dengan lantai atas yang dilapisi karpet tebal berbulu mewah, koridor di lantai semi-basement ini hanya berupa lantai tegel abu-abu yang bersih. Pintu-pintu di kanan kiri koridor ini memuat papan penunjuk seperti 'Ruang Genset', 'Gudang Inventaris', dan sebuah ruangan di ujung lorong bertuliskan 'Ruang Istirahat Karyawan OG'.
Pria paruh baya bertubuh tegap yang menjadi pimpinan tertinggi di gedung ini berjalan tanpa pengawalan sekuriti. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah kantong plastik putih berisi satu kotak nasi hangat dan sebotol air mineral dingin. Begitu jam istirahat makan siang berdenting, ia langsung meninggalkan meja kerjanya yang penuh dengan dokumen pelabuhan, memilih untuk turun ke tempat yang jarang tersentuh oleh para eksekutif.
Baskoro mendorong pintu kayu sederhana itu dengan perlahan. Di dalam ruangan yang tidak terlalu luas namun tertata rapi dengan beberapa loker besi, tampak seorang gadis berusia dua puluh tahun sedang duduk di kursi kayu panjang.
Gadis itu, Shevana, masih mengenakan seragam katun biru tuanya yang tampak sedikit kusut di bagian lengan. Rambut panjangnya diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut yang basah oleh keringat di sekitar pelipisnya. Tangan kanannya sedang memegang selembar tisu, menyeka bulir-bulir keringat yang membasahi leher dan keningnya setelah menghabiskan waktu berjam-jam membersihkan kaca dan koridor lantai dasar.
Mendengar suara pintu yang terbuka, Shevana mendongak dengan riak wajah yang terkejut. Ketenangan yang biasa menghiasai wajah polosnya terusik sejenak saat melihat siapa yang melangkah masuk ke dalam ruang istirahatnya.
"Paman? Kok Paman bisa kesini?" tanya Shevana, suaranya yang lembut terdengar sedikit berbisik karena cemas jika ada karyawan lain yang melihat sang pemilik perusahaan tambang berada di ruangan mereka. Ia bergegas berdiri dari duduknya, merapikan baju seragamnya dengan canggung.
Baskoro hanya tersenyum hangat, senyuman yang sangat berbeda dengan gurat formal yang ia tunjukkan saat bersama rekan bisnisnya di atas tadi. Ia melangkah mendekat lalu meletakkan kantong plastik bawaannya di atas meja kayu panjang di depan Shevana.
"Paman sengaja turun ke sini begitu jam istirahat dimulai," ujar Baskoro lembut, menepuk bahu keponakannya itu dengan kasih sayang seorang ayah. "Kamu pasti belum makan siang, kan?"
Shevana melihat ke arah kantong plastik di atas meja, lalu kembali menatap pamannya dengan senyum tipis yang menenangkan. "Belum, Paman. Tadi baru aja mau duduk istirahat dulu sebentar sebelum cari makan di kantin luar."
"Untung kalau begitu. Paman sengaja membelikan nasi kotak lauk ayam bakar kesukaanmu di restoran depan kantor. Masih hangat, ayo dimakan sekarang," sahut Baskoro sambil menarik salah satu kursi kayu untuk duduk di hadapan Shevana, mengabaikan fakta bahwa setelan jas mahalnya bergesekan dengan perabotan sederhana di ruang OG tersebut.
Shevana kembali duduk perlahan. Ia membuka ikatan plastik putih itu dengan gerakan yang sangat teratur dan rapi. Aroma gurih ayam bakar bercampur sambal terasi langsung menguar di udara, memicu rasa lapar di perutnya yang sudah keroncongan sejak pukul sebelas siang tadi.