Be yours

Safira
Chapter #4

BAB 4

Langkah kaki Shevana terdengar sangat pelan saat ia melangkah masuk melalui pintu belakang kediaman Pramudya. Jam dinding di area dapur bersih menunjukkan pukul tujuh malam. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah menghabiskan waktu seharian membersihkan area koridor gedung perkantoran, namun ketenangan di wajahnya tetap tidak terusik. Ia meletakkan tas kain sederhananya di atas kursi dapur, bersiap untuk memulai tugas domestik malamnya seperti biasa.


Namun, sebelum Shevana sempat melangkah menuju area ruang tengah untuk mengambil perlengkapan menyapu, seuntai suara melengking yang sangat familier tertangkap oleh indra pendengarannya. Suara itu berasal dari ruang keluarga utama yang megah.


"Papa... pliss... Hubungin Pak Baskoro sekarang juga, Pa!"


Shevana menghentikan langkahnya tepat di balik pilar pembatas antara dapur dan ruang tengah. Dari posisinya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas suasana ruang keluarga yang diterangi lampu kristal gantung yang mewah. Di atas sofa beludru merah, tampak Sherena sedang merengek manja, kedua tangannya bergelayut erat pada lengan kanan Pramudya yang masih mengenakan kemeja kerjanya.


Sherena menggoyang-goyangkan lengan papanya dengan raut wajah yang dipenuhi kepanikan sekaligus ambisi yang menggebu-gebu. "Papa dengerin Sherena dulu, dong! Pokoknya aku tuh mau dikenalin secara resmi sama yang namanya Arsena. Papa harus bantu aku!"


Pramudya yang sedang memegang tablet pintar berisi laporan keuangan AD Corps tampak menghela napas panjang. Ia menurunkan tabletnya sedikit, melirik putri sulungnya dengan dahi berkerut. "Sherena, lepaskan dulu tangan Papa. Kamu ini sudah umur dua puluh lima tahun, sudah jadi dokter, masa kelakuannya masih merengek seperti anak kecil begini?"


"Biarin! Aku nggak peduli mau dibilang kayak anak kecil atau apa," sahut Sherena ketus, bibirnya mengerucut manja namun tangannya justru semakin erat memeluk lengan sang papa. "Papa nggak tahu aja gimana sosok Pak Arsena itu. Tadi siang pas aku anterin berkas ke kantor Pak Baskoro, aku ketemu dia di sana. Dia itu bener-bener luar biasa, Pa! Karismanya, tampangnya... semuanya sempurna. Sherena belum pernah ketemu cowok kayak begitu!"


Lista yang baru saja datang dari arah kamar dengan mengenakan daster sutra mewahnya langsung ikut duduk di samping Sherena. Wanita paruh baya itu tampak tertarik dengan topik pembicaraan putrinya. "Ada apa ini, Sher? Siapa itu Arsena? Kok kamu sampai seheboh ini?"


Sherena menoleh ke arah mamanya dengan mata yang berbinar-binar. "Ma! Dia itu rekan bisnisnya Pak Baskoro di proyek ekspor-impor pabean yang baru! Namanya Arsena Banyu Pradikta. Kata Pak Baskoro, dia yang pegang kendali penuh atas jalur hijau di pelabuhan utama. Masih muda, umurnya sekitar tiga puluh tiga tahun, tapi auranya... gila, Ma, berwibawa banget!"


Lista langsung mengangguk-angguk setuju, matanya berbinar melihat peluang besar untuk masa depan putrinya. "Pram, kalau memang pemuda itu sehebat yang dibilang Sherena, kamu harus bantu anak kita. Kamu kan tahu sendiri, Sherena ini lulusan kedokteran, cantik, dan berkelas. Sudah sepantasnya dia bersanding dengan pria dari kalangan atas yang punya pengaruh besar seperti Arsena itu."


Pramudya meletakkan tablet pintarnya sepenuhnya ke atas meja kaca. Ia memijat pelipisnya yang terasa sedikit pening. "Kalian berdua ini berpikir terlalu sederhana. Hubungan bisnis Papa dengan Baskoro itu murni profesional untuk urusan AD Corps. Papa tidak bisa tiba-tiba menelepon Baskoro hanya untuk urusan perjodohan atau perkenalan anak perempuan Papa. Itu tidak etis dalam dunia bisnis."


"Ih, Papa mah begitu banget sama anak sendiri!" rengek Sherena lagi, kakinya menghentak-hentak karpet bulu di bawahnya dengan kesal. "Papa tinggal telepon Pak Baskoro, tanya nomornya Arsena, atau bikin janji makan malam bersama atas nama relasi AD Corps. Susah banget apa, sih? Dia itu kan rekan bisnis pamannya si anak pungut itu, otomatis Pak Baskoro pasti tahu segala hal tentang dia!"


Mendengar sebutan "si anak pungut" ditekankan oleh Sherena, Shevana yang berdiri di balik pilar hanya bisa mengepalkan tangannya tersembunyi di balik saku rok seragamnya. Ketenangan hatinya terusik bukan karena olok-olok itu, melainkan karena nama 'Arsena' kembali disebut dengan begitu gencar di rumah ini.


"Sherena, jaga bicaramu," tegur Pramudya dengan suara baritonnya yang tegas, meski nadanya tidak menyiratkan kemarahan yang besar. "Jangan bawa-bawa urusan keluarga lain di sini. Baskoro memang paman dari ... dia, tapi di dunia kerja, Baskoro adalah pebisnis tambang yang sangat dihormati. Papa tidak bisa sembarangan memanfaatkan koneksinya untuk urusan pribadi kamu."


"Tapi Papa... pliss..." Sherena memasang wajah paling memelas, menyandarkan kepalanya di bahu Pramudya. "Ini demi masa depan Sherena juga. Kalau Sherena bisa dekat dengan Arsena, itu juga bakal menguntungkan buat posisi AD Corps di mata hukum pabean, kan? Papa selalu bilang kalau relasi itu nomor satu. Sekarang saat Sherena mau usaha cari relasi yang bagus, Papa malah nggak mau dukung."


Lista ikut menimpali, memanas-manasi suaminya. "Benar apa kata Sherena, Pram. Kamu jangan kaku begitu jadi orang tua. Zaman sekarang, menjodohkan anak dengan pebisnis besar yang memegang jalur logistik utama itu adalah langkah strategis. Lagipula, kurang apa coba anak kita ini? Dia dokter muda yang berprestasi. Pasti pemuda bernama Arsena itu juga akan tertarik kalau kalian dipertemukan dalam suasana yang formal."


Pramudya terdiam sejenak, tampaknya mulai mempertimbangkan kata-kata istri dan anak sulungnya. Sifatnya yang selalu mementingkan keuntungan korporasi AD Corps perlahan mulai goyah oleh argumen taktis yang dilontarkan Lista.


"Papa pikir-pikir dulu," ujar Pramudya akhirnya, suaranya kembali dingin dan datar. "Papa tidak janji bisa langsung menghubungkan kalian minggu ini. Papa harus melihat momen yang pas saat rapat koordinasi kuartal kedua dengan pihak tambang Baskoro nanti."


"Beneran ya, Pa? Papa janji ya?!" seru Sherena gembira, langsung menegakkan tubuhnya dengan senyum kemenangan yang mengembang lebar di wajah cantiknya. "Pokoknya Papa harus secepatnya hubungin Baskoro. Sherena nggak mau tahu, Arsena harus jadi milik Sherena!"


Shevana menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menetralkan gemuruh halus di dadanya. Ia memalingkan wajahnya dari pemandangan ruang keluarga itu, memilih untuk melangkah memutar menuju dapur belakang guna mengambil sapu dan kain lap. Di dalam pikirannya yang tenang, ia hanya berharap agar ambisi besar kakaknya tidak menimbulkan kekacauan baru yang bisa mengusik ketenangannya yang sudah susah payah ia bangun di rumah mewah yang dingin ini.


Lihat selengkapnya