BEAUTIFUL AURORA: BERANDAL
Suasana di SMA Jakarta 1 hari ini begitu cerah, apalagi ini adalah hari pertama semester baru sekaligus penerimaan siswa-siswa baru di sekolah ini. Akan tetapi, SMA ini memiliki keunikannya sendiri. Seperti:
[1] Tidak ada yang namanya MOS (Masa Orientasi Siswa) atau sekarang disebut MOPD (Masa Orientasi Peserta Didik).
[2] Walau sekolah ini campuran, tetapi tidak ada sama sekali murid perempuan. Jadi, seratus persen semua murid di SMA Jakarta 1 adalah siswa laki-laki.
Dengan begitu, anak-anak kelas sepuluh sudah bisa langsung memasuki kelas yang telah ditetapkan oleh guru yang mengurus. Akan tetapi, terjadi sesuatu yang sedikit menghebohkan di salah satu kelas dua belas.
“Hui! Lo siapa?” hardik salah satu siswa kelas dua belas bersama teman-temannya.
“Gue?” seorang siswa yang masih memakai atribut SMP menoleh, dan menunjuk dirinya sendiri. “Gue anak baru sekolah ini.”
“Itu pun kami juga tahu! Tapi lo kenapa di sini? Anteng-anteng duduk bersandar lagi,” seru salah satu murid kelas dua belas.
“Loh? Ini bukan kelas sepuluh?” Murid berseragam SMP itu terlihat kaget.
“Bukanlah, bego! Mata lo ke mana? Udah jelas papan di atas pintu tertulis kelas dua belas B!”
“Oh…” siswa kelas sepuluh itu mengangguk-angguk, lalu berdiri sambil menenteng tasnya. “Pantas aje kalian sudah memakai seragam SMA, abang kelas rupanya,” lanjutnya sambil cengengesan.
Siswa kelas sepuluh yang masih memakai atribut SMP itu langsung mengacir keluar kelas, sedangkan siswa-siswa kelas dua belas lainnya mulai duduk di kursi masing-masing. Selagi asyik mengobrol, perhatian mereka teralih ke arah pintu karena mereka mendengar suara ketukan.
“Yaelah! Lo lagi! Lo lagi!” Hampir semua murid Kelas dua belas B mengeluh, mengira yang mengetuk pintu adalah guru.
Siswa kelas sepuluh tadi menongolkan kepalanya dari balik pintu, menyengir kuda dan menggaruk-garuk kepala. “Gue mau minta tolong, Bang.”
“Minta tolong apa?” tanya siswa kelas dua belas yang duduk dekat pintu.
“Itu… barisan kelas sepuluh di mana gerangan, ya? Tadi gue malah masuk ke perpustakaan,” tanyanya mantap.
Kelas mendadak hening.
***
BEAUTIFUL AURORA: BERANDAL
Di salah satu kelas sepuluh, yaitu kelas sepuluh A, suasananya sudah begitu ramai. Murid-murid menempati tempat duduk masing-masing. Ada yang sudah saling mengenal karena berasal dari SMP yang sama, tetapi ada juga yang tidak saling mengenal dan malas untuk berkenalan.
Guru yang sedari tadi berada di dalam kelas mengurus jadwal jam mengajarnya tampak menyadari hal itu. Tak lama kemudian, dia berdiri di depan murid-murid dan mengeluarkan suaranya.
“Pagi semua,” sapanya kepada murid-murid.
“Pagi,” murid-murid menjawab serempak.
“Mungkin dari kalian ada yang masih merasa canggung karena baru pertama kalinya kalian menduduki bangku SMA. Tapi Bapak harap kalian santai saja di sekolah ini, tidak jauh berbeda sewaktu kalian masih SMP. Belajar, ini, itu, dan lain-lain. Jadi, ya… begitulah, bisa?”
“Bisa,” semua murid kembali menjawab serempak, walau ada sebagian yang tidak mengeluarkan suara dan hanya menggerakkan bibir.
“Oke, pertama-tama perkenalan dulu. Nama Bapak, Andika, Bapak juga wali kelas kalian mulai saat ini. Tapi berhubung Bapak juga mau mengenal murid-murid Bapak, maka Bapak ingin kalian memperkenalkan diri satu per satu. Dimulai dari kamu.” Pak Andika langsung menunjuk murid yang duduk di sudut depan.
“Saya, Pak?” murid itu mencoba memastikan sambil menunjuk diri sendiri.
“Iya, kamu. Nanti habis kamu, lalu teman di sebelahmu, terus di sebelahnya lagi. Nanti kalau sudah mentok di ujung, lanjutkan lagi di belakangnya. Pokoknya sampai habis. Sudah jelas?”
“Jelas, Pak.”
“Oke, sekarang dimulai dari kamu. Dari nama lengkap dan nama panggilan.” Pak Andika kembali menunjuk murid tadi.
“Nama saya Kevin Brisma, biasa dipanggil Kevin.”
“Oke, Kevin. Selanjutnya kamu,” pinta Pak Andika sambil menunjuk murid di sebelah Kevin.
“Ane I Made Kharisma Yuda, panggilan ane Made.”
“Made? Oh, pasti orang Bali?”
“Iya, Pak,” Made mengangguk-angguk.
“Oke,” pak Andika terkekeh sejenak mendengar logat Arab-Indonesia dari Made. “Selanjutnya.”
“Resnu Abad Saputra, sering dipanggil Enu, Pak,” seru Enu memperkenalkan diri.
“Saya Bisma Ginandjar, tapi sering dipanggil Beng-beng, Pak.”
“Beng-Beng?” Pak Andika mengerutkan dahi.
“Iya, Pak,” Beng-Beng mengangguk polos.
“Kenapa dipanggil Beng-Beng? Nama lengkap sama nama panggilan kok jauh amat?” Pak Andika tampak penasaran.
“Suka makan cokelat Beng-Beng kali, Pak. Makanya dipanggil begitu,” celetuk Kevin, membuat suasana kelas riuh dengan tawa kecil.
“Kevin, yang sopan.” Pak Andika langsung menegur, lalu kembali fokus. “Jadi, Beng, kenapa kamu dipanggil Beng-Beng?”
“Ya… itu tadi, Pak,” jawab Beng-Beng.
“Apanya?” Pak Andika semakin tidak mengerti dengan penjelasan Beng-Beng yang tidak jelas.
“Ya tadi itu udah dijawab, gara-gara dari kecil suka makan Beng-Beng. Karena itu dipanggil Beng-Beng dari TK sampai sekarang ini.”
Suara tawa menggelegar di setiap penjuru kelas yang mendengar Beng-Beng mengiyakan celetukan Kevin tersebut yang benar adanya. Begitu juga Pak Andika yang tertawa kecil.
“Ada-ada saja. Oke, selanjutnya.” Pak Andika meminta lagi untuk melanjutkan.
“Felix Dewantara, panggilan saya Felix,” kata Felix sambil menyender di dinding.
Pak Andika mengangguk-angguk. Semua murid pun melanjutkan memperkenalkan diri sampai benar-benar tidak ada yang tersisa. Setelah itu, Pak Andika kembali membuka suaranya.
“Oke, Bapak harap dengan perkenalan ini kalian sudah bisa saling mengenal teman-teman kalian di kelas ini. Oh, hampir lupa. Sekarang Bapak mau memberitahu aturan selama kalian di sekolah ini. Jadi—”
Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan Pak Andika. Guru ini lalu menoleh ke arah pintu dan melihat murid kelas dua belas menongolkan diri dari depan pintu.
“Ya, masuk.”
Murid kelas dua belas itu kemudian masuk, diikuti seorang murid yang masih memakai atribut SMP di belakangnya.
“Maaf, mengganggu, Pak. Ini ada murid kelas Bapak dari tadi mencari kelasnya ini,” murid kelas dua belas itu langsung menunjuk murid berpakaian SMP di belakangnya.
“Loh? Kan tadi sudah diumumkan pakai pengeras suara arah kelas sepuluh di mana, kelas sebelas di mana, kelas dua belas di mana. Di depan kelas juga sudah ada daftar namanya.”
“Kagak tahu juga saya, Pak. Ini saja saya terpaksa menolongnya. Udah tiga kali dia salah masuk kelas, Pak.”
“Waduh.” Pak Andika tampak kaget dan langsung melihat siswanya yang masih berpakaian SMP tersebut. “Ya sudah, terima kasih.”
“Baik, Pak.” Murid kelas dua belas tersebut lalu keluar kelas.
Setelah murid kelas dua belas itu pergi, Pak Andika langsung saja bertanya kepada murid tersebut.
“Memangnya dari mana saja tadi?”
“Itu… dari kelas Abang tadi, lalu ke perpus, kantin, lalu ke kelas sebelah kelasnya Abang tadi.”
“Weleh, kamu tersesat?”
“Begitulah, Pak,” murid itu langsung cengengesan.
“Ada-ada saja. Oh, iya. Tadi semua sudah memperkenalkan diri, jadi tinggal kamu saja yang belum. Ayo, sekarang perkenalkan diri di depan semuanya,” pinta Pak Andika untuk murid tersebut.
Murid itu lalu diarahkan berdiri tepat di depan teman sekelasnya, membuat jadi merasa canggung dan kurang nyaman. Tapi dipikirkannya akan lebih canggung lagi kalau tidak cepat-cepat memperkenalkan diri, maka langsung saja dia melakukannya.
“Namaku Dion, panggilan Dion. Salam kenal semua.” Dion memperkenalkan diri sambil menundukkan sedikit kepalanya. Seusai itu, Dion menoleh ke arah Pak Andika. “Udah nih, Pak. Jadi udah boleh duduk?”
“Hah?” Pak Andika terkejut. “Udah?”
“Iya, Pak.” Dion mengangguk polos.
Pak Andika dan semua murid mengerutkan dahi. Lalu Pak Andika pun langsung bertanya karena penasaran. “T-Tunggu-tunggu! Nama panjangmu apa?”
“Dion saja, Pak. Kalau nama panjangnya, Diooon!” Dion mencoba melucu.
Mendadak hening. Dion pun merasa canggung karena leluconnya gagal.
“Sebentar, masa namamu cuma satu kata saja?” Pak Andika yang tidak percaya langsung keluar kelas untuk melihat daftar nama murid yang tertempel di pintu kelas.
Sesampainya di luar kelas, dia langsung saja mencari-cari nama Dion. Mukanya langsung datar karena benar apa yang dikatakan Dion tadi, kalau namanya hanya terdiri dari satu suku kata, yaitu Dion.
Pak Andika kembali memasuki kelas dan berbicara. “Ya… namanya beneran Dion saja. Jadi, Dion… itu… ya kamu boleh duduk. Itu bangku kosong di samping Bayu, kamu duduk di situ.”
“Oke, Pak.” Dion langsung mengacir ke tempat duduknya yang berada paling pojok belakang.
“Buset! Irit amat namanya tuh anak!” batin Pak Andika dan semua murid mengomentari nama Dion.
Setelah puas membatin, Pak Andika lalu melanjutkan pengarahan tentang aturan sekolah. Sedangkan Dion yang melihat teman sebangkunya tertidur, akhirnya ikut tertidur juga di dalam kelas. Ya, jadi Dion dan Bayu adalah murid SMA pertama yang ketiduran di kelas pada hari pertama sekolah baru mereka.
***
BEAUTIFUL AURORA: BERANDAL
Lain di SMA Jakarta 1, lain juga di SMA lainnya, dan kali ini di SMA Jakarta 23. Kalau SMA ini sama seperti SMA pada umumnya, masih menjalankan sistem MOPD dan murid-muridnya pun bercampur aduk.
Di halaman sekolah, tampak seorang wanita menghampiri seorang gadis yang asyik melihat balon melayang di udara.
“Imel?”
Wanita yang merasa dipanggil nama panggilannya langsung menoleh ke belakang dan membulatkan mata saat mengetahui siapa yang memanggilnya.
“Naomi!” Wanita yang dipanggil Imel itu langsung menghampiri dan memeluk Naomi.
“Ya ampun! Aku hampir enggak kenal sama kamu, loh. Sejak kapan rambutmu panjang begini?” Naomi terlihat senang sambil membelai rambut Imel.
“Yeee! Masa lupa? Dari kelas sembilan SMP, kan, aku udah niat memanjangkan rambut. Tapi seneng banget ternyata kamu juga sekolah di sini! Jadi ada temen, deh.”
“Aku dari dulu emang mau sekolah di sini. Kalau kamu?”
“Gara-gara ayahku. Dia, kan kepala sekolah di sini, makanya aku disuruh sekolah di sini juga. Bagaimana menurutmu soal rambutku? Cocok, enggak?” Imel langsung meminta pendapat Naomi.
“Iya, cocok banget! Coba begini dari dulu! Kan, lebih cantik jadinya. Eh, iya, nanti kita sekelas bareng, yuk?”
“Beres! Udah ada kelas yang dipinang, kok.” Imel mengiyakan.
Mereka berdua lalu mengobrol sampai akhirnya seorang gadis datang menghampiri sambil membawa dua buah minuman.
“Loh? Naomi?”
Naomi dan Imel langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Ve! Hei!” Naomi terlihat senang menyambut kedatangan gadis yang dipanggil Ve.
“Kamu di sini juga? Asyik! Ada teman lagi selain Melody,” kata Ve dengan ceria, sambil memberikan satu minuman kepada Imel.
“Dih! Dibilangin panggil aja Imel! Kayak baru kenal aja,” Melody memonyongkan bibirnya dan menyedot minumannya.
Naomi dan Ve hanya bisa tertawa melihat Melody yang sedang cemberut. Mereka bertiga adalah teman sewaktu SMP, walaupun dari kelas tujuh sampai kelas sembilan tidak pernah sekelas.
Walau begitu, dengan adanya orang yang dikenal selama SMP membuat rasa canggung mereka sedikit berkurang. Terlebih lagi Melody, karena saudari sepupunya juga bersekolah di sini.
Setelah puas beristirahat, kakak kelas yang menjadi panitia MOPD langsung menginstruksikan adik-adik kelasnya untuk memasuki kelas dan menunggu pengarahan baru.
“Yuk! Kita duduk paling belakang,” ajak Melody sambil menunjuk bangku yang sudah diduduki seorang gadis yang asyik memainkan topi kartonnya.
Sesampainya di situ, Melody langsung mengagetkan siswi tersebut hingga membuatnya terperanjat.
“Imel! Kaget, tahu,” ujarnya sewot.
Melody cengengesan. “Bengong melulu, sih. Eh, iya, Ve, Naomi, ini sepupuku, namanya Yona. Yona, kenalin, ini teman-temanku dulu waktu SMP.”
Yona pun berkenalan dengan Naomi dan Ve. Setelah itu, Melody, Ve, dan Naomi mulai duduk di kursinya masing-masing, lalu terjadi perbincangan ringan di antara mereka.
“Tuh, Mel, banyak cowok cakep tuh. Katanya mau sekali saja punya pacar,” goda Yona.
“Oh! Jangan-jangan memanjangkan rambutnya sengaja ya buat menggaet cowok?” sambung Naomi dengan tawa renyah.
“Apaan, sih? Enggak, ah!” Melody cemberut sambil menyilangkan tangan, membuat Yona, Ve, dan Naomi tertawa kecil.
“Tapi cowok yang di ujung depan kayaknya boleh juga, tuh, Mel,” Ve memberi tahu.
“Yang mana?” tanya Naomi.
“Itu yang paling ujung, yang duduk dekat cewek berambut pendek.”
Naomi, Melody, dan Yona pun melihat sosok yang dimaksud. Tampak seorang cowok begitu tampan dengan potongan rambut pendek yang hampir menutupi wajahnya.
“Iya, ya. Kayak cowok-cowok Jepang gitu. Manis juga senyumannya,” puji Melody sambil memperhatikan sosok yang dimaksud.
“Mending jangan, deh. Masa jeruk makan jeruk?” Yona tertawa sambil menyender di dinding.
“Loh? Kenapa?” tanya Melody penasaran, begitu juga Naomi dan Ve.
“Entar, ya.” Yona melepaskan sandarannya sambil tersenyum. “Ghaida!” panggilnya tiba-tiba.
Orang yang tadi dikira cowok Jepang oleh Melody langsung menoleh. Melihat Yona melambaikan tangan, dia pun membalas lambaian itu.
“Kenapa, Yon?” tanya Ghaida.
“Enggak, mau menyapa aja,” Yona terkekeh.
“Oh! Dasar!” Ghaida membalas sambil menjulurkan lidah.
Ghaida kembali berbincang dengan teman sebangkunya, sedangkan perhatian Melody, Ve, dan Naomi kembali tertuju kepada Yona.
“Itu cewek?” tanya Naomi.
“Temanku SMP. Mirip cowok banget, kan?” jelas Yona sambil tertawa.
Naomi, Ve, dan Melody melongo tak percaya, lalu kembali melirik ke arah Ghaida untuk memastikan.
Sementara itu, di bangku tak jauh dari mereka, ada empat orang cowok yang sudah asyik memperhatikan Melody, Naomi, Ve, dan Yona dari kejauhan.
“Cantik-cantik juga siswi-siswi kelas kita,” kata salah satunya dengan ekspresi terkagum-kagum.
“Soal cewek cepat amat lo, Yak,” komentar salah satu temannya sambil menopang kepala, meski matanya tetap tertuju pada Melody dan kawan-kawan.
“Bagaimana kalau lo ajak kenalan, Yak?” saran teman yang duduk di sampingnya.
“Boleh juga. Sebentar, gue rapikan rambut dulu.”
Pria berparas tampan itu lalu meludahkan ludah ke telapak tangan dan langsung membasahi rambutnya, membuat ketiga temannya merasa jijik.
“Kagak pakai ludah kali! Jorok amat lu,” hardik seseorang yang duduk di depannya.
“Ck! Ini, nih, kalau kagak tahu cara menggaet cewek! Pokoknya lo, Ega, Damar, Edgar! Liat cara berkenalan yang baik dan benar sama cewek dari gue, sang Maestro,” katanya dengan nada menyombongkan diri.
“Halah! Buktikan! Ayo sana,” tantang Ega yang masih menopang kepala.
“Tapi kalau sudah kenalan, jangan lupa kenalkan juga ke gue, ya?” pinta Damar.
“Iya, gue juga, ya,” sambung Edgar dengan semangat.
“Don’t wory, bawa hepi. Oke, gue on the spot ke sana, ucapnya dengan bahasa Inggris asal-asalan.
“On the way kali,” Edgar meralat, sehingga Damar dan Ega terkekeh.
Orang itu tidak memedulikan ralat dari Edgar. Ia terus melangkah menuju tempat Melody bersama Yona, Naomi, dan Ve. Saat jaraknya sudah dekat, ia langsung menyapa.
“Hai.”
Melody, Yona, Ve, dan Naomi serempak menoleh ke arah sumber suara dan melihat pemuda tampan yang tersenyum ke arah mereka.
“Kenalan, dong,” pintanya sambil menaruh tangan di pundak Melody.
Melody yang pundaknya disentuh langsung membulatkan mata. Tangan orang itu ia pegang, lalu ia berdiri dan memelintir tangan pemuda tampan tersebut ke belakang, menempelkan wajahnya ke meja.
“ALALALA!” Pemuda tampan itu meringis kesakitan menerima serangan dari Melody, apalagi tangannya dipelintir ke belakang.
“Yang sopan bisa enggak jadi orang?! Pegang-pegang segala!” hardik Melody, membuat dirinya menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasnya.
Yona, Ve, dan Naomi hanya tertawa geli melihat cowok tersebut yang tak mengira akan diserang oleh Melody. Karena mereka sudah tahu sifat Melody seperti apa.
“Mau kenalan? Gue Yona, ini Ve, yang ini Naomi, terus yang melintir tangan lo itu namanya Melody,” kata Yona sambil menepuk-nepuk pipi pemuda itu.
“Aaa… i-iya! G-Gue Arya! S-Salam kenal!” jawab Arya terbata-bata.
Melody menarik Arya dan menjewer kupingnya hingga jarak mereka menjadi sangat dekat.
“Jangan sok akrab lo jadi orang! Awas sekali lagi lo main pegang-pegang! Terutama teman-teman gue! Gue hajar lo!” ancam Melody.
“I-iya, Bang! Eh, Mbak! Eh!” Arya yang ketakutan mulai kebingungan memanggil Melody.
Melody langsung melepas dan mendorong Arya menjauh. Arya pun kalang kabut kembali ke tempat duduknya dan ditertawakan hampir seluruh kelas. Sementara itu, Melody kembali duduk sambil menyilangkan tangan dengan muka sebal.
“Keren, Yak! Lagi, dong!” pinta Ega, tertawa tanpa dosa.
“Oh… jadi cara kenalan sama cewek itu harus dihajar dulu, ya, Yak?” tanya Damar sambil mengangguk-angguk polos.
“Taik lo!” umpat Arya kesal kepada Damar. Sedangkan Edgar dan Ega semakin brutal menertawainya, kecuali Damar yang begitu polos masih percaya cara perkenalan Arya itu memang benar.
Tawa dari arah Arya dan kawan-kawan menarik perhatian Ve. Ia lalu melihat Ega yang tertawa renyah. Melihat itu, Ve hanya tersenyum karena baginya suara tawa pria tersebut terdengar lucu.
“Galak juga ya kamu,” salah satu dari dua gadis di depan Melody dan Yona mulai mengajak bicara.
“Oh, emm… enggak, kok. Dia-nya aja yang kurang ajar tadi,” kilah Melody.
“Emang galak, kok,” sambung Yona dengan tawa renyah yang membuat Melody cemberut.
Kedua gadis di depan mereka itu kemudian tertawa melihat Yona, Ve, dan Naomi menggoda Melody. Tak lama kemudian, mereka berdua memperkenalkan diri.
“Aku Hanna, lalu yang ini Grace. Salam kenal, ya,” Hanna berkata sopan sambil menjulurkan tangan untuk berkenalan, diikuti Grace.
Yona dan Melody lalu berkenalan, disusul Naomi dan Ve. Dari situlah, di hari pertama sekolah, hampir semua teman sekelas Melody sudah mengenalnya walau tidak berkenalan secara langsung. Dari aksinya tadi, mereka tahu kalau Melody adalah siswi yang galak.
***
BEAUTIFUL AURORA: BERANDAL
Hari berganti, bulan pun berganti.
Sudah lebih dari empat bulan waktu berjalan, dan SMA Jakarta 1 kini dipenuhi masalah, meski semuanya tak terendus pihak sekolah. Hal ini bukan hal mengejutkan, mengingat seluruh murid di sekolah itu adalah laki-laki.
Lalu terdengar suara pukulan ketika Enu melayangkannya kepada seseorang.
“Eeergh…” dua siswa kelas sebelas tampak meringis kesakitan, berusaha berdiri, namun kesulitan akibat hantaman Enu sebelumnya.
“Lain kali ramai-ramai! Jangan berlagak lagi lo melotot ke arah gue!” hardik Enu kepada keduanya.
“Awas lu!” sahut salah satu dari mereka.
Kedua siswa itu akhirnya berdiri dengan susah payah lalu pergi meninggalkan tempat Enu dan teman-temannya. Setelah memastikan keduanya menghilang dari pandangan, Enu menghampiri teman-temannya yang sudah duduk bersandar di dinding gudang belakang sekolah.
“Makin lama makin banyak juga yang mencari masalah ke kita,” ujar Made sambil menyeruput minumannya.
“Kagak bakal ada yang mencari masalah kalau muka Enu sama Kevin kagak begitu,” komentar Bayu dari atas pohon, bersama Dion yang sibuk memetik jambu.
“Memangnya muka kami kenapa?” tanya Kevin sambil mengerutkan dahi.
“Rasanya mau gue injak aje! Kayak ngajak berantem,” seru Bayu sambil tertawa.
“Sialan lu,” Enu menggerutu.
Tawa menggelegar terdengar di belakang gudang sekolah, mengejek Enu dan Kevin. Padahal, wajah mereka berdua sebenarnya lumayan tampan, tapi ekspresi juteknya membuat banyak orang tergoda untuk mengajak mereka berkelahi.
“Huuhh! Hok hiba-hiba hakit herut, ya?” kata Dion dengan mulut penuh gumpalan jambu yang sedang dikunyahnya.
“Ngomong tuh yang bener. Telen dulu baru ngomong,” komentar Felix dari bawah pohon.
“Haduuh!” Dion semakin meringis sambil memegangi perutnya. Tanpa banyak bicara, ia langsung meloncat turun hampir menubruk Felix.
“Buset, Yon! Kira-kira, dong!” protes Felix.
Dion yang sudah menelan jambu langsung berbicara tanpa memedulikan keluhan Felix. “Gue ke WC dulu! Adododoh!” Setelah itu, ia langsung lari menuju toilet sekolah.
“Main pergi saja tuh anak. Beng, susul gih. Nanti dia boker di kelas orang. Udah tahu tuh anak sampai sekarang masih suka tersesat,” ujar Bayu pada Beng-Beng.
“Iya juga lagi. Susul sana, Beng,” timpal Made.
“Yee, malah gue. Ya udah, sekalian mau ke koperasi,” Beng-Beng berdiri dan segera menyusul Dion sebelum temannya itu tersesat entah ke mana.
“Kalau bisa, sekalian lo tunggu Dion selesai boker, Beng,” kata Enu tiba-tiba.
Beng-Beng menghentikan langkahnya dan mengerutkan dahi. “Kenapa juga menunggu dia?”
“Siapa tahu tuh anak butuh orang buat cebok,” lanjut Enu sambil tertawa-tawa.
“Brengsek!” Beng-Beng bersungut-sungut lalu melanjutkan perjalanannya.
Setelah Beng-Beng pergi, mereka semua kembali melanjutkan obrolan. Made ikut bergabung dengan Bayu yang sedang asyik memetik jambu di pohon.
“Anyway, pulang sekolah mau ikut gue, kagak? Ketemu cewek-cewek cakep,” ajak Felix tiba-tiba.
“Cewek lagi! Cewek lagi! Sampai berdarah kuping gue dengar lo ngomong soal cewek melulu! Bukannya lo udah punya cewek? Yang tiap hari datang ke sini pas pulang sekolah?” sahut Enu.
“Siapa ceweknya Felix, Nu?” tanya Kevin.
“Siapa, ya...? Fika, Icha, lupa gue. Ada A-A gitu belakangnya. Siapa, Lix? Lupa gue.”
“Riskha! Begitu aje lupa lu,” Felix menggerutu.
“Ah, iya! Rishka! Dapat di mana tuh cewek, Lix? Mukanya mirip artis Revalina S. Temat kalau gue perhatikan.”
“Rahasia, dong!” dengus Felix bangga sambil melipat tangan.
“Terus cewek-cewek yang tadi lo bilang anak mana? Teman-teman pacar lo juga?” tanya Bayu.
“Bukan. Sekolah lain, makanya gue mau ajak lo semua. Ikut kagak?”
“Malas, mending gue ke rumahnya Dion. Main PS,” jawab Enu sambil menadahkan tangan untuk menangkap jambu yang dilempar Made dari pohon.
“Ke rumah Dion melulu! Sesekali cari cewek lah! Kagak bosan lo semua pada sendiri terus? Apalagi sekolah kita ini cowok semua.”
“Kagak masalah, bener kata Enu. Mending ke rumahnya Dion. Gue masih dendam kesumat sama bokap-nya, kalah melulu,” keluh Bayu.
“Masih sering kalah ente lawan bokap-nya?” tanya Made sambil terbahak-bahak.
“Bayu jadi sayur mayur dibikin sama bokap-nya Dion,” sambung Kevin.
“Taik lu,” dengus Bayu kesal.
“Heleeeh! Jadi mau ikut kagak, nih? Nyesal nanti lo pada! Cewek-ceweknya cakep pokoknya,” Felix mencoba mengajak lagi.
“Moh! Lu aje! Lagian cari mati amat lu. Udah tahu udah punya pacar, masih aje cari-cari cewek lain,” timpal Enu.
“Yo’i, kagak ikutan dah kalau nanti ente ada masalah sama cewek ente gara-gara itu,” sambung Made.
“Ya udah. Awas aje nyesal nanti,” dengus Felix puas.
“Ke kelas aje, yuk? Udah mulai panas gini juga,” ajak Kevin.
“Boleh, mau tidur juga ini,” Enu menyetujui.
“Eh, tunggu Dion sama Beng-Beng-lah. Nanti tuh dua bahlul cari-cari kita gimana?” cegah Made tiba-tiba.
“Alaah! Nanti pandai mereka menyusul ke kelas, kalau tahu kita udah kagak ada di sini. Buruan,” ajak Enu yang sudah berjalan bersama Kevin dan Felix.
Bayu dan Made mengangguk, mengambil beberapa buah jambu untuk dimakan di kelas, lalu turun menyusul. Selang beberapa menit kemudian, Dion keluar dari toilet dengan perasaan lega dan berniat kembali ke tempat mereka biasa berkumpul.
“Udah selesai, lu?” tanya Beng-Beng sambil menenteng penggaris panjang.
“Udeh. Ke sana lagi, yuk,” ajak Dion.
“Sebentar, gue ke kantin dulu. Haus, men.”
“Oh. Oke, deh. Kalau gitu gue duluan,.ya.”
“Eh, entar, Yon!” Beng-Beng buru-buru memanggilnya.
Dion yang sudah berjalan menghentikan langkahnya. “Kenapa?”
“Lo tahu kagak, arah menuju gudang belakang sekolah?”