Seorang wanita berusia dua puluh lima tahun sedang mengacak kesal perangkat komputernya. Seperti malam-malam yang terlewatkan sebelumnya, tanpa serial TV maupun sepiring kentang goreng sebagai teman mendengar lagu-lagu romantis di bulan Januari. Tak jarang Kim Gyuri harus berjaga hingga pagi demi tugas-tugas yang akan membawanya mencapai sebuah prestasi. Prestasi yang belakangan ini membuatnya tak mengenal malam minggu, malam pergantian tahun, malam pergantian musim, bahkan hari ulang tahunnya sendiri. Gyuri menjadi 'workaholic', dan itu sangat membuat kekasihnya tidak nyaman.
Selain itu, Gyuri harus tetap menjaga reputasi karirnya demi menjaga keberlangsungan hubungan dengan keluarga kekasihnya-seorang derektur perusahaan raksasa di Seoul.
Ia mengeluh pada jaringan wifi kantornya yang selalu menguji kesabaran setiap kali Gyuri bertugas sift malam. "Tidak bisa dikatakan kantor pusat terbaik jika wifi saja selalu seperti ini. Astaga!" Sembari meninju papan ketiknya yang tak berdosa.
Sesekali Gyuri menatap layar ponselnya yang hening tanpa suara notifikasi. Berbagai pertanyaan klasik terus berhamburan di sudut pikiran. Padahal beberapa menit lalu, lima pesan manis telah terkirim ke nomor seseorang dengan nama 'love' disana. Gadis berambut sebahu itu kembali mengaktifkan sidik jari, mengusap layar ponselnya yang dingin dan tenang. Hanya ada foto Daniel dan dirinya yang tersenyum lebar mengenakan pakaian toga kelulusan beberapa tahun silam.
Ujung telunjuknya memeriksa barangkali ponselnya turut mengalami masalah jaringan, namun semuanya baik-baik saja. Gyuri selalu menggunakan data seluler dengan kuota internet penuh untuk komunikasi pribadinya. Itu artinya, Daniel benar-benar sibuk dan tak ingin mengabarinya.
Ia segera menuju ke ruangan senior Chaeyeong untuk mengakses data penting yang sempat terkendala, sekaligus mencari teman mengobrol untuk mengalihkan suasana hatinya yang sedikit buruk. Jabatan senior-junior membuat ruangan mereka terpisah. Meski demikian, Gyuri nampak tenang menapaki tangga lantai dua dengan kondisi kantor yang mulai sunyi, sebagian lampu lampu ruangan memang sudah di redupkan, hanya menyisahkan dirinya dan atasan Chae yang berjaga, serta security diluar yang asyik memeriksa rekaman CCTV sambil menikmati seduhan kopi.
"Masalah itu lagi!?" Chaeyeong tersenyum kecil menyambut tamunya. Pintu ditutup dengan santai.
Gyuri menghela. "Kepala Jang menginstruksikan semua unit untuk segera menyelesaikan laporan bulan lalu ... jika tidak-"
"Ia akan memindahkanmu ke unit daerah?"
Gyuri mencebik, "sebetulnya bukan aku ... lebih spesifiknya para junior."
Chaeyeong menatap Gyuri yang tengah sibuk dengan filenya, "Gyuri, kasus di daerah lebih sederhana jika dibandingkan kasus pusat. setidaknya itu akan memberimu nafas lebih lega dan waktu untuk Daniel."
Gyuri menghentikan jemarinya yang beradu dengan papan ketik. "Mungkin!" Lalu melanjutkan ketikannya.
"Apa kau mengerti setelah kepala Jang meng-clearkan proposal dengan cepat?"
"Kasus baru menunggu." tebak Gyuri dan itu dikonfirmasi Chaeyeong dengan anggukan.
"Bukan kasus besar, namun menyangkut bintang besar!" tegas Chaeyeong dengan mata berbinar.
🍀🍀🍀
"Aku mencintaimu, Daniel!" Kalimat membosankan yang selalu Gyuri ucapkan pada pujaan hatinya di ujung panggilan. Sikap tidak berperasaan Daniel yang selalu mematikan telfon saat Gyuri belum selesai mengatakan kalimat manis itu.
Bagi Gyuri, Daniel adalah malaikat yang rupawan. Pria tak berdosa, baik hati dan juga setia. Apapun yang Daniel lakukan untuknya, Gyuri memaklumkan dengan dalih sisi wajar seorang pria. Daniel adalah hal yang paling utama melebihi dirinya.