Kael Everen hidup dalam dentang jam atom. Presisi adalah mata uangnya, efisiensi adalah agamanya, dan segala sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam spreadsheet adalah anomali yang harus segera dieliminasi. Ruang kerjanya di lantai eksekutif Everen Core adalah monumen minimalis bagi ketertiban: baja, kaca, dan keheningan yang nyaris sakral. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan berjalan tanpa cela, sebuah mesin raksasa yang melupakan cara melakukan kesalahan manusiawi.
Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, Kael sedang meninjau laporan keuangan kuartal ketiga dengan secangkir kopi hitam yang suhunya terukur sempurna. Dunia berjalan sesuai rencana, hingga sebuah getaran halus memecah konsentrasi. Bukan dari ponselnya, atau dari pager asistennya, tapi dari sesuatu yang terasa... primitif.
Di area parkir bawah, sebuah pemandangan surealis sedang terjadi. Sebuah motor bebek honda cup tua, yang chrome-nya sudah pudar dan bodinya penuh stiker bunga matahari, teronggok di sebelah Mercedes-Benz S-Class hitam mengilap milik Kael. Yang lebih parah, rantai sepeda yang berkarat melilit ban motor bebek itu, mengunci roda belakangnya ke pelek Mercy milik sang CEO.
Kael, yang mendapat laporan dari petugas keamanan yang kebingungan, menatap adegan itu dari jendela kantornya. Alisnya terangkat satu milimeter, satu-satunya tanda emosi yang ia tunjukkan dalam situasi darurat. Ini bukan vandalisme. Ini adalah... pernyataan.
“Siapa pelakunya?” tanyanya datar melalui interkom.
“Ehm, Nona Sena Alarelle, Pak. Karyawan magang baru di Divisi Pemasaran,” jawab suara asistennya ragu. “Dia bilang, katanya biar motornya nggak sendirian, Pak. Teori gravitasi sosial, katanya benda mati juga butuh teman.”
Kael menghela napas. Teori gravitasi sosial. Sebuah anomali yang baru saja menginvasi realitas presisinya. Sambil merapikan jasnya yang tak bernoda, ia melangkah keluar dari ruang kerjanya.
Di lobi utama, kekacauan lain sedang menanti. Sena Alarelle tidak terlihat seperti karyawan magang pada umumnya. Ia mengenakan blus putih yang terlalu besar, rok selutut dengan motif polkadot tabrak warna, dan sepatu kets merah menyala. Tapi yang paling mencolok adalah di kepalanya: sebuah helm full-face yang telah dimodifikasi secara ekstrem. Puncaknya ditambahkan corong kecil, dan selang plastik transparan menjuntai dari samping, berakhir di sebuah botol air mineral yang diikat di bagian dada dengan karet gelang. Sebuah teko berjalan.
Para karyawan di lobi menahan tawa, sementara beberapa ekspresi senior HR terlihat seperti baru saja menelan lemon.
“Selamat pagi!” sapa Sena dengan senyum selebar matahari, mengabaikan tatapan heran. “Maaf ya, parkirnya agak mepet. Mobil Bapak keren, jadi saya pikir motor saya bisa numpang aura kaya bentar.”
Kael mendekat, aura dinginnya memancar hingga radius tiga meter. “Nona Alarelle. Saya Kael Everen. Pemilik perusahaan ini dan juga pemilik mobil yang bannya Anda rantai.”
Sena tersentak. Wajahnya memerah malu, tapi senyumnya tak hilang. “Oh, Bapak! Kael! Pak CEO! Saya Sena. Salam kenal! Duh, maaf banget. Tadi pagi buru-buru, jadi cuma sempat modif helm ini. Low-tech, sih, tapi efektif buat hidrasi darurat.” Ia menepuk botol air mineral di dadanya.
“Helm teko,” komentar Kael, nadanya sedatar mungkin.
“Persis!” seru Sena bangga. “Teori hidrasi emosional. Kalau kepala adem, kerja juga lancar. Bapak mau coba? Masih ada sisa air mineral infused lemon dikit.”
Kael menatap lurus ke mata Sena, mencari celah logika di kepala gadis itu. Tidak ada. Hanya kepolosan murni dan kekacauan yang tak terorganisir. Ia menyadari, ini bukan sekadar karyawan magang. Ini adalah bug di sistem Everen Core, dan sebagai administrator, ia harus segera memperbaikinya.
“Ikut saya,” perintah Kael singkat, berbalik menuju lift pribadi eksekutifnya.
Sena, tanpa rasa takut, berlari kecil menyusulnya. “Siap, Pak Kael! Ruang CEO, ya? Katanya di sana jendelanya paling gede, bisa lihat kota. Saya suka kota. Teori urbanisme pasif.”