
Pagi kedua bagi Kael Everen dimulai dengan kecemasan yang tidak biasa. Biasanya, ritual paginya adalah mendengarkan ringkasan berita bursa sambil menyesap espresso tanpa gula. Namun hari ini, fokusnya terpecah. Matanya terus melirik ke arah pintu ruang kerjanya yang masih tertutup rapat, seolah-olah di balik kayu mahoni mahal itu, sebuah badai kategori lima sedang bersiap untuk menerjang.
Kael meletakkan cangkirnya dengan denting halus di atas meja kaca. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa kejadian kemarin—layar monitor yang dikelupas—hanyalah anomali statistik. Sebuah kebetulan kosmik yang menguntungkan karena berhasil mengungkap malware. Tidak mungkin ada manusia yang secara konsisten melakukan hal tidak masuk akal tanpa motif tersembunyi.
Namun, saat pintu itu terbuka, logika Kael kembali dipaksa bertekuk lutut.
Sena Alarelle masuk bukan dengan helm teko lagi. Hari ini, ia mengenakan topi pantai lebar di dalam ruangan dan membawa sebuah kantong plastik besar berisi tumpukan kertas berwarna-warni yang menyala.
“Selamat pagi, Pak Kael! Apa kabar jantung Bapak hari ini? Masih berdetak dalam format empat per empat?” sapa Sena dengan keceriaan yang nyaris ilegal untuk jam delapan pagi.
Kael tidak menjawab. Matanya tertuju pada tangan Sena yang membawa stempel besar milik departemen logistik. “Kenapa Anda membawa stempel itu ke ruangan saya, Sena?”
“Oh, ini!” Sena mengangkat stempel itu dengan bangga. “Tadi di bawah, manajer logistik bilang saya harus rajin menstempel laporan supaya semuanya sah. Jadi, saya pikir saya harus mulai dari hal yang paling penting.”
Sena melangkah mendekati meja kerja Kael. Sebelum Kael sempat mencegah, Sena sudah mengayunkan stempel itu dengan kecepatan tinggi ke arah layar monitor Mac Studio terbaru milik Kael.
“Sena, JANGAN!” pekik Kael.
DUG!
Stempel itu menghantam permukaan layar dengan bunyi yang sanggup membuat teknisi IT menangis darah. Beruntung, Sena lupa menekan tinta stempelnya, sehingga hanya meninggalkan jejak minyak samar berbentuk persegi.
“Sena Alarelle!” Kael berdiri, suaranya naik satu oktav. “Apa yang ada di dalam tempurung kepala Anda? Itu layar monitor, bukan kertas laporan!”
Sena mengerjap, menatap monitor lalu menatap stempelnya dengan bingung. “Tapi Pak, Bapak kan bilang semua yang keluar dari meja ini adalah laporan penting. Layar ini kan mengeluarkan data, berarti dia laporan yang berjalan. Saya cuma mau memastikan dia sah secara hukum.”