Beauty of Brains

Indah Serene Moon
Chapter #3

Logika yang Terkoyak



Bagi Kael Everen, estetika bukan sekadar masalah mata, melainkan masalah integritas. Kantor pusat Everen Core dirancang dengan filosofi Zen-Modernism: garis-garis lurus yang tegas, palet warna monokromatik, dan pencahayaan yang disembunyikan di balik plafon untuk menghindari bayangan yang tidak perlu. Baginya, ruang kerja yang bersih mencerminkan pikiran yang tajam.

Namun, di hari ketiga ini, pertahanan mental Kael mulai retak.

Sena Alarelle tidak hanya membawa dirinya ke dalam kantor Kael; ia membawa ekosistemnya sendiri. Meja kecil yang disiapkan Kael di pojok ruangan kini telah berubah menjadi sesuatu yang menyerupai instalasi seni abstrak yang gagal. Di sana ada pot kaktus yang dipakaikan syal rajut mini, tumpukan kaleng biskuit bekas yang dijadikan tempat berkas, dan sebuah koleksi miniatur ayam karet yang, menurut Sena, berfungsi sebagai penasihat spiritual divisi.

“Nona Alarelle,” Kael memulai, suaranya rendah dan terkendali, jenis suara yang biasanya membuat manajer senior gemetar. “Kita sudah sepakat soal profesionalisme. Meja itu terlihat seperti... pasar malam.”

Sena mendongak dari balik tumpukan dokumen yang sedang ia warnai dengan stabilo neon. “Pasar malam itu tempat yang bahagia, Pak. Bapak tahu tidak? Ruangan ini terlalu sepi. Kalau terlalu sepi, ide-ide jadi takut buat keluar. Mereka pikir ini pemakaman, bukan kantor.”

Kael memijat pelipisnya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke kota, mencoba mencari ketenangan di antara barisan gedung pencakar langit. “Ide tidak butuh dekorasi, Sena. Ide butuh struktur.”

“Struktur itu penjara kalau tidak ada lubang napasnya,” balas Sena enteng. Ia kemudian berdiri, membawa selembar kertas yang tersangkut di printer laser berharga puluhan juta di sudut ruangan.

Kael memperhatikan dengan ngeri saat Sena tidak menarik kertas itu secara paksa, melainkan menempelkan telinganya ke badan printer yang berwarna putih bersih itu.

“Sena, apa yang sedang Anda lakukan?”

“Ssst!” Sena mengangkat satu jari ke bibir. “Bapak jangan berisik. Dia sedang curhat. Namanya Barnaby. Barnaby bilang dia lelah mencetak laporan keuangan Bapak yang isinya cuma angka-angka menyedihkan. Dia butuh asupan yang lebih berwarna.”

Lihat selengkapnya