Keheningan di ruang CEO terasa jauh lebih berat dan menekan dari biasanya. Kael berdiri mematung di depan meja kerjanya sendiri, napasnya tertahan. Sisa suara distorsi digital yang barusan mengancam lewat speaker komputer masih terngiang jelas di telinganya. Namun, saat ia mengerjapkan mata dan memandang layar monitor tabung besar di hadapannya, layar itu ternyata gelap, dan mati total. Tidak ada kabel yang terhubung, tidak ada rekaman CCTV kolong pantry, dan tidak ada juga aktivitas peretasan apa pun.
Denyut nyeri yang luar biasa hebat mendadak menghantam pelipis Kael, membuatnya terhuyung satu langkah ke belakang. Ia memijat kepalanya yang terasa seperti mau pecah.
“Suara tadi... rekaman tadi... apakah semuanya hanya halusinasi?” batin Kael berbicara. Ia menatap kosong ke sekeliling ruangan. Logika jam atomnya yang biasa presisi kini benar-benar malafungsi.
Sebuah kecemasan baru menyeruak di benaknya. “Apakah kedekatannya dengan Sena akhir-akhir ini telah merusak otaknya? Ataukah proses menjadi manusia memang harus diawali dengan menjadi gila terlebih dahulu?”
Di sampingnya, Sena justru tampak sama sekali tidak peduli dengan guncangan mental yang sedang dialami bosnya. Gadis itu malah sibuk mengais isi tas ranselnya, mencari sesuatu di antara tumpukan barang absurdnya yang ia sebut sebagai harta karun penyelamat rasa lapar.
“Sena, fokus,” tegur Kael, suaranya terdengar parau dan lelah akibat menahan sakit kepala. “Seseorang baru saja... atau setidaknya, saya merasa ada sistem yang mengawasi kita. Seseorang tahu kita berada di kolong pantry.”
Sena mendongak, mulutnya masih asyik mengunyah sisa kerupuk dari kantong plastik nasi uduk. “Pak Kael, kalau orang sudah niat mengintip, dikasih gorden baja pun mereka bakal bawa bor listrik. Daripada Bapak pusing memikirkan siapa yang menonton, mending Bapak pikir kenapa resolusi kamera pengawas di kantor ini jelek sekali. Teori estetika kriminal: penjahat yang berselera tinggi itu harusnya pakai kamera 4K.”
Kael memejamkan mata, mencoba meredam denyut di pelipisnya sekaligus mencerna kalimat Sena. Ucapan gadis itu selalu terdengar seperti lelucon bodoh, tapi jika dikupas lagi, ada kebenaran di dalamnya. Jika memang ada sistem yang mengintai, itu adalah protokol lama Everen Core—sebuah celah keamanan yang hanya diketahui oleh orang dalam angkatan lama yang enggan memperbarui perangkat keras.
“Bapak tahu tidak kenapa file di dalam komputer itu ada yang format namanya berekstensi .zip?” Sena bertanya tiba-tiba sembari mengeluarkan sebuah flashdisk unik berbentuk potongan pizza yang permukaannya agak berminyak.
“Untuk mengompresi data agar ukuran filenya menjadi lebih kecil,” jawab Kael otomatis, kembali ke mode korporatnya.
Sena menggeleng pelan. Senyumnya tampak kosong untuk sedetik, namun sepasang matanya berkilat tajam. “Salah. .zip itu diciptakan karena dunia ini terlalu sempit untuk menampung semua kebenaran yang mau keluar. Jadi, kebenaran itu terpaksa harus dilipat-lipat, ditekan, sampai bentuk aslinya tidak kelihatan lagi. Tapi sekali kita melakukan unzip, ledakannya bisa bikin satu gedung Everen Core ini hancur berantakan.”
Sena berjalan ke arah komputer utama Kael dengan langkah riang yang sengaja dibuat terlihat ceroboh. Namun, saat jemarinya menyentuh papan tik, gestur tubuh Sena berubah total. Tidak ada lagi keraguan atau kekonyolan. Jemarinya menari di atas tombol dengan kecepatan yang tidak masuk akal, jauh melampaui standar teknisi IT terbaik yang pernah Kael pekerjakan dengan gaji mahal. Di atas layar, barisan baris kode hijau mulai mengalir deras, menembus dinding pertahanan enkripsi internal perusahaan dalam hitungan detik.
“Sena... kamu?” Kael terperangah, matanya membelalak.
“Apa? Saya cuma sedang mencari celah sistem untuk memesan seblak lewat jalur pesan internal perusahaan,” gumam Sena, instan kembali ke nada suaranya yang cengengesan. Tapi Kael tidak bisa dibohongi lagi. Barisan kode yang baru saja ia saksikan adalah bahasa pemrograman tingkat tinggi yang hanya dikuasai oleh segelintir orang dengan IQ di atas rata-rata. Gadis ini bukan sedang magang, dia sedang melakukan pembedahan jantung pada sistem inti Everen Core.
Tiba-tiba, gerakan Sena terhenti. Ia melihat ke arah bawah. Tali sepatu kets merahnya terlepas. Tanpa aba-aba atau permisi, ia langsung berjongkok di tengah ruangan untuk membetulkannya. Karena hari itu ia mengenakan rok kerja selutut yang sedikit ketat, posisi jongkoknya yang mendadak membuat bagian belakang roknya tertarik naik ke atas.