Bagi gedung megah sekelas Everen Core, kesunyian steril yang membekukan adalah sebuah privilese abadi. Setiap pukul enam pagi, ketika semburat matahari baru saja menyapu permukaan dinding-dinding kaca dengan warna jingga pucat, Kael selalu menjadi satu-satunya entitas bernyawa yang melangkah di koridor. Ia mengagumi ritme ini, sebuah ruang hampa di mana ia bisa mendengar deru napasnya sendiri sebelum ambisi buta dan kepalsuan korporat ratusan karyawan memenuhi udara.
Namun, pada fajar yang dingin ini, algoritma rutinitas jam atom milik sang CEO mendadak terhenti paksa tepat di ambang pintu pantry.
Bukan kepulan aroma pekat kopi arabica mahal yang menyambut penciumannya, melainkan bunyi gesekan sikat gigi yang beradu agresif dengan gigi, diiringi sebuah gumaman lagu tak beraturan yang nadanya sangat berantakan.
Kael melangkah masuk dengan keraguan yang tidak bisa disembunyikan. Di depan wastafel dapur kantor yang biasanya hanya digunakan untuk mencuci cangkir porselen, Sena berdiri dengan helai rambut yang mencuat liar ke segala arah. Wajah gadis itu tampak sembap khas orang yang baru bangun tidur, dan sisa busa pasta gigi putih memenuhi sudut mulutnya. Pakaian formalnya kemarin telah digantikan oleh kaus longgar berukuran besar berwarna kuning dengan gambar ayam karet, dipadukan celana pendek kain yang seadanya.
“Sena?” Kael mematung di tempatnya berdiri, seolah-olah ia baru saja menyaksikan penampakan makhluk mitologi yang tersesat di tengah peradaban kantor modernnya.
Sena menoleh dengan sentakan kaget. Sepasang matanya berkedip panik, lalu ia bergegas meludah ke wastafel dan berkumur dalam beberapa tegukan air. “Pagi, Pak Bos! Duh, Bapak rajin sekali. Ayam jago saja belum terbangun, Bapak sudah sampai di kantor. Teori efisiensi ayam, siapa yang bangun paling duluan, dia yang akan dipotong dan digoreng paling pertama. Hati-hati, Pak.”
“Kenapa kamu... sikat gigi di tempat ini? Dan kenapa pakaianmu seadanya seperti itu?” Kael melangkah mendekat, sepasang matanya menyapu sekeliling ruangan dengan dahi berkerut. Di bawah meja pantry yang luas, ia menangkap sekelebat pemandangan ganjil, sebuah selimut tipis bermotif bunga matahari dan sebuah tas ransel yang diletakkan kempis sebagai pengganti bantal.
“Saya menginap di kantor, Pak. Semalam saat saya baru mau melangkah pulang, seluruh pintu lobi utama sudah dikunci otomatis gara-gara sistem keamanan Bapak yang mendadak jadi sangat sensitif itu. Daripada saya harus tidur telantar di trotoar jalanan lalu berakhir diculik alien karena dikira spesies langka, mendingan saya mengungsi di bawah meja ini,” jawab Sena kasual, seolah-olah tidur berbantalkan ransel di lantai semen adalah hal paling wajar di dunia. Ia kemudian merogoh selembar roti tawar dari dalam kantong plastik di atas meja. “Bapak mau? Ini roti tawar rasa ingin dimengerti. Polos dan hambar di awal, tapi kalau dikunyah lama-lama, nanti rasanya berubah menjadi manis.”
Kael menatap lembaran roti tawar di tangan Sena, lalu beralih menatap wajah polos gadis itu. Ada sebersit rasa sesak yang asing dan tajam menyerang dadanya. Pemilik sah dari gedung pencakar langit yang menjulang tinggi ini adalah dirinya sendiri, namun ia justru tidak pernah tahu bahwa ada satu nyawa manusia yang terpaksa meringkuk kedinginan di kolong meja hanya demi mematuhi prosedur keamanan digital yang ia tanda tangani sendiri.
“Kamu tidak bisa terus-menerus tidur di sini, Sena. Ini adalah area kantor korporat, bukan sebuah asrama,” ujar Kael. Namun, kali ini nadanya tidak lagi mengintimidasi. Ada getaran rasa bersalah yang tersembunyi rapat di balik potongan jasnya yang rapi.
“Lah, daripada saya harus menggelandang di jalanan?” Sena menggigit rotinya dengan lahap hingga pipinya menggembung. “Lagipula di kolong meja ini sangat enak, Pak. Bapak tahu tidak? Jam dua subuh tadi, Pak Hardi dari bagian divisi keamanan masuk ke sini untuk menyeduh mi instan diam-diam. Dia menangis sesenggukan, Pak. Katanya istrinya sedang sakit keras di rumah tapi dia tidak punya uang sama sekali untuk menebus obat karena seluruh gajinya bulan ini habis dipotong untuk membayar utang aplikasi pinjol. Saya memberikan sisa roti tawar saya, lalu duduk mendengarkan dia curhat sampai subuh.”
Kael tertegun seketika. Ia mengenal nama Hardi, namun di dalam sistem komputernya, pria paruh baya itu hanya terdaftar sebagai nomor registrasi 'Unit Keamanan 04'. Ia tidak pernah tahu soal penderitaan istrinya, apalagi soal air mata yang tumpah di keheningan tengah malam.
"Sena, saya memiliki sebuah unit apartemen pribadi di dekat kawasan ini yang sudah lama tidak terpakai—"