Lobi utama Everen Core yang beberapa menit lalu riuh oleh kasak-kusuk kekaguman para karyawan mendadak beku seketika. Seluruh pergerakan manusia di dalam ruangan luas berdinding marmer itu seolah tersedot habis, menyisakan keheningan mencekam yang sanggup menurunkan suhu udara hingga ke titik nol.
Senior Everen berdiri tegak di tengah lautan sticky note, laksana sebuah monumen kekuasaan absolut yang dipahat dari beton, baja, dan kedinginan tanpa ujung. Sepasang matanya yang mengeruh namun tajam menatap Kael dengan pandangan menghakimi yang menghancurkan, sebelum akhirnya tatapan penuh racun itu bergeser penuh ke arah Sena—gadis yang menurut seluruh data digital di dalam peladen pribadinya seharusnya sudah lenyap ditelan bumi sejak satu dekade lalu.
“Dihapus?” Kael mengulang kata itu. Ada getaran kemarahan yang luar biasa hebat bergolak di balik dadanya.
Setiap sendi di tubuh Kael menegang. Untuk pertama kalinya dalam catatan hidupnya, ia melangkah satu tindak maju ke depan dengan tegas. Ia sengaja memosisikan tubuh tegapnya sedikit di depan Sena, secara fisik membangun perisai kokoh demi menghalangi pandangan intimidatif ayahnya yang menusuk gadis itu.
“Manusia bukan deretan data mati di atas layar monitormu, Ayah. Kamu tidak bisa begitu saja menghapus eksistensi seseorang hanya karena mereka tidak bisa dimasukkan ke dalam rencana bisnismu yang kaku,” lanjut Kael.
Senior Everen meletupkan tawa kecil. Sebuah suara parau, kering, dan gersang yang sama sekali tidak mengandung unsur humor. Suara itu menggema tak nyaman di langit-langit lobi yang tinggi.
“Kau masih sangat naif dan kekanak-kanakan, Kael,” Senior Everen berdesis, melangkah mendekat dengan langkah lambat. “Sepuluh tahun yang lalu, akulah yang menyelamatkanmu dari puing-puing kekacauan keluarga Alarelle. Aku memformat ulang otakmu, memberikanmu ketertiban, presisi algoritma, dan masa depan korporasi yang megah ini. Dan sekarang, setelah semua pencapaian ini, kau justru membawa kembali virus usang ini ke dalam jantung perusahaanku?”
Sena, yang sejak awal ketegangan dimulai memilih terdiam di balik punggung Kael, tiba-tiba menggeser langkahnya keluar. Tidak ada sedikit pun binar ketakutan atau tubuh yang gemetar dari gadis eksentrik itu. Ia justru menatap ke dalam manik mata Senior Everen. Tangan kanannya tampak dengan santai mendekap erat sebuah mainan ayam karet baru, yang tadi sempat ia beli di toko kelontong dekat warung sate Bu Tejo.
“Pak Senior.”
“Bapak tahu tidak, kenapa lembar kerja spreadsheet di komputer itu bentuknya selalu kotak-kotak?”
Senior Everen seketika mengerutkan keningnya dalam-dalam. Alis tebalnya bertaut erat, sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan sekonyol dan seabsurd itu di tengah-tengah konfrontasi hidup dan mati yang sangat serius.
“Apa katamu?”
“Kotak-kotak kecil di komputer itu sengaja diciptakan supaya orang-orang yang penakut seperti Bapak bisa merasa aman,” lanjut Sena tanpa jeda ragu. Langkah kakinya bergerak mantap, mengikis jarak dengan pria tua otoriter itu tanpa ada rasa gentar. “Bapak berpikir bahwa jika Bapak berhasil memasukkan semua orang, semua perasaan, dan semua takdir ke dalam kotak-kotak kecil yang teratur, Bapak akan bisa mengontrol seluruh kehidupan mereka selamanya. Tapi Bapak melupakan satu hukum alam yang paling mendasar.”
Sena menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di depan Senior Everen. Suasana di sekitar mereka semakin menegang hingga ke titik kritis.
“Manusia itu punya siku, Pak. Kalau Bapak memaksa mereka masuk ke dalam kotak yang kekecilan dan sempit, sikunya lambat laun akan mentok memukul pembatas. Dan suatu hari nanti, kotak buatan Bapak itu yang akan pecah berantakan.”
Sebelum Senior Everen sempat mencerna metafora tajam tersebut, Sena merogoh saku roknya dengan luwes. Ia menarik keluar selembar kertas sticky note berwarna merah muda yang tersisa dari warung sate tadi. Tanpa ragu sedikit pun, Sena menjulurkan tangannya dan menempelkan kertas kecil berlem itu tepat di atas lengan jas wol mahal seharga ratusan juta yang membalut tubuh Senior Everen.
“Bapak sudah terlalu lama hidup terisolasi di dalam kotak, sampai Bapak lupa bagaimana aroma tanah saat dihantam hujan,” bisik Sena. Namun, kali ini tanpa ada sedikit pun nada jenaka atau ejekan di dalamnya.