Beauty of Brains

Noona Moon
Chapter #14

Chair, Table, and You

Kegelapan yang mendadak menelan ruang pantry Everen Core terasa laksana dekapan dingin yang mencekik. Di bawah kolong meja yang sempit, Sena menahan napasnya rapat-rapat, membiarkan detak jantungnya berdegup kencang hingga gema suaranya seolah memenuhi rongga telinga. Bisikan misterius yang baru saja menyapa indra pendengarannya bukanlah sekadar angin lalu. Itu adalah sebuah instruksi dari seseorang yang paham betul bagaimana sirkuit gedung ini beroperasi.

Sebelum Sena sempat mencerna situasi, sebuah tangan kekar namun penuh kehati-hatian menarik tubuhnya keluar dari kolong meja dalam kegelapan yang pekat. Gerakannya sangat cepat dan terlatih. Sosok itu bukan Kael, melainkan Hardi—sang petugas keamanan paruh baya yang subuh tadi dibantu oleh Sena dengan selembar roti tawar dan janji pinjaman obat untuk istrinya.

“Ikut saya, Neng. Jalur evakuasi belakang aman selama lima menit ke depan. Aliran listrik sengaja saya korsletkan langsung dari panel utama,” bisik Hardi terengah.

Sena hanya bisa mengangguk dalam diam. Ada rasa hangat yang membuncah di dadanya, ia baru saja menyadari bahwa satu tindakan kebaikan kecil yang ia tabur beberapa jam lalu, kini telah menjelma menjadi perisai hidup di saat nyawanya berada dalam ancaman besar. 

Di bawah panduan Hardi, Sena berhasil menyelinap keluar, melangkah cepat dan menghilang di balik bayangan labirin gedung sebelum pria asing bertopi hitam itu sempat mendeteksi tempat persembunyiannya.

Sementara itu, di sisi lain kota, dunia sedang menghancurkan Kael Everen dengan cara yang jauh lebih perlahan, namun berlipat-lipat lebih menyakitkan.

Suasana taman kota di sore hari adalah sebuah panggung di mana waktu seolah sengaja berjalan melambat, hanya untuk mengejek orang-orang yang kehilangan arah dan tujuan hidup. Kael Everen duduk membisu di atas sebuah bangku kayu panjang yang lapisan cat hijaunya sudah mengelupas parah. Di atas kepalanya, sebatang pohon kamboja tua yang meranggas sesekali menggugurkan daunnya yang kering.

Setelan jas wol mahal yang membalut tubuh tegapnya kini tampak sangat salah tempat di antara kepulan debu jalanan, lalu-lalang penjual balon mainan, dan para pengangguran yang duduk telantar. Di dalam genggaman tangannya, terdapat sebuah kantong plastik transparan berisi selembar roti tawar murah. Benda hambar itu adalah satu-satunya aset yang berhasil ia beli menggunakan sisa uang koin terakhir di saku celananya—tepat setelah sistem pusat Senior Everen memblokir seluruh akses perbankan dan kartu kredit miliknya.

Kael merobek pinggiran roti itu, lalu menggigitnya pelan. Rasanya luar biasa hambar, kering di tenggorokan, dan sangat sulit untuk ditelan. Namun anehnya, di setiap kunyahan yang ia paksakan, gema suara jenaka Sena mendadak berputar ulang di dalam kepalanya. 

“Ini roti tawar rasa ingin dimengerti. Polos dan hambar di awal, tapi kalau dikunyah lama-lama, nanti rasanya berubah menjadi manis.”

Sebuah senyuman getir terukir di sudut bibir Kael. Ternyata, tanpa predikat jabatan CEO yang mentereng, tanpa limpahan fasilitas kartu kredit tanpa batas, dan tanpa meja mahoni mewah di lantai teratas, seorang Kael Everen hanyalah sebuah algoritma usang yang kehilangan seluruh fungsi dasarnya. Ia baru menyadari betapa sunyi dan sepinya dunia yang ia bangun selama ini. Ia telah mendirikan sebuah kerajaan megah dari dinding-dinding kaca yang tinggi, namun ia lupa membangun sebuah pintu agar orang lain bisa masuk ke dalamnya.

Dan sekarang, saat dirinya terdepak keluar ke dunia nyata, ia justru merasakan bahwa permukaan kasar bangku kayu taman ini terasa jauh lebih nyata dan jujur ketimbang kelembutan kursi kulit di ruang kantornya.

Ia mendadak merindukan bunyi lengkingan ayam karet yang menyebalkan itu. Ia merindukan teori-teori gila tentang mesin printer yang mengalami depresi klinis. Ia merindukan bagaimana cara Sena memandang dirinya—bukan sebagai seorang atasan yang ditakuti, melainkan sebagai sesosok manusia kaku yang butuh untuk disesatkan dari keteraturan.

Kael merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar kertas sticky note berwarna hijau neon yang sudah mulai lusuh dan lecek di bagian ujungnya. Di bawah temaram cahaya lampu taman yang mulai menyala redup, ia membaca kembali tulisan tangan di sana.

Lihat selengkapnya