Kael memacu sepeda motor tua milik Pak Alarelle, membelah hiruk-pikuk kemacetan jalanan kota dengan kecepatan tinggi yang berada di luar batas logika keselamatan. Di dalam kepalanya, dinding-dinding pembatas memori yang selama sepuluh tahun ini dikunci rapat oleh algoritma sistem mulai runtuh dan meledak satu per satu laksana kembang api yang membakar kegelapan.
Ia mengingat gema suara tawa renyah Sena kecil. Ia mengingat janji piyama hari Jumat yang mereka ucapkan di bawah rimbunnya pohon. Ia mengingat semuanya sekarang.
Namun, begitu roda motor tua itu mencicit berhenti di depan lobi utama gedung Everen Core yang kini gelap gulita, sebuah pemandangan mengerikan langsung menyambut kehadirannya. Sistem keamanan tampaknya telah mengambil alih seluruh kendali operasional gedung.
Di dalam lobi yang sunyi, ratusan layar monitor komputer yang biasanya menampilkan grafik perusahaan kini serentak mati dan hanya memancarkan derau statis noise layar abu-abu.
Detak jam dinding custom mendadak terdengar begitu nyaring mengisi keheningan, bersahut-sahutan dengan dentuman jantung Kael yang terasa menghantam rongga dadanya hingga sesak.
Tepat di detik itu, selembar sticky note dalam kepalan tangan Kael sudah menjelma jadi gumpalan lecek, seiring dengan keberaniannya yang dipaksa penuh untuk menembus pengapnya lorong utilitas bawah tanah yang sempit, pengap, dan dipenuhi debu tebal.
Kael Everen merayap dalam kesunyian.
Jalur utilitas rahasia ini adalah satu-satunya rute yang tidak terdaftar dalam cetak biru digital perusahaan—sebuah jalur alternatif yang puluhan tahun lalu pernah dirancang secara manual oleh ayah Sena sendiri.
Lorong itu memiliki langit-langit yang sangat rendah yang nyaris sewajar jalan tikus. Kabel-kabel menjuntai, berkelindan seperti akar benalu yang melilit inangnya. Jaring laba-laba yang tidak terjamah ikut menghiasi.
Kael terpaksa melipat tubuh tegapnya, ia harus berjalan membungkuk lebih dalam, bahkan setengah berjongkok. Sesekali kepalanya terantuk pipa, membuatnya tersentak kaget—rasa sakit seketika memicu umpatan tertahan di tenggorokannya.
Namun, seluruh rasa sakit itu sama sekali tidak sebanding dengan hantaman kekosongan yang meremukkan dadanya.
Ayahnya tidak hanya sedang mencoba menghapus status seorang karyawan magang dari sistem kepegawaian, Senior Everen sedang mencoba menghapus satu-satunya bukti hidup bahwa Kael pernah memiliki sekeping hati sebelum sistem yang mereka ciptakan mengambil alih kesadarannya tahun silam.
Jalan tikus itu akhirnya berakhir di depan sebuah panel akses digital menuju ruang peladen utama.
Kael berdiri tegap, menepuk pakaiannya yang berdebu. Namun tatapannya tak lepas ke permukaan kaca pemindai yang berkedip redup. Kael mengernyitkan dahi setelahnya.
Sepuluh tahun lalu, ia mungkin pernah berdiri di titik geometris yang sama persis, menggenggam erat jemari mungil seorang anak perempuan yang berjanji bahwa dunia luar yang kaku akan selalu terasa berwarna, selama mereka masih memiliki imajinasi dan potongan mainan ayam karet. Lambat laun ingatan itu kembali membayangi kepala Kael. Denyut pening yang menyusul seketika membuat tubuh Kael limbung.