Dunia mendadak mengalami crash. Suara dengung mesin frekuensi tinggi yang beberapa saat lalu menyiksa telinga Kael kini lenyap tanpa sisa, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menakutkan—seperti sebuah spreadsheet raksasa yang baru saja dihapus paksa seluruh isinya hingga menyisakan baris kosong yang bersih.
Kael masih berdiri mematung. Jantungnya terasa seperti sebuah prosesor tua yang dipaksa berhenti mendadak oleh system error, memicu rasa sesak yang tajam dan perih.
Di depannya, Sena masih terduduk di kursi kayu kaku itu. Kepalanya terkulai lemas, rambutnya yang biasanya mencuat berantakan seperti antena pencari sinyal kini menutupi wajahnya yang pucat. Tidak ada suara ayam karet. Tidak ada celotehan ceria. Hanya ada suara napas yang tipis dan teratur, nyaris tak terdengar, seolah jiwanya sedang tertahan di suatu tempat yang tak terjangkau oleh radar manusia.
Kael melangkah maju. Kakinya terasa seberat timbal, mengabaikan eksistensi ayahnya yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah puas seorang administrator yang baru saja membersihkan malware. Bagi Kael, Everen Senior sudah tereliminasi dari sistemnya. Dunia Kael kini menyusut drastis, hanya seluas kursi tempat Sena terikat.
“Sena...” bisik Kael. Suaranya pecah, sebuah frekuensi anomali yang belum pernah ia keluarkan seumur hidupnya.
Dengan tangan yang gemetar hebat—menghancurkan semua reputasi presisinya—Kael membuka ikatan tali di pergelangan tangan Sena. Kulit gadis itu terasa dingin, sangat kontras dengan sirkulasi darah Kael yang mendidih. Saat tali terakhir terlepas, tubuh Sena merosot. Kael dengan sigap menangkapnya, mendekap tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
Aroma khas Sena—campuran antara kertas baru, bubuk kopi, dan sisa wangi sabun hotel—masih tertinggal di sana, namun keberadaannya terasa seperti data yang korup. Jauh dan tak terbaca.
“Bawa dia pergi, Kael,” Suara ayahnya memecah keheningan, sedingin algoritma tanpa empati. “Dia tidak akan lagi menjadi ancaman bagi sistemmu. Dia kembali menjadi kosong. Bukankah itu yang kau inginkan selama ini? Sebuah hidup yang efisien tanpa gangguan?”
Kael tidak menoleh. Ia mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sena. Air mata yang selama sepuluh tahun ia tekan di bawah baris-baris kode kini tumpah tanpa bisa dikompresi lagi.
“Kau tidak membersihkan sistemku, Ayah. Kau baru saja menghapus satu-satunya bug yang membuat komputer tua ini ingin tetap menyala di pagi hari.”
Kael menggendong Sena keluar dari ruangan itu. Ia berjalan melewati koridor gedung Everen Core yang kini tampak asing dan terlalu steril. Para karyawan berdiri di sepanjang lorong, menatap mereka dengan ekspresi yang tidak bisa dikategorikan—campuran antara iba, takut, dan penghormatan yang sunyi. Email massal yang dikirim Kael tadi masih menyala di layar-layar monitor mereka, seperti nisan digital bagi sebuah era yang baru saja runtuh.
Ia membawa Sena ke taman belakang gedung, satu-satunya area yang gagal dioptimasi oleh arsitektur minimalis Everen Core. Ia membaringkan Sena di atas bangku taman kayu, tempat di mana dulu mereka pernah berdebat tentang hal-hal yang tidak masuk akal.
Perlahan, kelopak mata Sena bergerak. Kael menahan napas. Jam atom di pergelangan tangannya seolah berhenti berdetak, menunggu satu kata, satu sorot mata, atau satu teori gila yang akan membuktikan bahwa ayahnya telah melakukan kesalahan perhitungan.
Mata itu akhirnya terbuka.
Mata bulat yang biasanya penuh dengan binar kekacauan yang manis. Namun, saat mata itu bertemu dengan mata Kael, tidak ada sinyal pengenalan. Tidak ada panggilan Pak Pinguin. Hanya ada kekosongan yang luas, tenang, dan asing.
Sena mengerjap, menatap langit malam yang tanpa bintang, lalu beralih menatap Kael dengan kerutan di dahi yang tampak sangat sopan, namun berjarak ribuan tahun cahaya.
“Maaf...”
Suara Sena terdengar serak, kehilangan nada meledak-ledak yang biasanya merusak ketenangan koridor kantor.
“Anda... siapa, ya? Dan kenapa saya ada di sini?”