Rumah tua itu berdiri di ujung jalan setapak yang ditumbuhi ilalang setinggi pinggang, tersembunyi di balik barisan pohon pinus yang meranggas. Di bawah siraman cahaya bulan yang pucat, bangunan itu tampak seperti kerangka masa lalu yang enggan roboh. Tidak ada lampu jalan, juga deru mesin, hanya suara jangkrik yang bersahut-sahutan, menciptakan simfoni alam yang terasa asing di telinga Kael yang terbiasa dengan kebisingan korporat.
Kael membantu Sena turun dari motor tua milik Pak Alarelle yang mereka pakai. Tangan Kael masih gemetar, sisa dari adrenalin pelarian tadi, namun ia berusaha tetap terlihat tenang. Ia menatap pintu kayu yang sudah kusam di depannya. Di sanalah, menurut titik koordinat misterius yang dikirim dari masa lalu, jawaban atas segala error dalam hidup mereka tersimpan.
“Tempat ini... aromanya mirip arsip buku lama yang habis kehujanan,” bisik Sena. Ia memeluk ayam karetnya erat-erat, matanya yang bulat menyapu sekeliling dengan rasa ingin tahu. Meski memorinya telah dihapus, insting sensoriknya seolah mengenali partikel debu di tempat ini.
Kael merogoh kunci yang ia temukan di bawah pot bunga retak—sebuah lokasi penyimpanan klise yang sangat tidak logis bagi standar presisi Everen, namun sangat identik dengan gaya Alarelle. Saat pintu terbuka dengan bunyi derit yang panjang, aroma kayu tua dan kertas lembap menyergap sistem penciuman mereka.
Kael menyalakan lampu senter dari ponselnya. Cahaya itu membelah kegelapan, menyingkap isi ruangan—tumpukan buku yang menjulang bagai grafik saham, papan tulis penuh dengan rumus fisika yang sudah memudar, dan di sudut ruangan, sebuah cermin besar yang tertutup kain putih berdebu.
“Selamat datang di laboratorium ayahmu, Sena,” ujar Kael pelan.
Sena melangkah masuk, jarinya meraba permukaan meja kayu yang kasar. Ia berhenti di depan cermin besar itu. Dengan gerakan perlahan, ia menarik kain penutupnya. Debu beterbangan di udara, menari-nari di bawah pendar cahaya senter. Namun, saat kain itu jatuh, Sena terdiam.
Cermin itu unik.
Tidak memberikan pantulan, bayangan Sena tidak ada di sana. Permukaannya dilapisi oleh lapisan polarisasi khusus—sangat identik dengan monitor kantor yang Sena kelupas di hari pertamanya bekerja. Jika dilihat dari sudut biasa, cermin itu hanya tampak seperti permukaan yang buram dan kosong.
“Kenapa saya tidak bisa melihat diri saya sendiri di sana?” tanya Sena. “Apa saya benar-benar sudah dihapus sampai cermin pun menolak keberadaan saya?”
Kael mendekati Sena, berdiri tepat di belakangnya. Ia melihat betapa kecilnya bayangan Sena yang samar di cermin itu. “Bukan, Sena. Ayahmu membuat cermin ini bukan untuk melihat apa yang tampak di luar. Dia menyebutnya cermin introspeksi. Kamu hanya bisa melihat pantulanmu jika kamu berhenti berpura-pura.”
Kael mengambil sebuah lampu ultraviolet kecil yang terselip di laci meja. Saat ia menyinari permukaan cermin itu, sebuah pemandangan ajaib muncul. Di permukaan cermin, mulai terlihat tulisan-tulisan tangan yang hanya bisa dibaca dengan spektrum cahaya khusus. Itu bukan pantulan mereka, melainkan barisan kata-kata yang pernah mereka ucapkan sepuluh tahun lalu, yang diukir dengan tinta tak kasat mata.
“Aku ingin jadi awan, supaya bisa memantau Kael tanpa perlu mendongak.”
“Kael berjanji tidak akan bertransformasi jadi robot kalau sudah besar.”
Sena menyentuh tulisan itu. Air matanya jatuh tanpa suara. “Ini... saya yang menulisnya?”
Kael mengangguk mantap, ia memberanikan diri meletakkan tangannya di atas tangan Sena yang menempel di cermin. “Kamu selalu bilang kalau mata kita tidak luas, tapi hati kita bisa melihat lebih jauh. Cermin ini adalah bukti bahwa identitasmu bukan apa yang ada di kepalamu, tapi apa yang kamu tinggalkan di hati orang lain.”
Sena berbalik, menatap Kael dengan tatapan yang menghujam. “Lalu apa yang saya tinggalkan di hati kamu? Kalau saya bukan Sena yang dulu, apa kamu masih mau melihat saya?”
Kael tertegun. Pertanyaan itu memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada audit keuangan mana pun. Di ruangan yang sunyi ini, di hadapan cermin tanpa pantulan, Kael menyadari bahwa ia tidak lagi membutuhkan memori Sena untuk mencintai gadis itu. Ia mencintai error-nya, ia mencintai keabsurdannya, ia mencintai keberanian Sena untuk menjadi anomali.