Beauty of Brains

Noona Moon
Chapter #19

Dia Bukan Stempel, Tapi Tanda

“Sena, kita harus bergerak. Sekarang!” bisik Kael. Suaranya meluruh kembali ke ritme siaga yang sunyi. Namun kali ini, luruh pula segala sisa kekakuan mesin yang biasa membungkus dirinya, menyisakan sebuah nada perlindungan yang begitu tulus, hangat, dan sangat manusiawi.

Sisa tawa yang baru saja surut meninggalkan kurva samar di bibir Sena, meski napasnya masih tersendat lembut. Ia memandangi ayam karet di genggamannya penuh sangka. Semburat biru yang semula memancar kian luruh, menyisakan kehangatan yang merayap di kulit telapak tangannya. “Pak Pinguin, ayamnya... ayamnya tadi bercahaya. Apakah benda ini baru saja bertransformasi menjadi lentera tidur?”

Kael tidak sempat meladeni candaan absurd itu. Jemarinya lekas menyentak sakelar, memadamkan pendar ultraviolet, lalu menyambar tas ringkas yang mendekap erat rekaman suara Ayah Sena. Ditautkannya jemari mereka, menarik paksa langkah Sena menuju gerbang belakang laboratorium—sebuah pintu yang nyaris terkubur tumpukan kayu lapuk. “Bukan evolusi, Sena. Itu tanda. Dia bukan stempel yang cuma bisa bilang 'sah' atau 'tidak', tapi dia tanda bahwa kamu masih ada di dalam sana. Dan orang-orang di luar sana sangat takut pada tanda itu.”

Mereka menyelinap keluar tepat saat suara pintu depan laboratorium didobrak paksa dari luar. Bunyi kayu yang hancur berkeping-keping dan deru langkah sepatu laras panjang bergema hebat di dalam bangunan kosong itu. Kael menuntun Sena berlari menembus hamparan ilalang yang basah oleh embun malam, bergerak cepat menuju arah kanal yang lebih dalam.

“Tunggu, Kael!” Sena berhenti mendadak, membuat Kael nyaris terjungkal karena sentakan itu.

“Ada apa? Kita harus tetap lari, Sena!”

Sena menunjuk ke arah motor tua yang mereka parkir agak jauh di bawah pohon. “Motornya! Kasihan kalau ditinggal sendirian di sana, nanti dia merasa dibuang seperti barang rongsokan yang tidak berguna. Kalau kita meninggalkan dia pas kita lagi susah, nanti dia tidak akan mau menyala lagi pas kita sedang butuh.”

Kael memejamkan mata sejenak, menghirup dalam-dalam udara malam yang dingin untuk menenangkan kepalanya. Di tengah kejaran mematikan pasukan khusus, Sena justru masih memikirkan perasaan sebuah motor tua yang berkarat. Namun, inilah bentuk error paling murni yang kini paling ia cintai dari gadis itu.

“Kita tidak bisa menggunakan motor itu sekarang, suaranya terlalu berisik. Mereka akan langsung tahu posisi kita dalam satu milidetik. Kita harus jalan kaki menyusuri jalur air.”

Lihat selengkapnya