Tahun 2008.
Hujan turun deras sejak sore. Jalanan licin, lampu-lampu mobil memantul di aspal basah, dan suara hujan seperti tidak mau berhenti.
Mobil yang dikendarai Reyta melaju pelan. Tangannya menggenggam setir erat. Ia lelah, kepalanya sedikit pusing, tapi jarak rumah tinggal beberapa menit lagi.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Mobilnya tergelincir.
Suara rem, benturan keras, lalu semuanya seperti berhenti.
Mobil Reyta menabrak mobil lain yang datang dari arah berlawanan. Tubrukan itu membuat mobil di depannya terbalik.
Kepala Reyta terbentur. Pandangannya sempat gelap beberapa detik. Saat membuka mata, hujan masih turun, lebih deras dari sebelumnya.
“Ya Tuhan…” gumamnya pelan.
Dengan tubuh gemetar dan kepala berdarah, Reyta keluar dari mobilnya. Matanya langsung tertuju pada mobil yang terbalik di depannya.
Di dalamnya ada seorang anak kecil.
Seorang anak perempuan, menangis histeris.
Reyta berlari mendekat meski langkahnya tidak stabil. Ia membuka pintu mobil yang ringsek dan menggendong anak itu keluar.
Di kursi depan, seorang wanita terbaring lemah. Bibirnya bergerak pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
“To… tolong… putri…iku…”
Tangannya bergetar, mencoba meraih anak kecil itu. Matanya menatap penuh cinta, lalu perlahan tersenyum.
“Putriku yang manis…”
Kalimat itu terputus. Matanya terpejam.
Reyta terpaku. Dadanya sesak.
Ia segera menghubungi 112 dengan tangan gemetar, memohon pertolongan sambil memeluk anak kecil yang masih menangis keras di pelukannya.
Tak lama kemudian, sirene ambulans terdengar memecah hujan.
Reyta sadar kembali di Rumah Sakit Flamingo. Kepalanya diperban, tubuhnya terasa nyeri di mana-mana.