Juli 2013
Lapangan sekolah dipenuhi kursi putih dan suara musik pelan. Spanduk kelulusan tergantung di depan panggung, sementara murid-murid berdiri berkelompok dengan toga yang masih terasa kaku di badan.
Hari itu SMP Nusantara resmi berakhir.
Adel berdiri di samping Diana sambil memegang map berisi ijazah. Wajahnya cerah, senyumnya lebar.
“Selamat ya, Adel,” ucap Diana sambil memeluknya. “Nilai kamu nomor dua seangkatan, loh.”
Adel terkekeh.
“Nomor dua terus,” katanya santai. “Di bawah Leon.”
Diana melirik ke arah depan, ke sosok yang sedang berdiri agak jauh sambil berbicara dengan guru.
“Kamu mau lanjut ke SMA mana?” tanya Diana.
Adel terdiam sebentar.
“Mungkin… SMA Merah Putih,” jawabnya pelan. “Kayaknya Leon juga ke sana.”
Diana mengangguk kecil, seolah sudah menduga.
Leon datang menghampiri mereka sambil membawa dua kotak kecil.
“Selamat,” ucapnya singkat sambil menyerahkan kotak itu pada Adel dan Diana.
Adel menerima kotaknya dengan senyum lebar.
“Makasih,” katanya cepat. “Eh, aku juga bawa hadiah buat kalian.”
Ia menyerahkan hadiah kecil yang sudah ia siapkan sejak seminggu lalu.
Leon mengangguk. “Terima kasih.”
Diana tersenyum canggung.
“Maaf ya, aku nggak sempat nyiapin apa-apa buat kalian.”
“Nggak apa-apa,” jawab Adel ringan. “Kehadiran kamu aja cukup.”
Mereka duduk di pinggir lapangan setelah acara selesai.
Adel membuka kotak hadiah dari Leon. Di dalamnya ada gelang sederhana dengan warna netral.
Ia tersenyum tanpa sadar.
Dia inget seleraku.