September 2013
September selalu datang dengan banyak perubahan.
Bagi Adel, bulan itu berarti dua hal: awal SMA dan ulang tahun Leon.
Dan tanpa ia sadari, juga menjadi awal dari hidup yang tidak lagi sederhana.
Sore itu, rumah besar milik Pak Radian terasa lebih sunyi dari biasanya. Mama Reyta berdiri di ruang tamu, tangannya saling menggenggam. Wajahnya terlihat tenang, tapi di balik itu kepalanya berdenyut pelan.
“Silakan duduk, Reyta,” ucap Pak Radian sambil meletakkan tabletnya di meja.
Mama Reyta duduk dengan posisi rapi, seperti biasa.
“Sepertinya ini penting,” lanjut Pak Radian. “Sampai kamu datang sendiri di jam kerja.”
Mama Reyta menarik napas.
“Saya sakit, Pak,” ucapnya akhirnya. “Dan saya tidak tahu berapa lama saya bisa bertahan.”
Pak Radian terdiam.
“Saya tidak ingin Adel sendirian,” lanjut Mama Reyta. “Saya ingin dia memiliki tempat yang aman. Saya ingin… dia menjadi bagian dari keluarga ini.”
Pak Radian menyandarkan punggungnya.
“Kamu ingin Adel menjadi menantu keluarga Narendra?” tanyanya pelan.
Mama Reyta mengangguk.
“Ini bukan ancaman,” katanya cepat. “Ini permohonan. Saya sudah berjanji tidak akan pernah mengaku sebagai ibu Leon. Saya hanya ingin Adel tidak hidup tanpa perlindungan.”
Pak Radian menatapnya lama.
“Ini bukan keputusan kecil.”
“Saya sudah berbicara dengan Ardian,” jawab Mama Reyta. “Dia setuju.”
Ruangan kembali sunyi.
Akhirnya Pak Radian berdiri.
“Saya tidak akan memaksa Leon,” katanya. “Tapi saya akan menjaga Adel. Selebihnya… biar waktu yang menentukan.”
Mama Reyta menunduk.
“Terima kasih, Pak.”
Saat keluar dari ruangan itu, Mama Reyta bertemu Leon di lorong.
“Bibi?” panggil Leon sambil refleks menahan kepala Mama Reyta agar tidak membentur pintu.
Mama Reyta tersenyum tipis.
“Kamu makin perhatian,” katanya. “Apa kamu senang sekolah bareng Adel dan Diana?”