Pembicaraan itu tidak datang tiba-tiba.
Ia muncul pelan, seperti sesuatu yang sengaja tidak ingin disebutkan, tapi terlalu besar untuk terus dihindari.
Hari itu Adel pulang sekolah lebih awal. Diana masih ada kegiatan, dan Leon harus menghadiri rapat kecil bersama kakeknya.
Rumah terasa sepi.
Adel duduk di ruang tamu, membuka buku tapi tidak benar-benar membaca. Matanya berhenti di satu halaman, pikirannya ke mana-mana.
“Adel.”
Suara Pak Radian terdengar dari arah tangga.
Adel berdiri refleks. “Iya, Kek.”
Pak Radian berjalan mendekat dan duduk di sofa seberangnya.
“Kamu sudah makan?” tanyanya.
“Sudah,” jawab Adel. Bohong kecil, tapi tidak penting.
Pak Radian mengangguk. Ada jeda sebelum ia kembali bicara.
“Kondisi Mama Reyta masih sama,” katanya. “Belum ada perubahan.”
Adel mengangguk. Kali ini jujur.
“Adel,” lanjut Pak Radian, suaranya lebih pelan. “Kamu betah tinggal di sini?”
Adel berpikir sebentar.
“Betah,” jawabnya. “Terima kasih sudah jaga aku.”
Pak Radian tersenyum tipis.
“Kamu anak yang sopan,” katanya. “Dan dewasa untuk usiamu.”
Adel tidak tahu harus menanggapi apa.
Lalu Pak Radian melanjutkan, “Mama Reyta pernah menyampaikan satu permintaan sebelum ia dirawat.”
Jantung Adel berdetak lebih cepat.