Waktu tidak berhenti hanya karena seseorang berharap.
Ia tetap berjalan, menarik semua orang ikut maju, mau atau tidak.
Satu tahun berlalu sejak pertunangan itu diumumkan.
Adel naik kelas. Leon tetap sibuk dengan tanggung jawab yang makin banyak. Diana terlihat sama dari luar—ramah, tenang, selalu peduli—tapi di dalamnya, ia menyimpan kegelisahan yang tidak pernah ia ucapkan.
Dan Mama Reyta masih belum bangun.
Adel berubah pelan-pelan.
Bukan perubahan yang mencolok, bukan yang langsung disadari semua orang. Tapi kalau diperhatikan, perbedaannya ada di detail kecil.
Ia tidak lagi banyak bertanya.
Tidak lagi berharap dijemput lebih dulu.
Tidak lagi menunggu pesan sebelum tidur.
Ia mengatur harinya sendiri.
Pagi berangkat sekolah lebih cepat. Pulang langsung ke kamar. Belajar. Menggambar. Mencatat ide-ide kecil di buku sketsanya.
Leon memperhatikannya.
Tapi tidak pernah benar-benar bertanya.
Suatu sore, mereka duduk berhadapan di ruang makan. Pak Radian belum pulang. Rumah terasa terlalu sunyi.
“Kamu akhir-akhir ini jarang ngobrol,” ucap Leon sambil memutar sendok di gelasnya.
Adel mengangkat wajah.
“Harus ngobrol tentang apa?” tanyanya tenang.
Leon terdiam sebentar. “Aku cuma ngerasa kamu menjauh.”
Adel tersenyum kecil.
“Aku nggak menjauh,” katanya. “Aku cuma nggak nempel.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi cukup membuat Leon terdiam lebih lama.
“Oh,” ucapnya akhirnya.
Tidak ada kelanjutan.
Di sekolah, Diana mulai merasa tidak nyaman.
Ia sering menangkap tatapan Adel yang bukan marah, bukan cemburu—tapi kosong. Seperti orang yang sudah berhenti menuntut apa pun.
“Adel,” panggil Diana suatu hari di lorong. “Kamu sibuk?”
“Sedikit,” jawab Adel.
“Kita ngobrol bentar, yuk.”
Mereka duduk di bangku taman sekolah. Daun-daun kering berjatuhan pelan.