Perubahan tidak selalu datang dengan kejadian besar.
Kadang, ia muncul dari hal-hal kecil yang tidak lagi terjadi.
Adel mulai terbiasa bangun tanpa tergesa.
Ia tidak lagi menyesuaikan jamnya dengan siapa pun. Jika ada kelas pagi, ia berangkat lebih awal. Jika ada proyek yang menuntutnya begadang, ia menyelesaikannya tanpa merasa bersalah.
Pagi itu, Adel turun ke dapur dan mendapati meja makan kosong.
Leon sudah berangkat.
Ia tidak merasa ditinggalkan. Ia hanya mencatatnya, seperti mencatat cuaca.
Oh, hari ini hujan.
Oh, hari ini sendirian.
Adel menuang kopi, duduk, lalu membuka laptop. Ada email masuk dari klien kecil yang meminta revisi desain.
Ia membalas cepat.
Tangannya cekatan. Pikirannya fokus.
Tidak ada ruang untuk hal lain.
Di kampus, Adel semakin sering menghabiskan waktu di studio. Teman-temannya mulai terbiasa melihatnya datang paling pagi dan pulang paling akhir.
“Lo nggak capek?” tanya salah satu temannya suatu sore.
Adel mengangkat bahu. “Capek. Tapi puas.”
“Kayak orang beda,” lanjut temannya. “Lebih… dewasa.”
Adel tersenyum kecil. “Mungkin karena aku akhirnya tahu mau ke mana.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Ia juga tidak merasa perlu.
Leon menjalani hari yang sama padatnya.
Kuliah pagi, magang sore, rapat kecil malam. Hidupnya penuh jadwal dan target. Semuanya berjalan sesuai rencana.
Hanya saja, ada satu hal yang terasa ganjil.
Ia sering pulang dan mendapati rumah sudah sunyi.
Tidak ada suara langkah Adel.
Tidak ada suara pintu kamar dibuka-tutup.
Tidak ada lampu kecil di lorong yang biasanya menyala.
Leon berdiri beberapa detik di ruang tamu, lalu masuk ke kamarnya.
Ia tidak tahu kenapa itu mengganggunya.