Leon tidak langsung menyebutnya rindu.
Ia menyebutnya kebiasaan.
Dan kebiasaan, menurutnya, wajar untuk dicari kembali.
Pagi itu Leon sengaja berangkat lebih lambat. Bukan karena kesiangan, tapi karena ia ingin memastikan sesuatu.
Ia turun ke dapur dan mendapati Adel sedang menuang kopi.
“Oh,” ucap Leon. “Kamu belum berangkat?”
“Belum,” jawab Adel. “Kelasku agak siang.”
Leon mengangguk, menahan senyum kecil yang nyaris muncul.
“Kita bareng?” tanyanya, terdengar ringan.
Adel menoleh sebentar. Tidak lama.
“Boleh.”
Tidak ada penolakan. Tidak juga antusias.
Dan entah kenapa, itu membuat Leon lega sekaligus kecewa.
Di mobil, mereka duduk berdampingan seperti dulu. Tapi suasananya berbeda.
Leon menyalakan radio. Lagu berjalan tanpa benar-benar didengarkan.
“Kamu lagi ngerjain apa sekarang?” tanya Leon akhirnya.
“Proyek,” jawab Adel singkat.
“Yang kemarin keterima?”
“Iya.”
“Oh. Keren.”
Adel mengangguk. “Lumayan.”
Leon ingin bertanya lebih banyak. Tentang konsep, tentang ide, tentang rencana.
Tapi kalimat-kalimat itu terasa seperti milik masa lalu.
Ia tidak tahu apakah masih berhak menanyakannya.
Leon mulai sering mencari alasan.
Menawarkan antar-jemput kalau jadwalnya memungkinkan.
Muncul di dapur saat Adel sedang makan.
Duduk di ruang tamu lebih lama dari biasanya.
Bukan untuk mengganggu.
Hanya untuk ada.