Makan siang itu tidak direncanakan dengan detail.
Tidak ada jam pasti.
Tidak ada tempat spesial.
Tidak ada ekspektasi.
Dan mungkin justru karena itu, rasanya aneh.
Leon menunggu di depan gedung kampus Adel. Ia datang lebih awal dari yang seharusnya. Berdiri sambil mengecek ponsel, lalu memasukkannya lagi ke saku.
Adel keluar lima menit kemudian.
“Kamu nunggu lama?” tanyanya.
“Enggak,” jawab Leon cepat. Padahal iya.
Mereka berjalan berdampingan menuju kafe kecil di seberang kampus. Tempat biasa. Tidak ramai. Tidak juga sepi.
Dulu, Adel yang akan memilih tempat duduk. Sekarang Leon yang melakukannya, lalu langsung merasa canggung sendiri.
Adel duduk, membuka tas, lalu menaruh ponselnya di meja—layar menghadap ke bawah.
Leon memperhatikan.
Dulu dia nggak pernah jauh dari ponselnya kalau sama aku, pikir Leon.
Mereka memesan makanan.
Prosesnya singkat. Tidak ada obrolan sambil menunggu.
Leon mengaduk minumnya pelan.
“Kelasmu tadi gimana?” tanyanya, mencoba terdengar santai.
“Baik,” jawab Adel. “Banyak diskusi.”
“Oh.”
Hening lagi.
Leon tersenyum kecil, merasa bodoh.
Makanan datang.
Mereka mulai makan.
Leon memperhatikan cara Adel makan sekarang. Lebih cepat. Lebih fokus. Tidak lagi banyak cerita di sela-sela suapan.
Dulu, Adel selalu bercerita. Tentang dosen, tentang tugas, tentang hal-hal kecil yang menurutnya lucu.
Sekarang tidak.