Hidup tidak langsung berubah hanya karena satu makan siang.
Ia berubah karena hal-hal kecil yang menumpuk.
Dan Leon mulai merasakannya.
Semester baru terasa lebih berat dari sebelumnya.
Tugas kuliah datang beruntun. Magang di perusahaan tidak lagi sekadar belajar, tapi mulai menuntut hasil. Target. Tanggung jawab. Keputusan kecil yang punya dampak nyata.
Leon duduk di ruang rapat kecil, mendengarkan arahan atasannya.
“Kita butuh laporan ini besok,” kata seniornya. “Bukan konsep, tapi keputusan.”
Leon mengangguk.
“Iya.”
Jawaban yang selalu sama.
Malam itu, Leon pulang lebih larut dari biasanya.
Rumah sudah gelap. Lampu ruang tamu mati. Tidak ada suara apa pun.
Ia berdiri sebentar di depan pintu, lalu masuk.
Adel sudah tidur.
Leon tahu dari lampu kamar yang mati dan pintu yang tertutup rapat.
Ia melepas sepatu pelan, lalu duduk di sofa tanpa menyalakan lampu.
Dadanya terasa berat.
Bukan karena capek.
Tapi karena tidak ada siapa pun yang menunggunya pulang.
Di kamarnya, Leon membuka laptop. Laporan belum selesai. Tapi pikirannya tidak mau fokus.
Ia menutup laptop dan menyandarkan kepala.
Ia teringat makan siang itu.
Wajah Adel yang tenang.
Nada suara yang tidak berharap.
Cara Adel berdiri dan pergi tanpa janji.
Dan untuk pertama kalinya, Leon merasa takut.
Bukan takut kehilangan status.
Bukan takut pada keluarga.
Takut benar-benar ditinggalkan.