Rumah sakit selalu terasa sama.
Dingin. Putih. Tenang dengan cara yang melelahkan.
Leon tiba lebih dulu. Ia berdiri di lorong ICU sambil menatap jam di ponselnya, lalu memasukkannya kembali ke saku. Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar.
Adel.
Ia berjalan mendekat dengan tas selempang di bahu. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya terlihat lelah, tapi rapi.
“Kamu lama nunggu?” tanya Adel.
“Enggak,” jawab Leon cepat.
Padahal iya. Tapi rasanya tidak penting.
Mereka berdiri sebentar, lalu masuk bersama.
Mama Reyta terbaring seperti biasa. Tidak ada perubahan besar. Mesin berbunyi pelan, ritmis.
Adel duduk di kursi dekat ranjang dan meraih tangan ibunya. Gerakannya tenang, seperti sudah sangat terbiasa.
Leon berdiri di sisi lain, lalu akhirnya duduk juga.
Tidak ada yang langsung bicara.
Sunyi itu tidak canggung. Hanya berat.
“Aku habis dari studio,” ucap Adel akhirnya. “Ada revisi mendadak.”
Leon mengangguk. “Kamu kelihatan capek.”
“Sedikit.”
Leon ingin menanyakan lebih banyak. Tapi ia menahan diri.
“Aku senang kamu datang,” lanjut Adel pelan. “Mama… kayaknya lebih tenang kalau ada yang nemenin.”
Leon menatap wajah Mama Reyta.
“Iya,” katanya. “Aku juga ngerasa gitu.”
Mereka duduk berdampingan cukup lama.
Leon memperhatikan cara Adel merapikan selimut ibunya. Cara ia mengusap tangan itu pelan, tanpa tergesa.
“Kamu masih sering ke sini sendirian?” tanya Leon.
“Iya,” jawab Adel. “Aku sudah biasa.”
Leon menelan ludah.
“Aku minta maaf,” ucapnya tiba-tiba.
Adel menoleh.