Tidak semua kebenaran datang sekaligus.
Sebagian muncul sebagai potongan kecil—cukup untuk mengganggu, belum cukup untuk menjelaskan.
Pagi itu Adel datang ke rumah sakit lebih awal dari biasanya. Ia membawa kopi sendiri dan duduk di kursi dekat ranjang Mama Reyta. Wajah ibunya terlihat sama, tapi entah kenapa hari itu terasa berbeda.
“Ma,” ucap Adel pelan. “Aku di sini.”
Ia membuka buku catatan kecil dan menulis beberapa hal yang perlu ia lakukan hari itu. Bukan karena sibuk. Tapi karena menulis membuatnya merasa tenang.
Saat ia menutup buku, Pak Radian masuk.
“Pagi, Adel,” sapanya.
“Pagi, Kek.”
Pak Radian berdiri sebentar di sisi ranjang, lalu menoleh ke Adel.
“Ada waktu sebentar?” tanyanya.
Adel mengangguk. “Ada.”
Mereka keluar ke lorong yang lebih sepi. Pak Radian berjalan pelan, seperti memilih kata-katanya.
“Aku ingin kamu tahu satu hal,” katanya akhirnya. “Apa pun yang nanti kamu dengar… kamu tidak melakukan kesalahan.”
Adel menatapnya. “Kedengarannya berat.”
Pak Radian tersenyum tipis. “Karena memang tidak ringan.”
Ia berhenti melangkah.
“Mama Reyta… bukan orang yang hidupnya mudah,” lanjutnya. “Ia menyimpan banyak hal sendirian.”
Adel mengangguk. “Aku tahu.”
“Tapi ada hal-hal yang ia simpan bukan hanya untuk melindungi dirinya,” kata Pak Radian. “Melainkan untuk melindungi orang lain.”
Adel menelan ludah. “Orang lain siapa?”
Pak Radian tidak langsung menjawab.
“Waktunya belum tepat,” katanya. “Aku hanya ingin kamu siap.”
Adel mengangguk kecil. “Kalau sudah siap, aku ingin tahu semuanya. Setengah-setengah justru bikin takut.”
Pak Radian menatapnya lama, lalu mengangguk.
Sore itu Leon datang.
Ia mendapati Adel duduk di bangku lorong, memandangi lantai.